tirto.id - Suara mesin jahit terdengar berulang dari sudut ruang tamu. Di lantai, potongan-potongan kain perca berserakan, sebagian masih berwarna biru khas denim. Di rumah sederhana itu, disudut kota Banda Aceh, Desa Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, limbah tekstil tidak berakhir di tempat sampah.
Di tangan Bunay Ilhamullah (23), jeans bekas justru disulap menjadi barang fesyen bernilai ekonomi. Ada dompet, pakaian, celana, sepatu hingga gantungan kunci. Semuanya lahir dari potongan jeans yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.
Bunay--yang merupakan generasi Z, mulai merintis usaha tersebut ketika masih duduk di bangku kuliah pada 2025. Berawal dari kegemarannya terhadap dunia fesyen, khususnya gaya streetwear, ia kemudian tertarik membuat produk dengan memanfaatkan pakaian bekas. Ide itu muncul dari hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Terpikir, pasti setiap rumah ada jeans yang entah itu kekecilan, robek, sehingga enggak dipakai lagi dan dibuang. Padahal, bahannya masih kuat," kata Bunay sambil terus memerhatikan detail jahitan pada sehelai kain.
Dari situ, Bunay mulai mengolah kembali jeans bekas menjadi produk fesyen melalui brand Bumoe Fabric Art Clothing. Ia memilih denim bukan tanpa alasan. Selain memiliki karakter yang kuat dan tahan lama, produksi celana jeans juga membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar.
"Sayang sekali kalau misalnya orang sudah pakai jeans kemudian dibuang karena tidak muat lagi, sudah tidak suka modelnya, atau warnanya luntur," katanya.
Industri fesyen, terutama fast fashion, mendorong produksi dan konsumsi pakaian dalam jumlah besar. Ketika tren berganti dengan cepat, pakaian yang sebenarnya masih layak digunakan dapat berakhir sebagai limbah.

Mengutip laman Diznew, rata-rata pembuatan sepasang celana jeans membutuhkan sekitar 7.500 liter air atau sekitar 15.000 botol setengah liter . Sebagian besar air tersebut digunakan dalam proses budidaya kapas, sementara sisanya digunakan dalam tahapan produksi seperti pemintalan, penenunan, pewarnaan, penyelesaian dan pencucian pakaian.
Di Indonesia, persoalan limbah tekstil juga menjadi tantangan lingkungan. Mengutip dari laman Indonesia Asri, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat limbah tekstil menyumbang sekitar 2,63 persen dari total sampah di Indonesia. Angka tersebut memang terlihat kecil dibandingkan jenis sampah lainnya. Namun, limbah tekstil memiliki persoalan tersendiri karena sebagian pakaian dibuat menggunakan bahan sintetis yang sulit terurai.
Limbah tekstil juga tidak hanya berupa pakaian yang sudah tidak digunakan, tetapi mencakup sisa potongan kain hingga limbah cair dari proses pewarnaan.
Di tengah persoalan tersebut, Bunay mencoba mengambil bagian melalui konsep penggunaan kembali atau upcycling.
Jeans bekas yang diperolehnya berasal dari masyarakat. Sebagian diberikan secara cuma-cuma, sebagian lainnya dibeli. Ia juga mendapatkan potongan kain dari industri yang memproduksi celana jeans.
Bahan-bahan tersebut kemudian dipilah dan diolah menjadi produk baru. Ada produk yang dibuat menggunakan 100 persen jeans bekas. Ada pula yang dikombinasikan dengan bahan baru, menyesuaikan kebutuhan desain dan produk.
Hasilnya kemudian memiliki nilai ekonomi baru. Gantungan kunci dijual sekitar Rp25 ribu, dompet Rp200 ribu, baju Rp200 ribu, sementara sepatu dan celana masing-masing dibanderol sekitar Rp500 ribu.
Produk Bumoe Fabric Art Clothing dipasarkan melalui toko daring. Bunay juga menitipkan produknya di beberapa toko pakaian di Aceh.
Menariknya, usaha tersebut tidak hanya berangkat dari persoalan lingkungan. Ada pula kegelisahan Bunay terhadap budaya konsumsi pakaian bekas dari luar negeri.
"Saya suka thrifting karena bahannya unik. Daripada kita ambil barang dari luar negeri, kemudian kita beli di sini, mending kita olah produksi sendiri kemudian dibeli oleh orang Indonesia juga," katanya.
Konsep tersebut ternyata mendapat respons positif ketika pertama kali diperkenalkan. Teman-temannya ikut mempromosikan produk yang dibuatnya, bahkan tanpa diminta.
"Kaget juga saya awal-awalnya karena mereka suka style fashion yang saya produksi," ujarnya.
Respons itu menjadi modal penting bagi Bunay untuk terus mengembangkan usaha yang kini telah berjalan hampir dua tahun.
Selain dukungan dari konsumen, pengembangan usahanya juga mendapat pendampingan dari Bank Indonesia. Pendampingan tersebut mencakup pengembangan produk, pemasaran secara digital serta pemanfaatan limbah dan efisiensi energi dalam proses produksi.
Ubah Limbah Jadi Produk Fesyen Tak Gampang

Namun, mengubah limbah menjadi produk fesyen tidak selalu mudah. Sebagian besar produk Bumoe Fabric Art Clothing dibuat secara terbatas. Karena menggunakan bahan bekas dengan motif, warna dan ukuran yang tidak selalu sama, setiap produk cenderung menjadi barang one of one atau memiliki jumlah produksi terbatas. Karakter tersebut menjadi daya tarik sekaligus tantangan.
Produksi yang tidak massal membuat Bunay kesulitan mencari pekerja untuk membantu mengembangkan usahanya. Di sisi lain, pasar lokal juga belum sepenuhnya memberikan apresiasi harga yang tinggi terhadap produk berbahan daur ulang.
"Kalau di luar negeri produk seperti ini nilainya cukup tinggi. Tapi kalau di sini belum bisa dengan harga tinggi," katanya.
Meski demikian, usaha tersebut tetap memberikan pemasukan. Dalam kondisi tertentu, omzet penjualannya dapat mencapai sekitar Rp5 juta. Permintaan biasanya meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri.
Bagi Bunay, setiap potong jeans bekas yang masuk ke ruang produksinya bukan sekadar bahan baku.
Ada air yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi kain tersebut. Ada energi yang telah dikeluarkan. Ada pula pakaian yang sebenarnya masih memiliki umur pakai, tetapi hampir berakhir di tempat pembuangan.
Melalui Bumoe Fabric Art Clothing, ia mencoba memperpanjang umur material tersebut sekaligus memberinya nilai ekonomi baru. Nama "Bumoe" sendiri dipilih karena membawa pesan yang ingin ia tanamkan melalui usahanya.
"Tujuan kami untuk memanfaatkan limbah daripada dibuang ke sungai atau ke mana sehingga merusak alam dan ekosistem. Kami mengolah kembali untuk menyelamatkan bumi," ujarnya.
Di tengah derasnya arus fesyen yang membuat pakaian cepat berganti tren, Bunay memilih jalan berbeda. Ia tidak hanya melihat jeans sebagai pakaian yang sudah tidak terpakai, tetapi sebagai material yang masih bisa diberi kehidupan kedua.
Dari ruang tamu rumahnya, suara mesin jahit terus berputar. Potongan-potongan denim yang sebelumnya dianggap tidak berguna kembali disatukan.
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































