tirto.id - Ada pola berulang ketika aparat penegak hukum membongkar tempat persembunyian hasil kejahatan finansial. Penggeledahan sering kali memperlihatkan tumpukan uang tunai berdampingan dengan deretan emas batangan yang tersimpan rapi.
Sebagai contoh, saat penyidik Kejaksaan Agung menggeledah kediaman mantan pejabat Mahkamah Agung, Zarof Ricar, mereka menemukan uang tunai hampir 1 triliun rupiah bersama 51 kilogram emas batangan di dalam kontainer.
Pola serupa juga muncul dalam penggeledahan kasus dugaan korupsi tiga perkara yang melibatkan eks JAMPidsus, Febrie Adriansyah, di Sentul, Jawa Barat, pada Juli 2026. Penyidik menyita 74 kilogram emas batangan beserta mata uang asing bernilai ratusan miliar rupiah.
Bagi penyidik, temuan emas dalam perkara korupsi dan pencucian uang bukanlah hal baru. Dari sudut pandang ilmu material, pola tersebut juga dapat dijelaskan oleh sifat fisik dan kimia emas yang memang berbeda dari kebanyakan instrumen penyimpan kekayaan.
Mengapa Emas Tidak Pernah "Membusuk"?
Mayoritas uang kertas di dunia tidak dibuat dari kertas pohon biasa. Sebagian besar terbuat dari serat selulosa yang berasal dari kapas dan linen. Sebagai materi organik, selulosa mudah diuraikan oleh berbagai mikroorganisme. Ketika disimpan bertahun-tahun di tempat lembap, uang kertas menjadi media ideal bagi jamur dan bakteri.
Akibatnya, uang menjadi lapuk dan rapuh. Selain mikroorganisme, selulosa juga rentan dimakan rayap. Tak sedikit uang hasil kejahatan yang disembunyikan bertahun-tahun akhirnya rusak akibat pelapukan alami. Kerusakan seperti ini bukan sekadar kemungkinan teoretis. Sejumlah kasus menunjukkan uang tunai yang disembunyikan terlalu lama memang mengalami degradasi fisik.
Contohnya ialah penemuan uang tunai senilai 1,2 juta euro di sebuah ladang di Co Limerick, Irlandia. Uang tersebut mengalami kerusakan parah setelah disimpan dalam kontainer logam yang dikubur lebih dari dua meter di lahan berawa selama berbulan-bulan.
Berbeda dengan emas (Au) yang memiliki reaktivitas kimia yang sangat rendah. Stabilitas konfigurasi elektronnya membuat logam mulia (noble metal) ini hampir tidak bereaksi dengan oksigen maupun air.

Karena tidak reaktif (inert), emas tidak berkarat, tidak bereaksi dengan air maupun kelembapan, serta tahan terhadap sebagian besar asam dan basa. Dalam kondisi normal, hanya aqua regia—campuran asam nitrat dan asam klorida pekat—yang mampu melarutkannya.
Ketahanannya telah dibuktikan oleh temuan arkeologi. Emas dari kapal-kapal karam di barat daya Inggris yang terkubur selama berabad-abad tetap mengilap ketika ditemukan seorang penyelam arkeologi amatir, Andy Elliot.
"Aku melambaikan tanganku lagi untuk menemukan sebatang emas bersinar di pasir. Anda tidak akan percaya beratnya. Kami menyebutnya 'batangan Mars emas', kata Elliot.
Bagi pelaku kejahatan finansial, sifat emas memungkinkan kekayaan disembunyikan dalam waktu sangat lama tanpa memerlukan perlindungan khusus terhadap suhu, kelembapan, maupun ancaman biologis. Dengan begitu, nilai ekonominya dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Ketika Identitas Kekayaan Bisa Dihapus Lewat Peleburan
Berlian memang memiliki nilai tinggi dan mudah dipindahkan, tetapi berbeda dengan emas, penilaiannya sangat bergantung pada kualitas, ukuran, warna, dan kejernihan setiap batu. Tidak ada standar harga yang sesederhana emas batangan dengan kadar kemurnian tertentu.
Lembaga anti-pencucian uang dunia (FATF) mencatat berlian kurang diminati untuk transaksi kriminal skala besar yang menuntut aset dengan perputaran cepat. Ketiadaan standardisasi harga membuat penjahat rentan tertipu oleh berlian palsu/sintetis (lab-grown) atau salah mengestimasi nilai.
Daya tarik lain emas terletak pada sifat materialnya, terutama kemampuannya menghapus identitas fisik melalui proses peleburan. Sementara memotong atau menggosok ulang berlian untuk menyembunyikan identitasnya, justru berisiko merusak dan menurunkan karat serta nilai batu tersebut.
Barang mewah lain seperti lukisan memiliki rekam jejak kepemilikan yang dapat ditelusuri. Mobil menyimpan nomor rangka permanen, sementara uang kertas memiliki nomor seri unik. Identitas fisik inilah yang memungkinkan aset-aset tersebut dilacak secara forensik.
Riset dari Egyptian Journal of Forensic Sciences (2012) menunjukkan nomor seri yang sengaja dihapus dari logam atau senjata, sering kali masih dapat dipulihkan melalui analisis forensik karena jejak deformasinya tetap tersimpan di bawah permukaan material.
Emas batangan modern dirancang untuk tidak luput dari sistem identifikasi forensik ini. Produsen pemurnian logam mencetak nomor seri, logo, dan sertifikat kemurnian pada setiap emas batangan untuk menjamin keaslian dan asal-usulnya. Namun berbeda dari aset lain, nilai emas tidak bergantung pada identitas fisiknya, melainkan pada kandungan atom emas itu sendiri.
