tirto.id - Sebuah unggahan video beredar di media sosial Facebook mengklaim vaksin hantavirus telah dikembangkan oleh Moderna sejak 2023 menggunakan teknologi mRNA seperti pada vaksin COVID-19.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Atta Yilmaz,” (arsip) pada Jumat (15/5/2026). Cuplikan video berdurasi 13 detik tersebut menampilkan tangkapan layar dari sumber Pharmatech yang mengatakan bahwa bioteknologi Moderna mengembangkan vaksin hantavirus sejak 2023. Termasuk, sumber dari Bloomberg yang memuat penjelasan terkait HPS dan Daily yang menjelaskan bahwa Moderna memanfaatkan teknologi mRNA untuk mengembangkan vaksin saat penyebaran hantavirus menjadi perhatian global.
“VAKSIN HANTAVIRUS TERNYATA DIBUAT MODERNA SEJAK TAHUN 2023.” Begitu narasi tertulis dalam gambar.
Pengunggah juga menambahkan keterangan dalam unggahan, “Di tengah meningkatkan perhatian dunia terhadap hantavirus, Moderna ternyata sudah mengembangkan vaksin untuk hantavirus tersebut sejak 2023. Vaksin ini dibuat menggunakan teknologi mRNA, teknologi yang sebelumnya digunakan dalam vaksin COVID-19.
KATA mereka untuk NAKUT"in anda bahwa hantavirus sendiri dikenal sebagai virus yang menyebar melalui tikus luar dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan seriyus dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.
NARASI PARA TIKUS YANG SESUNGGUHNYA.
UNTUK MENGERUK UANG ANDA MELALUI JUALAN VAKSIN.”
Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (24/7/2026), unggahan tersebut masih beredar di media sosial. Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @wigalan9 dan TikTok @carapandang, yang menampilkan gambar dan klaim serupa terkait vaksin hantavirus telah dibuat sejak 2023.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Penelusuran Fakta
Untuk menelusuri kebenaran klaim tersebut, Tirto melakukan riset secara daring dengan membaca artikel-artikel dari sumber yang kredibel, yang bisa memverifikasi klaim tersebut.
Artikel berjudul "Hantaviruses" pada laman ScienceDirect, menuliskan bahwa sebuah riset yang dilakukan Mohammed A. Mir, peneliti Kansas University Medical Center, terbitan tahun 2010, mengungkapkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS) menyerang lebih dari 3.000 pasukan PBB saat Perang Korea pada kurun 1951 sampai 1953. Rentetan kasus mematikan ini mendorong para ilmuwan melacak asal-usul penyakit.
Hasilnya, pada 1978 peneliti berhasil mengisolasi virus penyebab demam tersebut dari tikus yang terinfeksi di sekitar Sungai Hantan, Korea Selatan. Temuan itu kemudian dinamai virus Hantaan, merujuk pada nama sungai tersebut, sebelum akhirnya diklasifikasikan dalam genus baru bernama Hantavirus pada 1981.
Kemudian, artikel pada laman Centers for Disease Control berjudul “COVID-19 vs. Hantavirus Pulmonary Syndrome” merangkum perbedaan mendasar antara Covid-19 dan hantavirus pemicu Sindrom Paru Hantavirus (HPS). Dari aspek historis, Covid-19 baru teridentifikasi pada 2019 di Wuhan, Cina. Sebaliknya, wabah virus hanta telah terlacak sejak era 1950-an di Korea Selatan sebelum akhirnya berhasil diisolasi dan dikenali pada 1978.
Pola penularan dan struktur biologis kedua virus ini juga bertolak belakang. Covid-19 menyebar secara massal lewat percikan cairan saluran pernapasan atau droplet. Sementara itu, manusia tertular HPS akibat menghirup udara atau debu yang terkontaminasi kotoran, urine, atau air liur tikus pembawa virus.
Dengan demikian, kasus penumpang kapal pesiar MV Hondimus yang terinfeksi virus Hanta pada 2026 bukanlah infeksi pertama. Virus Hanta telah ada sejak 1951-1953 saat terjadi wabah demam berdarah di Korea Selatan. Pengembangan vaksin untuk menangani virus tersebut bahkan telah diinisiasi oleh ilmuwan Korea Selatan sejak 1990.
Laman Korea University yang ditulis pada 25 Juli 2024, menjelaskan bahwa Pusat Inovasi Vaksin di Fakultas Kedokteran Universitas Korea (VIC-K, Direktur Heejin Cheong) telah menjalin kerja sama skala penuh dengan perusahaan farmasi global Moderna untuk mengembangkan vaksin hantavirus berbasis mRNA.
Vaksin virus Hanta itu dikembangkan oleh tim Profesor Ho Wang Lee dan digunakan di Asia Timur, khususnya Korea Selatan. Vaksin tersebut bahkan telah mendapat izin sejak 1990.
Lee sendiri adalah seorang virolog yang mengisolasi virus Hanta dari tikus di dekat Sungai Hantan pada awal 1980-an. Virus ini memicu wabah Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal (HFRS) saat Perang Korea (1951-1954) yang menginfeksi sedikitnya 3.000 tentara.
Lebih lanjut, strain virus Hanta terus berkembang hingga 22 strain diantaranya bersifat patogen bagi manusia. Selain memicu HFRS, virus Hanta menyebabkan Sindrom Paru Hantavirus (HPS) yang memiliki tingkat kematian lebih tinggi. Sebaran HPS mendominasi di Benua Amerika, sedangkan HFRS lebih banyak mewabah di Asia dan Eropa.
Akhirnya, Pusat Inovasi Vaksin Korea University bersama dengan perusahaan bioteknologi Moderna mengembangkan vaksin virus Hanta berbasis mRNA pada September 2023 untuk mengatasi berbagai strain virus tersebut.
Dalam laman Tempo, virolog Universitas Airlangga, Dr Arif Nur Muhammad Ansori, menyebut Moderna memiliki program riset dan pengembangan berbasis teknologi mRNA skala besar sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi pandemi global.
“Tapi sampai sekarang, Moderna belum memiliki produk vaksin virus Hanta komersial yang telah disetujui untuk digunakan secara massal,” kata Arif.
Menurut Dicky pengembangan vaksin belum menjadi prioritas utama. Sebab, pengendalian populasi tikus tetap menjadi langkah paling efektif untuk memutus rantai penyebaran virus. “Vaksin dapat diberikan kepada kelompok berisiko tinggi seperti tentara atau petugas kebersihan,” begitu keterangan Dicky, dikutip dari Tempo, Selasa, 26 Mei 2026.
Dengan demikian klaim yang menyebutkan virus hanta dibuat Moderna sejak 2023 adalah keliru dan perlu diluruskan. Faktanya, vaksin hanta telah mendapat izin untuk digunakan di Asia Timur sejak 1990, sedangkan kolaborasi Korea University dengan Moderna sejak 2023 baru sebatas pengembangan berbasis mRNA.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebut Moderna telah menyiapkan vaksin sejak 2023 untuk merekayasa virus hanta adalah informasi yang tidak utuh dan perlu diluruskan (missing context).
Faktanya virus hanta pertama kali menarik perhatian dunia medis pada awal tahun 1950-an di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan, saat menginfeksi ribuan pasukan ketika Perang Korea (1951–1953).
Vaksin hanta telah mendapatkan izin penggunaan sejak 1990 dan pada bulan September 2023, Korea University dan perusahaan bioteknologi AS Moderna menandatangani perjanjian kerja sama riset untuk mengembangkan vaksin berbasis mRNA terhadap virus Hanta (hantavirus), bukan untuk merekayasa adanya virus hanta.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































