tirto.id - Lumrah ketika tikus dinilai sebagai hama pengerat yang bandel dan nakal. Dialah aktor perusak lumbung, penyebar penyakit, serta koloni got menjijikkan.
Akan tetapi, nukilan kisah lain mungkin dapat membalik stigma itu.
Pada 4 April 2025 silam, Guinness World Record menahbiskan Ronin, tikus raksasa berkantung Afrika (Cricetomys ansorgei) sebagai hewan berkemampuan mendeteksi ranjau darat terbaik.
Ronin adalah penguasa baru dalam "seni" mengendus bahaya. Dia berhasil mendeteksi 109 ranjau darat dan lima belas hulu ledak pasif (UXO) di wilayah Siem Reap, Kamboja.
Rekor sebelumnya disandang Magawa, sesama tikus binaan APOPO, organisasi nirlaba Belgia yang berfokus “membalikkan” reputasi buruk hewan pengerat tersebut. Dalam kampanyenya, APOPO memuji tikus layaknya super hero (HeroRATs), dan mengklaim jasanya dapat membantu para warga di wilayah konflik.
Saat pensiun pada 2021, Magawa tercatat mampu mendeteksi 71 ranjau darat dan 38 UXO selama masa dinasnya yang hampir lima tahun.
Magawa bahkan dianugerahi medali keberanian oleh badan amal hewan PDSA atas jasanya. Namun sayang, ia harus meninggal karena usia tua pada Januari 2022.
Berdinas di Ladang Ranjau
Sejak 2021, Ronin dilatih untuk bisa mengenali bau bahan peledak seperti TNT. Ia bekerja dengan ketelitian yang nyaris puitis—berderap ringan, mengendus pelan, tanpa memicu maut yang dikandung bumi. Operasinya selalu mulus tanpa cela.
Pengasuh utama Ronin, Phanny, mengatakan, “Prestasi Ronin adalah bukti potensi luar biasa dari tikus. Dia bukan hanya aset; dia adalah mitra dan kolega yang berharga.”
Gelar pendeteksi ranjau darat itu disabetnya bukan tanpa alasan jelas. Selain karena umurnya yang panjang—usia harapan hidup tikus rumahan hanya sekira 2-3 tahun—dedikasi dan etos kerjanya patut diacungi jempol.
Lily Shallom dari APOPO menyatakan, “Kesuksesan Ronin kemungkinan besar berasal dari fokusnya yang tajam, etos kerja yang kuat, dan kecintaannya pada pemecahan masalah.”
Bagi Ronin, rutinitas menemukan ranjau darat bagai bermain di wahana gorong-gorong atau merongrong rimbunnya perdu. Bahkan, di waktu luang di sela-sela "dinas", Ronin dan para pekerja APOPO kerap kedapatan bersenang-senang dengan "mencari cara untuk mendapatkan camilan tersembunyi atau melewati rintangan di ladang ranjau.”
Ronin adalah penggemar berat alpukat, dengan pisang dan kacang sebagai favorit kedua.
Sejak belia, Ronin dilatih akrab dengan suara clicker. Usai menuntaskan latihan, ia akan mendapatkan pisang dan kacang sebagai ongkos pengganti sebum dan decitnya.
Pola pelatihan seperti itu pada akhirnya mampu merangsang otak dan indera penciuman secara alami, utamanya mengenali kisi-kisi bahan peledak.
Itulah yang membuat kerja-kerja yang dilakukan Ronin berjalan terstruktur, tetapi di sisi lain juga menyenangkan. Ronin bergerak mengikuti jalur yang dibatasi tali (seperti grid), sehingga area bisa diperiksa secara menyeluruh tanpa ada yang terlewat. Lalu, jika suatu waktu mencium bau bahan peledak, ia akan memberi sinyal dengan menggaruk tanah di titik tersebut. Lalu, petugas pendampingnya akan membunyikan clicker dan memberikannya camilan.
APOPO memastikan, Ronin hanya bekerja selama 30 menit sehari. Sisanya lebih sering dia gunakan untuk istirahat atau kelayapan di sekitar kamp pelatihan.

Magawa, Legenda yang Membuka Jalan
Sebelum Ronin lahir, nama Magawa telah lama menggema. Dia adalah salah satu yang terbaik dari 104 tikus terlatih yang beroperasi di bawah proyek HeroRATs APOPO. Magawa bukan hanya pelopor, tetapi juga simbol transisi—dari ketidakpercayaan menjadi pengakuan global.
