tirto.id - Cara penularan hantavirus kembali jadi perhatian WHO setelah muncul dugaan wabah di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius pada awal Mei 2026. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam kondisi positif hantavirus usai kapal tersebut menempuh perjalanan panjang dari Amerika Selatan menuju wilayah perairan Afrika.
Apakah hantavirus bisa menular antarmanusia? Sebab, salah satu pasien di kapal dilaporkan memiliki riwayat kontak dekat dengan pasien lain sebelum akhirnya ikut terinfeksi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Penularan paling sering terjadi melalui tikus sebagai inang alami virus.
WHO memperkirakan terdapat 10.000 hingga 100.000 kasus hantavirus setiap tahun dengan tingkat kematian cukup tinggi pada kasus berat.
Cara Penularan Hantavirus pada Manusia
Penularan hantavirus paling sering terjadi saat seseorang menghirup aerosol dari limbah tikus yang terinfeksi. Aerosol artinya partikel cairan atau benda padat berukuran sangat kecil sehingga mampu melayang di udara dalam waktu lama lalu masuk ke paru-paru saat terhirup.
Partikel tersebut biasanya berasal dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang mengering di area tertutup, seperti gudang, loteng, ruang bawah tanah, bangunan kosong, hingga area pertanian. Saat debu tersapu atau beterbangan, virus dapat ikut terhirup manusia.
Selain melalui udara, penularan hantavirus juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh permukaan terkontaminasi lalu memegang hidung, mulut, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Dalam beberapa kasus, gigitan tikus juga berpotensi menularkan virus meski lebih jarang terjadi.
Karena itu, lingkungan dengan populasi tikus tinggi menjadi faktor risiko utama penyebaran hantavirus.
Apakah Hantavirus Bisa Menular Antarmanusia?
Sebagian besar jenis hantavirus tidak mudah menular antarmanusia. Mayoritas kasus di dunia berasal dari kontak manusia dengan limbah tikus yang terinfeksi.
Namun, ada pengecualian pada virus Andes (ANDV) di Amerika Selatan. Varian hantavirus ini punya karakteristik unik karena bisa menular antarmanusia melalui kontak sangat dekat, terutama dalam lingkungan rumah tangga.
Kasus di kapal MV Hondius ikut memperkuat perhatian terhadap kemungkinan tersebut. Pasien kedua diketahui memiliki riwayat kontak dengan pasien pertama sebelum akhirnya mengalami gejala serupa dan dinyatakan positif hantavirus melalui tes PCR.
Kendati begitu, penularan antarmanusia pada hantavirus masih tergolong sangat terbatas dibanding penyakit lain seperti Covid-19. Hingga kini, penularan utama tetap berasal dari paparan tikus dan lingkungan terkontaminasi.
Gejala Hantavirus
Gejala hantavirus berbeda-beda tergantung jenis sindrom klinis dan wilayah geografis tempat infeksi terjadi. Di Asia dan Eropa, penderita umumnya mengalami hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), yaitu demam berdarah disertai gangguan fungsi ginjal mendadak.
Pada kondisi ini, pasien sering mengalami trombositopenia atau penurunan jumlah keping darah secara drastis sehingga meningkatkan risiko perdarahan.
Sementara di Amerika, infeksi lebih sering berkembang menjadi hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS). Kondisi tersebut menyerang paru-paru dan jantung secara agresif dengan tingkat kematian mencapai 20 hingga 50 persen.
Gejala awal biasanya menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan tubuh lemas. Namun dalam beberapa hari, kondisi bisa memburuk jadi sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Karena gejalanya mirip flu, banyak penderita terlambat menyadari infeksi hantavirus hingga kondisinya memasuki fase kritis.
Cara Mencegah Infeksi Hantavirus
Pencegahan hantavirus paling efektif tetap berfokus pada pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan. Berikut beberapa langkah praktis untuk menurunkan risiko infeksi hantavirus:
- Basahi area terduga sarang tikus memakai disinfektan atau larutan pemutih agar virus mati.
- Hindari menyapu atau menyedot debu dalam kondisi kering karena tindakan tersebut justru bisa menerbangkan aerosol ke udara.
- Tutup lubang kecil di rumah dan simpan makanan dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah tikus masuk.
- Gunakan alat pelindung diri bila bekerja di sektor berisiko tinggi dan banyak tikus.
- Cuci tangan setelah membersihkan area kotor atau setelah kontak dengan benda yang berpotensi terkontaminasi limbah tikus.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































