Menuju konten utama

Salah, Vaksin HPV Sebabkan Autoimun, Vaskulitis, hingga Kematian

Faktanya, tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa vaksin HPV menyebabkan vaskulitis serebral atau kematian.

Salah, Vaksin HPV Sebabkan Autoimun, Vaskulitis, hingga Kematian
HEADER periksa fakta vaksin HPV dapat bocor ke sirkulasi darah. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim sebuah penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) dapat bocor ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke otak, serta organ yang berpotensi menyebabkan serangan autoimun, termasuk kematian.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Abu Julaibib” (arsip) pada Selasa (29/7/2025). Dalam unggahan tersebut menampilkan gambar tangkapan layar artikel yang ditulis oleh Pharmaceutical Regulatory Affairs: Open Access dengan judul Death after Quadrivalent Human Papillomavirus (HPV) Vaccination: Causal or Coincidental?.

Kemudian pengunggah menambahkan keterangan dalam unggahan yang menyebutkan vaksin HPV dapat menyebabkan autoimun dan kematian.

Komponen vaksin HPV dapat bocor ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke otak dan organ yang berpotensi menyebabkan serangan autoimun dan kematian berikutnya, demikian temuan para ilmuwan.” Begitu keterangan dalam unggahan.

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (28/7/2026) unggahan tersebut telah mendapatkan 11 likes, 2 komentar, dan 3 kali dibagikan ulang.

Lantas, benarkah vaksin HPV dapat menyebabkan autoimun, vaskulitis, dan kematian?

periksa fakta vaksin HPV

periksa fakta vaksin HPV dapat bocor ke sirkulasi darah.

Penelusuran Fakta

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya mengarah pada artikel asli Pharmaceutical Regulatory Affairs: Open Access dengan judul Death after Quadrivalent Human Papillomavirus (HPV) Vaccination: Causal or Coincidental?

Dalam jurnal tersebut dilaporkan tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa vaksin HPV menyebabkan vaskulitis serebral atau kematian, bukan menyatakan vaksin HPV sebagai penyebabnya.

Tinjauan yang dilakukan oleh kelompok kerja yang melibatkan para ahli dari CDC, FDA, dan berbagai institusi akademik menemukan bahwa klaim dalam publikasi yang melaporkan dua kasus kematian setelah vaksinasi HPV memiliki kelemahan metodologis yang signifikan, baik dalam penegakan diagnosis vaskulitis maupun pada pemeriksaan laboratorium yang digunakan.

Selain itu, data dari sistem pelaporan efek samping vaksin (VAERS) dan literatur medis yang tersedia tidak menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dengan vaskulitis serebral. Adapun efek samping vaksin HPV yang telah dikenal umumnya bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan, demam ringan, sakit kepala, kelelahan, serta nyeri otot atau sendi, sedangkan kejadian serius seperti reaksi alergi berat sangat jarang terjadi.

Jurnal Death after Quadrivalent Human Papillomavirus (HPV) Vaccination: Causal or Coincidental? yang ditulis oleh Tomljenovic & Shaw, 2012 menganalisis dua kasus kematian remaja perempuan yang terjadi setelah menerima vaksin HPV (Gardasil) untuk menilai apakah kematian tersebut berkaitan dengan vaksinasi.

Melalui pemeriksaan imunohistokimia (IHC) pada jaringan otak hasil autopsi, penulis mengklaim menemukan tanda-tanda reaksi autoimun berupa vaskulitis serebral, termasuk keberadaan antigen HPV-16L1 dan aktivasi sistem imun pada dinding pembuluh darah otak. Berdasarkan temuan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa vaksin HPV berpotensi memicu vaskulitis serebral autoimun yang fatal serta menduga sebagian efek samping neurologis pasca vaksinasi mungkin tidak terdiagnosis.