Dengan titik leleh 1.064,18°C, emas relatif mudah dilebur menggunakan peralatan metalurgi skala kecil. Dalam industri perhiasan, proses peleburan dan pengecoran emas memang merupakan praktik yang lazim. Raub dan Dieter Ott dalam Gold Bulletin (1983) menjelaskan bahwa pengecoran (investment casting) telah lama digunakan untuk membentuk kembali paduan emas menjadi berbagai produk perhiasan dengan karakteristik fisik yang berbeda.
Emas juga dikenal sebagai salah satu logam paling mudah ditempa (malleable) dan ditarik menjadi kawat (ductile). Satu gram emas bahkan dapat ditempa menjadi lembaran sangat tipis atau dibentuk kembali menjadi berbagai produk tanpa kehilangan sifat kimianya. Karakteristik inilah yang membuat emas sejak lama digunakan sebagai bahan baku koin, perhiasan, hingga batangan investasi.
Inilah celah yang dimanfaatkan dalam praktik pencucian uang. Publikasi khusus FATF (2015) mengonfirmasi bahwa penjahat memanfaatkan emas sebagai alat pemutus rantai pelacakan (disruption of audit trail). Dokumen ini memetakan bagaimana emas batangan legal diubah menjadi komoditas anonim untuk memindahkan dana ilegal.
Laporan FATF juga mencatat bahwa pada 2012, Amerika Serikat, Italia, Cina, India, Uni Emirat Arab, Turki, Inggris, Meksiko, Mesir, dan Indonesia menjadi sumber utama pasokan emas untuk didaur ulang, berdasarkan jumlah yang dipasok.

"Bisnis jual beli emas memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mengubah emas curian menjadi uang tunai tanpa harus membuktikan kepemilikan atas emas bekas yang ditawarkan untuk dijual," tulis laporan tersebut.
Dalam investigasi modern, nomor seri emas memang hanya salah satu titik awal penelusuran. Penyidik biasanya menggabungkan berbagai sumber informasi, mulai dari catatan transaksi, dokumen pembelian, rekaman CCTV, data komunikasi, hingga analisis aliran dana. Karena itu, peleburan emas tidak otomatis menghapus seluruh jejak kejahatan, meskipun dapat mempersulit proses penelusuran asal-usul fisik logam tersebut.
Dalam praktik pencucian uang, perubahan bentuk aset memang menjadi salah satu metode yang digunakan untuk menyamarkan asal-usul harta. Namun keberhasilan pelacakan tidak hanya bergantung pada bentuk fisik emas, melainkan juga pada dokumen transaksi, rantai distribusi, dan alat bukti lain yang dikumpulkan penyidik.
Mengapa Manusia Selalu Percaya pada Emas?
Ketahanan kimia dan kemudahan peleburan belum sepenuhnya menjelaskan mengapa emas dipercaya sebagai penyimpan kekayaan. Jawabannya juga berkaitan dengan bagaimana manusia memersepsikan warna, kilau, dan nilai emas sejak lama.
Berbeda dari kebanyakan logam yang tampak keperakan, emas terlihat kuning karena efek relativistik pada elektron-elektronnya. Elektron bergerak sangat cepat sehingga mengubah cara atom emas menyerap dan memantulkan cahaya. Akibatnya, emas menyerap spektrum biru dan memantulkan cahaya kuning yang khas.
Menurut Griskevicius dan Kenrick dalam kajian bertajuk "Fundamental Motives: How Evolutionary Needs Influence Consumer Behavior" (2013), preferensi, perilaku, dan cara seseorang mengambil keputusan berubah secara sistematis sesuai dengan motif dasar yang sedang dominan. Ketika motif perlindungan diri aktif, orang cenderung menghindari kerugian, memilih opsi yang dianggap lebih aman, dan mengurangi pengambilan risiko.
Bagi koruptor maupun pelaku kejahatan finansial lainnya, kecenderungan psikologis seperti itu dapat membantu menjelaskan mengapa aset yang dipersepsikan stabil menjadi lebih menarik daripada instrumen yang mudah bergantung pada sistem keuangan. Bagi mereka, rekening bank dapat dibekukan, sementara aset digital mudah ditelusuri. Pada titik ini, emas menawarkan sesuatu yang berbeda: benda fisik yang dapat disimpan dan dipindahkan tanpa bergantung pada jaringan elektronik.
Emas hampir selalu memiliki pasar di berbagai negara. Selama berabad-abad logam ini digunakan sebagai alat tukar, standar moneter, maupun cadangan devisa negara. Meskipun sistem keuangan modern tidak lagi menggunakan standar emas (gold standard), hampir seluruh bank sentral dunia masih menyimpan emas sebagai bagian dari cadangan internasionalnya.
Survei tahunan terbaru World Gold Council (WGC) menunjukkan bahwa 83 persen bank sentral berencana meningkatkan cadangan emas mereka dalam setahun ke depan, naik dari 76 persen pada 2025. Likuiditas global tersebut membuat emas relatif mudah diperdagangkan tanpa bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Meski demikian, karakteristik ilmiah emas tidak membuatnya selalu identik dengan kejahatan. Sifat yang sama juga menjelaskan mengapa logam mulia ini sejak lama dipilih masyarakat sebagai instrumen investasi dan penyimpan nilai yang sah.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






































