tirto.id - Wabah hantavirus diduga menyebar di sebuah kapal pesiar mewah MV Hondius. Tiga orang penumpang telah tewas dan kasus kematiannya dikaitkan dengan virus tersebut.
Sejauh ini ada tujuh kasus infeksi hantavirus yang diidentifikasi di atas kapal. Namun, apa itu hantavirus, apa penyebabnya, dan bagaimana virus ini menyebar?
Seturut CBC, dugaan wabah hantavirus di atas kapal MV Hondius telah menyita perhatian banyak orang. Kasus ini banyak mengingatkan dengan awal mula wabah Covid-19 yang telah berdampak parah terhadap umat manusia.
Kekhawatiran itu meningkat lantaran hantavirus yang mewabah di MV Hondius diduga dapat menular dari manusia ke manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pada Selasa (5/5/2026) penularan dari manusia ke manusia diduga telah menjadi penyebab mengapa virus ini mewabah di kapal pesiar mewah tersebut.
Hantavirus sendiri merupakan patogen yang tergolong langka tetapi bisa jadi mematikan bagi manusia. Infeksi virus ini diklasifikasikan sebagai penyakit zoonosis alias bersumber dari hewan, seperti flu burung, Covid-19, atau rabies.
Virus ini sebenarnya telah ditemukan dan terdokumentasi oleh manusia selama berabad-abad. Semula, hantavirus ditemukan di wilayah Eropa dan Asia—disebut hantavirus dunia lama. Kemudian, pada dekade 1990-an, varian baru hantavirus ditemukan di kawasan Amerika—disebut hantavirus dunia baru.
Dampak infeksi dua jenis hantavirus itu juga berbeda. Hantavirus dunia lama dikenal dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS). Penyakit ini tergolong parah dan terkadang mematikan, biasanya berkembang dalam 1 hingga 2 minggu setelah terpapar dan dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.
Sementara hantavirus dunia baru memiliki potensi untuk menyerang paru-paru, membuat pengidapnya terkena sindrom paru hantavirus (HPS). Penyakit ini juga tergolong parah dan berpotensi mematikan yang mampu menyebabkan demam, pusing, masalah perut, hingga sesak napas karena paru-parunya terisi cairan.
Berkaca dari kasus hantavirus di kapal MV Hondius, para korban tewas sempat mengeluhkan demam dan kesulitan bernapas sebelum meninggal dunia.
Meskipun mengkhawatirkan, namun WHO menyebut bahwa risiko meluasnya wabah hantavirus ke masyarakat umum masih tergolong kecil. Hal ini dikarenakan hasil penelitian saat ini menunjukkan bahwa virus ini lebih sulit menyebar, tidak seperti flu.
"Jadi virus ini—setidaknya saat ini—tampaknya tidak sebesar risiko flu," kata Dr. Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO pada Selasa.
Akan tetapi, bagaimana hantavirus dapat menular ke MV Hondius merupakan pertanyaan yang menyita perhatian publik. Hal tersebut lantaran virus ini semula dikenal hanya punya kemungkinan kecil menular dari manusia ke manusia, sementara wabah di MV Hondius tampak tak seperti itu.
Penyebab Hantavirus dan Cara Penularannya
Seturut rilis resmi WHO pada Senin (4/5), infeksi hantavirus pada manusia umumnya disebabkan oleh kontak antara manusia dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Hewan pengerat macam tikus dan mencit merupakan inang alami bagi virus ini.
Penelitian dan dokumentasi medis menunjukkan bahwa infeksi hantavirus berpotensi tinggi terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi.
Kontak manusia dengan hewan pengerat yang terinfeksi itu merupakan penyebab utama dari penyakit hantavirus. Sementara itu, tingkat penularan hantavirus dari manusia ke manusia digolongkan sebagai sangat jarang terjadi.
Pada hantavirus dunia lama, patogen ini dikategorikan tidak menular dari manusia ke manusia. Sementara pada hantavirus dunia baru, ada sebagian strain hantavirus yang telah memiliki kemampuan untuk menular dari manusia ke manusia.
Strain hantavirus yang dapat menular dari manusia ke manusia itu dikenal sebagai varian Andes. Varian ini tergolong jenis hantavirus dunia baru yang ditemukan di seluruh kawasan Amerika, termasuk Argentina—tempat MV Hondius memulai perjalanan melintasi Samudra Atlantik.
Hantavirus varian Andes ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi dengan 40 persen kasus infeksi varian Andes berakhir dengan kematian. Ciri lain yang muncul dari infeksi varian ini adalah gejala yang baru muncul setelah berminggu-minggu dan pada akhirnya memburuk dengan cepat.
Jika melihat gejala yang nampak terjadi pada para penumpang MV Hondius, terdapat kemiripan dampak fisik infeksi mereka dengan gejala pada infeksi varian Andes. Gejala tersebut meliputi demam, gangguan pencernaan, pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, dan syok.
Pada penumpang pertama yang tewas, gejala yang sempat dikeluhkan antara lain kesulitan bernapas, sakit kepala, demam, dan diare ringan. Pada penumpang kedua yang tewas, gangguan pencernaan jadi gejala yang paling sering muncul. Sedangkan pada penumpang ketiga yang tewas, gejala yang muncul meliputi demam dan perasaan tak enak badan secara umum.
Bagaimana hantavirus dapat menular di antara para penumpang MV Hondius masih dalam tahap penelitian dan penyelidikan. Namun, ahli virologi dari Organisasi Vaksin dan Penyakit Menular Universitas Saskatchewan, Angela Rasmussen, menyebut bahwa wabah yang meluas di kapal sebenarnya kerap terjadi.
Menurut Rasmussen, kapal pesiar merupakan ruang sempit yang terisolasi dengan fasilitas umum yang terpusat. Hal tersebut membuat penyebaran infeksi virus berpotensi lebih tinggi terjadi di kapal.
“Kapal pesiar adalah lingkungan di mana orang-orang terisolasi di satu tempat. Mereka berbagi infrastruktur umum, seperti saluran air … mereka berbagi udara dan ruang dalam ruangan yang sama,” kata Rasmussen.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