Berkat jasanya itu, sosok Magawa, yang hidup hingga usia 8 tahun, diabadikan dalam pahatan patung dari batu lokal. Patung Magawa diresmikan oleh para seniman kenamaan di Siem Reap, Kamboja, pada 4 April 2026.
Di lehernya melingkar kalung medali emas PDSA—dikenal sebagai Salib George untuk hewan—atas "pengabdiannya yang menyelamatkan nyawa."
Jasa Magawa sungguh berguna bagi tanah Kamboja yang ditimbuni ranjau warisan, amunisi aktif yang dibuang, dan senjata lainnya, imbas perang selama beberapa dekade, dimulai sejak 1960-an.
Setelah lebih dari 30 tahun perang berakhir pada 1998, Kamboja menjadi salah satu negara dengan jumlah ranjau darat terbanyak di dunia.
Kematian akibat ranjau dan amunisi yang belum meledak masih sering terjadi, dengan sekitar 20 ribu korban jiwa sejak 1979, dan dua kali lipat dari jumlah tersebut mengalami luka-luka.
Selama masa jabatannya, Magawa telah membersihkan lebih dari 141.000 meter persegi ladang penuh ranjau, setara 20 kali lapangan sepak bola. Ia mampu dengan tangkas menyisir wilayah seluas lapangan tenis hanya dalam 20 menit.
Kamboja menargetkan wilayahnya bebas ranjau pada 2030, target yang cukup ambisius, dan karenanya mereka masih butuh jasa mamalia pengerat tersebut.
Namun seperti semua legenda, Magawa harus memberi ruang bagi generasi berikutnya. Kiprahnya dilanjutkan Ronin.
Mengalahkan Anjing, Mengguncang Hierarki
Selama ini, anjing dianggap sebagai raja penciuman. Dalam banyak operasi militer dan kemanusiaan, mereka adalah standar emas. Namun, pada akhirnya keberhasilan Ronin mampu mengguncang hierarki tersebut.
Tikus memiliki keunggulan yang sering diabaikan. Bobot tubuh yang ringan–sekitar 1 hingga 1,5 kilogram–membuat mereka tidak cukup berat untuk memicu hulu ledak.
Mereka juga lebih cepat dilatih, dengan biaya pemeliharaan lebih rendah dari anjing, serta dapat bekerja di lingkungan tropis secara efisiensi.
Sebagaimana publikasi Alan Poling dkk. dalam jurnal JABA dengan judul “Using Trained Pouched Rats to Detect Land Mines” (2011: 351-355), tikus tikus kantung raksasa asal Afrika terbukti memiliki sensitivitas olfaktori yang sangat tinggi terhadap senyawa kimia seperti TNT.
Tidak jarang mereka perlu melakukan dua kali pendeteksian. Maklum, ranjau-ranjau yang terkubur lebih dari dua dekade di tanah berpasir, sering kali telah terkontaminasi dengan bahan kimia yang dapat mengaburkan kemampuan indera manusia. Namun yang pasti, tingkat kesalahannya 0 persen, alias sepenuhnya akurat.
Di tanah kelahirannya, mereka sudah lama berjasa besar dalam pembasmian ranjau darat. Berkat mereka, Tanzania, Mozambik, dan Ethiopia, akhirnya mendeklarasikan diri sebagai negara bebas ranjau dan tuberkulosis pada 2015.
Bayangkan masa depan ketika tikus tidak lagi identik dengan hama dan paceklik, melainkan laksana malaikat kecil pembawa kabar baik. Mereka berpindah dari ladang ranjau ke laboratorium, dari simbol kehancuran menjadi agen penyembuhan.
Ronin tidak tahu bahwa ia memecahkan rekor dunia. Dia tidak memahami medali, statistik, atau narasi global. Yang dipedulikannya hanya aroma, tugas, dan ritme kerja yang telah ditanamkan.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Di dunia yang sering kali bising oleh ambisi manusia, seekor tikus mengajarkan bahwa kepahlawanan bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: mengendus, berjalan, dan menyelamatkan, langkah kecil di atas timbunan tanah yang sekonyong-konyong siap meledak.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





































