Menuju konten utama

Tidak Benar, Gambar Korban Hantavirus di Jakarta

Faktanya, gambar itu merupakan potongan video behind the scene dari serial berjudul "Rabies" yang ditayangkan GMA Network, Filipina.

Tidak Benar, Gambar Korban Hantavirus di Jakarta
Periksa Fakta Kasus hantavirus di Jakarta. Foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim Dinas Kesehatan DKI Jakarta menemukan 4 kasus hantavirus dan menunjukkan gambar seorang perempuan yang diklaim sebagai korban hantavirus.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Peserta anonim” (arsip) pada Sabtu (16/05/2026). Unggahan tersebut memperlihatkan gambar wanita berbaju hitam yang terbaring di ranjang rumah sakit seperti mengalami kondisi darurat medis, hingga mengeluarkan busa dari mulutnya.

BREAKING NEWS. Virus Baru Lagi? Warga Diminta Waspada!” TIMOTHYSHORTFORM. DINKES DKI TEMUKAN 4 KASUS HANTAVIRUS DI JAKARTA, MINTA WARGA WASPADA!” Begitu klaim tertulis dalam gambar.

Pengunggah juga menuliskan keterangan dalam unggahan, “Kalau masuk Alor ujung2 nanti PPPK PW dong yang kerja setengah mati. Tapi dong pu kesejahteraan kam tidak perhatikan.”

Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (19/06/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 93 likes, 34 komentar, dan 2 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi reaksi ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin dan sebagian menuliskan bahwa vaksin adalah bisnis elit global.

Bisnis Elit global sekaligus misi kontrol populasi. Belajar dari pengalaman kemarin.” Begitu tulis salah satu komentar.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Josick Taslulu,” “Alor Nusa Kenari,” dan akun TikTok @al_afiliate123 dan @urbanizen yang menggabungkan gambar yang beredar dengan reportase berita.

Lantas, benarkah foto tersebut merupakan gambar dari korban hantavirus di Jakarta?

Periksa Fakta Kasus hantavirus di Jakarta

Periksa Fakta Kasus hantavirus di Jakarta. foto/hotline periksa fakta tirto

Penelusuran Fakta

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

Kami justru diarahkan pada unggahan pada akun Facebook “Wish Ko Lang,” pada 13 Juni 2025. Faktanya, gambar yang beredar merupakan potongan dari video yang diunggah oleh akun tersebut. Video itu adalah proses di belakang layar dari serial berjudul “Rabies” yang tayang setiap Sabtu pukul 16.00 waktu setempat. Video itu sama sekali tidak berhubungan dengan kasus hantavirus di Indonesia.

Sebagai informasi, Wish Ko Lang! adalah program televisi layanan publik dan drama antologi populer asal Filipina yang tayang di jaringan GMA Network. Dipandu oleh jurnalis Vicky Morales, acara ini terkenal sebagai program televisi pertama di Filipina yang berfokus membantu mengabulkan permohonan atau keinginan orang-orang yang kurang mampu atau sedang menghadapi kesulitan hidup.

Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Dinkes sebut korban hantavirus di Jakarta,” pada mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah pada laman detikNews, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengungkap temuan empat kasus hantavirus di Jakarta sepanjang 2026. Dinkes DKI menyampaikan tiga orang di antaranya sudah sembuh dan satu masih suspek.

Di 2026 yang ada di catatan kami sepanjang 2026, sampai sekarang ini ada empat kasus yang sudah kita temukan, tiga orangnya sudah sembuh, bergejala ringan. Satu orangnya sekarang masih suspek, harus ditetapkan penegakan diagnosisnya melalui laboratorium, belum tegak (pasti), masih suspek,” begitu keterangan Ani di DPRD DKI Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ani menjelaskan hantavirus bukan penyakit baru. Virus tersebut sudah lama dimonitor dan berbeda dengan COVID-19 yang tergolong penyakit baru atau new emerging disease.

Dia menerangkan penularan hantavirus umumnya berasal dari tikus ke manusia, melalui air liur, air seni, atau kotoran tikus yang mencemari lingkungan, dan terhirup manusia.

Penularannya melalui tikus, air liur, air seni, kotoran tikus, yang terkontaminasi ke manusia atau kemudian debunya terhirup oleh manusia,” begitu jelas Ani.

Ani mengatakan terdapat banyak varian hantavirus. Namun, varian yang dapat menular antar manusia hanya jenis Andes, yang ditemukan di Amerika Selatan, dan hingga kini belum ditemukan di Indonesia.

Melansir laman Kementerian Kesehatan RI, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, menyampaikan bahwa hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS). Kasus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan, dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025, dan 5 kasus hingga Mei 2026.

Kemenkes melalui Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah terus memantau secara ketat kontak erat kasus hantavirus di wilayah DKI Jakarta. Meski sempat menjadi perhatian publik, Menkes menegaskan bahwa virus ini tidak mudah menular antar manusia seperti COVID-19.

Di Jakarta, kasus hantavirus terkonfirmasi diderita tiga pasien dan enam kasus suspek pada 20 Mei 2026. Meski demikian, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, mengatakan bahwa kasus hantavirus di Jakarta tetap terkendali.

Kita akan pantau sampai benar-benar yakin dan bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan sudah aman,” begitu keterangan Menkes Budi dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (12/5/2026).

Dalam rangkuman Tirto, infeksi hantavirus pada manusia umumnya disebabkan oleh kontak antara manusia dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Hewan pengerat macam tikus dan mencit merupakan inang alami bagi virus ini.

Penelitian dan dokumentasi medis menunjukkan bahwa infeksi hantavirus berpotensi tinggi terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi.

Kontak manusia dengan hewan pengerat yang terinfeksi itu merupakan penyebab utama dari penyakit hantavirus. Sementara itu, tingkat penularan hantavirus dari manusia ke manusia digolongkan sebagai sangat jarang terjadi.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam mencegah perkembangbiakan tikus di rumah, rumah makan, maupun tempat kerja.

Dengan demikian, klaim yang menyebutkan gambar yang beredar merupakan korban hantavirus di Jakarta adalah tidak benar dan tidak didukung dengan fakta.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa gambar perempuan yang beredar merupakan korban hantavirus di Jakarta adalah informasi yang tidak utuh (missing context).

Dinkes DKI memang menyampaikan adanya korban hantavirus sebanyak empat orang, tiga diantaranya sudah sembuh, dan satu masih suspek. Namun, gambar yang beredar tidak ada kaitannya dengan korban hantavirus tersebut.

Faktanya, gambar yang beredar merupakan potongan dari video yang diunggah oleh akun Facebook "Wish Ko Lang" pada 13 Juni 2025. Video tersebut menampilkan proses di belakang layar atau behind the scene dari serial berjudul “Rabies” dalam program TV Wish Ko Lang! yang tayang setiap Sabtu pukul 16.00 waktu setempat. Video itu sama sekali tidak berhubungan dengan kasus hantavirus di Indonesia.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait KEMENKES atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto