Menuju konten utama

Hantavirus Menyebabkan Penyakit Apa & Bisakah Sembuh?

Berikut informasi terkait hantavirus yang menyebabkan tiga orang meninggal dan sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius mengalami gangguan napas.

Hantavirus Menyebabkan Penyakit Apa & Bisakah Sembuh?
Ilustrasi hantavirus. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus hantavirus sedang jadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) usai muncul dugaan wabah di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius di lepas pantai Praia, Tanjung Verde, Afrika. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia sementara beberapa penumpang mengalami gangguan pernapasan akut selama pelayaran.

Infeksi hantavirus memang tergolong jarang secara global, tetapi penyakit ini memiliki tingkat kematian cukup tinggi. Publikasi terbaru WHO pada 5 Mei 2026 memperkirakan ada sekitar 10.000 hingga lebih dari 100.000 kasus infeksi hantavirus setiap tahun.

Di Asia dan Eropa, tingkat kematian akibat hantavirus kurang dari 1 hingga 15 persen. Sebaliknya, di wilayah Amerika, tingkat kematian akibat hantavirus mencapai 20 hingga 50 persen, terutama pada kasus berat saat sistem pernapasan diserang oleh virus tersebut.

Hantavirus merupakan kelompok virus dari hewan pengerat, terutama tikus, lalu menular ke manusia via partikel udara terkontaminasi kotoran, urin, atau air liur tikus. Penularan umumnya terjadi saat seseorang menghirup debu di area tertutup seperti gudang, ruang bawah tanah, atau bangunan lama dengan populasi tikus tinggi.

Apakah Hantavirus Bisa Sembuh?

Bicara soal peluang kesembuhan, data penelitian menunjukkan adanya variasi hasil yang sangat bergantung pada varian hantavirus dan kecepatan penanganan medis.

Salah satu rujukan utama WHO yakni penelitian berjudul Seroprevalensi Infeksi Hantavirus di Wilayah Non-Epidemik Selama Empat Dekade: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis. Riset dari Fernando Tortosa dan kolega tersebut dipublikasi di jurnal BMC Public Health sejak September 2024.

Dalam penelitian diungkap bahwa di berbagai belahan dunia banyak orang sudah memiliki antibodi hantavirus di darahnya, tapi tidak pernah mengalami sakit parah. Kondisi tersebut menandakan terjadinya infeksi asimtomatik, situasi saat seseorang pernah terinfeksi virus tapi tidak ada gejala sakit sama sekali atau hanya mengalami gejala ringan tanpa diagnosis medis.

Alhasil, sistem kekebalan tubuh manusia disebut mampu melawan hantavirus pada tingkat paparan tertentu tanpa perlu perawatan intensif.

Namun, situasi berubah apabila infeksi berkembang jadi gejala berat dengan tingkat kematian cukup tinggi. Di benua Amerika, beberapa varian hantavirus memiliki tingkat kematian hingga 50 persen.

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus spesifik untuk menyembuhkan hantavirus secara instan. Karena itu, peluang kesembuhan pasien hantavirus dengan gejala berat sangat bergantung pada perawatan di rumah sakit guna menjaga fungsi organ tubuh tetap stabil.

Penelitian juga menyoroti virus Andes (ANDV) sebagai salah satu varian hantavirus mematikan di Amerika Selatan. Karakteristiknya unik karena mampu menular antarmanusia, di mana penularan umumnya terjadi melalui kontak sangat dekat dalam lingkungan rumah tangga.

Gejala Hantavirus

Masih mengacu pada riset yang sama, gejala infeksi hantavirus bergantung pada jenis sindrom klinis dan wilayah geografis tempat penderita terpapar virus.

Di Asia dan Eropa, penderita umumnya mengalami hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Penderita mengalami demam berdarah disertai gangguan fungsi ginjal secara mendadak. Gejala awal biasanya berupa demam tinggi diikuti tanda kerusakan ginjal atau gangguan sistemik lain.

Beberapa studi klinis juga mencatat trombositopenia pada pasien terinfeksi hantavirus, kondisi saat jumlah keping darah atau trombosit menurun drastis sampai mengganggu proses pembekuan darah lalu memicu perdarahan.

Sementara di Amerika, infeksi hantavirus lebih sering muncul dalam bentuk cardiopulmonary syndrome (HCPS), situasi saat virus menyerang sistem pernapasan dan jantung secara agresif.

Gejala paling mencolok berupa sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru serta gangguan fungsi jantung hingga memicu syok. Karena gejala awal sering menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, dan kelelahan, banyak penderita telat menyadari infeksi hantavirus.

Masyarakat perlu waspada apabila mengalami demam tinggi disertai sesak napas atau gangguan berkemih, terutama setelah kontak dengan tikus atau beraktivitas di area kotor seperti gudang dan lahan pertanian.

Cara Mencegah Infeksi Hantavirus

Langkah pencegahan hantavirus paling efektif yakni memutus rantai kontak antara manusia dan hewan pengerat pembawa virus. Infeksi pada manusia paling sering terjadi saat menghirup aerosol dari limbah tikus. Aerosol artinya partikel cairan atau benda padat berukuran sangat kecil dan ringan sehingga mampu melayang di udara dalam waktu lama lalu mudah terhirup ke paru-paru manusia.

Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus merupakan tindakan pencegahan paling mendasar. Menutup lubang kecil di dinding rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta memastikan sampah tidak menumpuk menjadi cara praktis untuk menjauhkan tikus dari area permukiman.

Bagi masyarakat dengan pekerjaan berisiko tinggi, seperti pekerja kehutanan atau petani, penggunaan alat pelindung diri menjadi sangat penting. Data seroprevalensi di penelitian Fernando Tortosa bersama kolega menunjukkan tingkat paparan lebih tinggi pada kelompok profesi tersebut. Seroprevalensi artinya tingkat keberadaan antibodi dalam populasi tertentu sebagai tanda riwayat paparan virus di masa lalu.

Saat membersihkan area terduga sarang tikus, hindari menyapu atau menyedot debu dalam kondisi kering karena tindakan itu justru dapat menerbangkan aerosol ke udara. Sebaiknya, basahi area memakai disinfektan atau larutan pemutih terlebih dahulu untuk mematikan virus sebelum proses pembersihan dimulai.

Berbekal strategi pencegahan yang berfokus pada pengendalian populasi tikus dan kebersihan lingkungan, risiko penyebaran hantavirus bisa ditekan guna mencegah wabah di masa depan.

Kronologi Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar

Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul dugaan wabah di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius di lepas pantai Praia, Tanjung Verde. Hingga Selasa, 5 Mei 2026, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan beberapa penumpang lain mengalami gejala pernapasan serius.

MV Hondius dioperasikan Oceanwide Expeditions dan memulai pelayaran dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026. Kapal tersebut menempuh perjalanan panjang melintasi Atlantik Selatan dengan rute Antarktika, South Georgia, Tristan da Cunha, hingga Saint Helena.

Total terdapat 147 orang di kapal, terdiri dari 88 penumpang dan 59 awak dari 23 negara. Otoritas setempat menolak izin sandar demi mencegah potensi penyebaran penyakit.

Kasus pertama melibatkan pria dewasa dengan gejala demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April 2026. Kondisinya memburuk menjadi sesak napas dan pasien meninggal pada 11 April. Jenazah kemudian dipindah ke Saint Helena pada 24 April 2026. Laboratorium di Afrika Selatan pada 2 Mei 2026 mengonfirmasi pasien tersebut terinfeksi hantavirus.

Kasus kedua merupakan wanita dewasa yang sempat kontak dekat dengan pasien pertama. Ia turun di Saint Helena dengan gejala gangguan pencernaan, lalu kondisinya memburuk saat penerbangan menuju Johannesburg, Afrika Selatan. Pasien meninggal pada 26 April 2026 di mana hasil PCR pada 4 Mei 2026 memastikan ada infeksi hantavirus. Kedua pasien diketahui sempat bepergian di Amerika Selatan sebelum naik kapal.

Kasus ketiga terjadi pada pria dewasa dengan gejala demam, sesak napas, dan pneumonia sejak 24 April 2026. Kondisi pasien tersebut memburuk hingga harus dievakuasi ke Afrika Selatan dan dirawat di ICU. Hasil PCR pada 2 Mei 2026 mengonfirmasi infeksi hantavirus.

Kasus keempat melibatkan wanita dewasa dengan pneumonia dan demam sejak 28 April 2026. Pasien meninggal dunia pada 2 Mei 2026. Adapun tiga kasus suspek lainnya masih berada di kapal dengan gejala demam tinggi dan gangguan pencernaan.

Baca juga artikel terkait HANTAVIRUS atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora