Indeks Periksa Fakta Kesehatan

Salah, WEF Sebut Usulkan Vaksin Dicampur ke dalam Air Minum
Dalam konferensi WEF Mariana Mazzucato menyampaikan perihal air sebagai kepentingan global. Ia tidak pernah mengusulkan agar vaksin dicampur ke dalam air.

Salah, Cium Kucing Sebabkan Parasit Masuk Otak dan Ubah Perilaku
Penularan Toxoplasma dan Toxocara berkaitan dengan tertelannya parasit atau telur dari kotoran hewan, makanan, air, dan tanah, bukan dengan mencium kucing.

Keliru, Vaksin COVID Picu Depopulasi & Pergeseran Pola Kematian
Hingga kini tidak ditemukan bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan kematian massal atau bergesernya pola kematian masyarakat.

Salah, Mengonsumsi Undur-Undur Dapat Menyembuhkan Diabetes
Penelitian mengenai efek antidiabetes undur-undur, sejauh ini masih terbatas penelitian praklinis pada hewan, dan belum terbukti efektif pada manusia.

Hoaks, Tautan Link Pendaftaran Cek Kesehatan Gratis (CKG)
Melalui analisis URLScan.io, diketahui situs web tersebut adalah milik Cloudflare, Inc., sebuah perusahaan teknologi asal AS, bukan milik pemerintah RI.

Salah, Air Nanas Panas Dapat Sembuhkan Kanker dan Penyakit Berat
Hingga kini belum ditemukan bukti ilmiah yang valid atau konsensus medis yang menyatakan bahwa air nanas panas dapat menyembuhkan kanker, tumor, atau kista.

Tidak Benar, Vaksin Cacar Air Sebabkan Pandemi Shingles
Vaksin cacar air justru menurunkan sirkulasi virus di masyarakat secara keseluruhan. Menurut CDC, vaksin terbukti mencegah komplikasi berat dari cacar air.

Keliru, Bayi 2,5 Bulan di Jepara Meninggal karena Imunisasi DPT
Hasil investigasi Komnas PP KIPI & Dinkes Kab. Jepara menegaskan kematian bayi itu tidak berkaitan dengan vaksinasi DPT 1 atau kesalahan prosedur medis.

Salah, Cek Kesehatan Gratis sebagai Agenda Plandemi Jilid 2
Tidak ditemukan bukti bahwa data kesehatan tersebut dijual kepada investor atau dikumpulkan untuk menciptakan pandemi baru.

Keliru, Bahaya Vaksin HPV Gardasil 9 untuk Anak Laki-Laki
Pendidikan kesehatan seksual penting, tapi tidak punya fungsi sama dengan vaksinasi. Keduanya tidak tepat diposisikan sebagai hal yang saling menggantikan.

Keliru, Sejumlah Klaim Terkait Vaksin Human Papillomavirus Anak
Kemenkes menjelaskan, vaksin HPV dipastikan aman. Efek samping yang umum terjadi antara lain nyeri, kemerahan atau pembengkakan di lokasi suntikan, & demam.

Salah, Vaksin HPV Adalah Upaya Depopulasi & Sterilisasi Anak
Tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin HPV menyebabkan infertilitas, merusak organ reproduksi, maupun digunakan untuk mengurangi populasi.

Hoaks, Snack Luppo Produk Israel Mengandung Pil Kelumpuhan
Faktanya produk Luppo adalah produk perusahaan asal Turki. Tidak ada bukti bahwa pil dalam video merupakan bagian dari Luppo atau dapat sebabkan kelumpuhan.

Keliru, Vaksin Hepatitis B Berbahaya & Sebabkan Kematian Bayi
Bukti keamanan yang ditinjau CDC justru tidak menemukan perbedaan kematian antara bayi yang menerima vaksin Hepatitis B dan yang tidak menerima vaksin.

Tidak Benar, Efek Samping Vaksin DPT Daptacel Disembunyikan
Faktanya, informasi mengenai potensi kejadian setelah vaksinasi dan informasi produk vaksin DPT merk Daptacel tersedia untuk publik.

Sebagian Salah, Bahaya Konsumsi Air Rebusan Mie Instan
Air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut. Keruhnya air, karena larutnya pati tepung terigu & minyak goreng dari proses produksi.

Salah, Vaksin COVID-19 Sebabkan Kematian Pelari dan Pendaki
Berbagai literatur medis menegaskan, berolahraga pasca-vaksinasi adalah hal yang aman, selama tidak mengalami efek samping berat, seperti demam tinggi.

Keliru, Video Bill Gates Sebut Vaksin COVID-19 Akan Mengubah DNA
Bill and Melinda Gates Foundation serta para ahli medis menegaskan, Gates tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa vaksin dapat mengubah DNA.

Salah, Vaksin HPV Sebabkan Autoimun, Vaskulitis, hingga Kematian
Faktanya, tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa vaksin HPV menyebabkan vaskulitis serebral atau kematian.

Hoaks, Rekayasa Vaksin Hantavirus Dibuat Moderna sejak 2023
Tahun 2023, Korea University dan Moderna menandatangani perjanjian riset untuk mengembangkan vaksin hantavirus, bukan untuk merekayasa adanya virus hanta.
Masuk tirto.id








