tirto.id - Ada pemandangan berbeda di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Subang, Jumat (26/9/2026). Jika biasanya identik dengan sel dan gembok besi, kini ruang-ruang di dalam lapas juga dipenuhi semangat belajar.
Sejumlah Warga Binaan tampak serius mengikuti pembelajaran pendidikan kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA).
Program ini merupakan hasil sinergi antara Lapas Kelas IIA Subang dengan Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Subang. Tujuannya sederhana namun mulia: memastikan bahwa masa pidana tidak memutus hak warga binaan untuk mendapatkan pendidikan.
Melalui program ini, warga binaan dan tahanan yang putus sekolah atau belum menyelesaikan pendidikan formal tetap memiliki kesempatan untuk mengikuti proses pembelajaran secara resmi dan mendapatkan ijazah yang diakui negara.
Kepala Lapas Kelas IIA Subang, Gatot Harisaputro, menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama dalam proses reintegrasi sosial.
"Lapas bukan hanya tempat menjalani masa pidana, tetapi juga tempat pembinaan. Kami tidak ingin mereka keluar dengan tangan kosong. Melalui pendidikan kesetaraan ini, kami ingin memastikan Warga Binaan tetap memiliki kesempatan untuk belajar, meningkatkan pengetahuan, serta memperoleh bekal pendidikan yang dapat mereka manfaatkan ketika kembali ke masyarakat," ujar Gatot Harisaputro kepada wartawan.
Menurut Gatot, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara terjadwal dengan kurikulum dari SPNF SKB Subang. Materi yang diberikan tidak hanya akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, motivasi hidup, dan keterampilan.
"Program ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan program pendidikan kesetaraan bagi Warga Binaan," jelasnya.
Ia berharap, pendidikan kesetaraan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga warga binaan memiliki pengetahuan, kepercayaan diri, dan kesiapan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif setelah bebas.
"Kami ingin mereka punya bekal ijazah. Dengan ijazah Paket C misalnya, mereka bisa melamar pekerjaan secara resmi atau bahkan melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini adalah jalan untuk memutus mata rantai stigma negatif terhadap mantan narapidana," tambahnya.

Selain memberikan akses terhadap pendidikan formal, program ini juga diharapkan dapat membentuk pola pikir positif.
"Para warga binaan didorong untuk memanfaatkan masa pembinaan dengan kegiatan yang produktif, meningkatkan rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan optimisme menatap masa depan," harapnya
Pihak SPNF SKB Subang menyambut baik kolaborasi ini. Mereka menilai antusiasme warga binaan Lapas Subang dalam mengikuti pembelajaran cukup tinggi.
"Banyak di antara mereka yang sebelumnya tidak memiliki ijazah, kini termotivasi untuk menuntaskan pendidikan hingga Paket C," ucapanya
Ke depan, Lapas Kelas IIA Subang bersama SPNF SKB Subang berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi.
"Rencananya, selain pendidikan kesetaraan, juga akan dikembangkan program pembinaan kemandirian berbasis keterampilan kerja," tuturnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menghadirkan pembinaan yang humanis, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata, sekaligus mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali dan berperan positif di tengah masyarakat.
"Kami ingin mengubah paradigma, dari lapas sebagai tempat hukuman menjadi pusat pembinaan dan harapan baru," pungkas Gatot.
Penulis: Subang Info
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