Namun, kesimpulan ini tidak diterima oleh konsensus ilmiah karena dinilai memiliki kelemahan metodologis, seperti penggunaan metode yang dianggap tidak memadai untuk mengidentifikasi partikel virus, tidak adanya bukti histopatologi khas vaskulitis, serta tidak menggunakan sampel kontrol yang memadai.

CDC, FDA, dan para ahli keselamatan vaksin menyatakan bahwa jurnal ini tidak memberikan bukti yang cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dan kematian.

Centers For Disease Control and Prevention, juga melakukan tinjauan terhadap laporan yang telah dipublikasikan mengenai vaskulitis serebral setelah vaksinasi dengan Vaksin Human Papillomavirus (HPV). Hasilnya, setelah peninjauan dan diskusi menyeluruh terhadap artikel Tomljenovic, kelompok kerja CDC-CISA mengidentifikasi kekhawatiran metodologis yang substansial dan kurangnya bukti untuk mendukung kesimpulan vaksin HPV dapat menyebabkan vaskulitis.

Sebagaimana diwartakan Tirto, produksi dan penyaluran vaksin HPV juga dipantau secara ketat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) selama bertahun-tahun. Kendati demikian, sama seperti vaksin lainnya seseorang yang menerima vaksin HPV bisa mengembangkan efek samping.

Adapun beberapa efek samping yang bisa dialami penerima vaksin HPV setelah suntikan pertama. Dikutip dari laman Badan Layanan Kesehatan Inggris (NHS) beriku beberapa bentuk efek samping vaksinasi HPV dari yang paling sering hingga paling jarang:

1. Efek samping vaksinasi HPV paling sering terjadi (1:10 orang)

  • nyeri, kemerahan, dan bengkak di area suntikan selama beberapa hari
  • sakit kepala ringan yang berlangsung singkat
2. Efek samping vaksinasi HPV sering terjadi (1:100 orang)

  • memar atau gatal di tempat suntikan
  • suhu tinggi, merasa panas dan menggigil
  • tidak enak badan dan mual
  • rasa sakit di lengan, tangan, jari, kaki, atau jari kaki
3. Efek samping vaksinasi HPV jarang terjadi (1:1.000 orang)

  • timbul ruam merah di kulit
  • gatal-gatal
4. Efek samping vaksinasi HPV sangat langka (1:10.000 orang)

  • penyempitan saluran udara
  • sesak napas atau kesulitan bernapas
  • reaksi alergi atau anafilaksis
Pemberian vaksin HPV berfungsi untuk membangun kekebalan tubuh terhadap infeksi human papillomavirus. Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) virus HPV memiliki banyak tipe, termasuk yang paling umum adalah HPV tipe 16 dan 18.

"HPV ini untuk mencegah kanker serviks ya yang bisa dicegah dengan imunisasi. Programnya akan berlanjut, bukan hanya kepada yang anak-anak tetapi kepada seluruh,” kata Juru bicara Kemenkes, Mohammad Syahril saat ditemui di kantor Kemenkes RI, Jakarta Selatan, Rabu (24/5/2023), sebagaimana dikutip dari artikel Tirto.

Dengan demikian, pernyataan bahwa vaksin HPV bocor ke otak dan menyebabkan kematian adalah disinformasi medis.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) dapat menyebabkan autoimun, vaskulitis, dan kematian adalah informasi yang tidak utuh dan perlu diluruskan (missing context).

Artikel ilmiah tahun 2012 yang dicantumkan tersebut telah ditarik (retracted) dan ditolak oleh WHO karena metodologinya buruk dan datanya dimanipulasi oleh penulis anti-vaksin.

Faktanya, tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa vaksin HPV menyebabkan vaskulitis serebral atau kematian. CDC juga telah menyatakan bahwa jurnal tersebut kekurangan bukti untuk mendukung kesimpulan bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan vaskulitis.

Adapun efek samping dari vaksin HPV umumnya bersifat ringan dan cepat hilang, meliputi nyeri pada bekas suntikan, demam ringan, serta sakit kepala.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto