Menuju konten utama
Edusains

"Hobbit" dari Flores Bukan Pemburu, tapi Pemakan Sisa Komodo

Lewat eksperimen pemberian makan kepada komodo, tim peneliti menyimpulkan Homo floresiensis bukan pemburu utama, tapi pemakan sisa setelah predator utama. 

Homo floresiensis. FOTO/commons.wikimedia.org/
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejak ditemukan pada 2003, Homo floresiensis alias manusia "hobbit" dari Flores terus memantik rasa penasaran para ilmuwan. Kebenaran akan spesies tersebut pun satu per satu mulai terungkap.

Sejauh ini, para ilmuwan sudah berhasil menemukan sejumlah jawaban tentang mereka, mulai dari asal-usulnya, bagaimana mereka bisa sampai ke Flores, dan sekarang terjawab pula bagaimana para "hobbit" tersebut bertahan hidup.

Dari penemuan sebelumnya, sempat muncul hipotesis bahwa Homo floresiensis adalah spesies dengan kemampuan berburu dan memasak yang sudah cukup canggih. Ini terbukti dari penemuan sejumlah perkakas tajam serta residu zat-zat yang mengindikasikan kemampuan demikian.

Akan tetapi, belakangan, sejumlah ilmuwan, termasuk peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Sutikna, yang merupakan salah satu penemu pertama Homo floresiensis, berhasil mengungkap kebenaran bahwa, bisa jadi kemampuan spesies itu tidaklah sekompleks yang diperkirakan sebelumnya.

Temuan itu tertuang dalam artikel berjudul "Taphonomic analysis at Liang Bua reveals thebehavioral and technological capabilities of Homo floresiensis" yang dimuat pada jurnal Science Advances edisi Juli 2026. Tim peneliti yang dipimpin Elizabeth Grace Veatch menemukan bahwa, kemungkinan besar, Homo floresiensis bukanlah spesies yang piawai berburu, melainkan spesies yang bertahan hidup dengan cara memakan makanan sisa komodo.

Penemuan dan Tafsir Awal

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mundur dulu ke titik awal cerita. Pada 2 September 2003, Thomas Sutikna yang sedang terbaring sakit di kamar hotel dekat lokasi ekskavasi di Liang Bua, sebuah gua besar di dataran tinggi Pulau Flores, mendapat kabar dari salah satu rekannya bahwa sendok semen mereka baru saja menyentuh tengkorak kecil yang terkubur di kedalaman 5,9 meter. Sontak, demam yang menghinggapi tubuh Thomas seakan lenyap begitu saja.

Esok paginya, tim menemukan lebih banyak tulang di lokasi yang sama, mulai dari tulang kaki, tulang tangan, tibia (tulang kering), hingga femur (tulang paha) yang sebagiannya masih menyatu satu sama lain.

Awalnya, mereka mengira tengkorak kecil itu milik seorang anak kecil. Akan tetapi, setelah tengkorak itu dibersihkan, terlihatlah gigi geraham yang mengindikasikan bahwa pemiliknya merupakan individu dewasa. Tingginya diperkirakan hanya sekitar satu meter dengan berat badan sekitar 30 kilogram dan, dari bentuk pinggulnya, individu tersebut diperkirakan berjenis kelamin perempuan.

Butuh waktu kurang lebih setahun sampai akhirnya spesies temuan baru itu punya nama resmi. Pada Oktober 2004, tim peneliti pimpinan Peter Brown, dalam sebuah artikel di jurnal Nature, memberinya nama Homo floresiensis.

Publikasi tersebut mencatat bahwa tinggi badan dan volume endokranial individu bernama LB1 itu masing-masing sekitar 1 meter dan 380 sentimeter kubik, setara dengan perkiraan terkecil dari genus Australopithecus. Sebagai perbandingan, volume otak manusia modern rata-rata sekitar 1.300 hingga 1.500 sentimeter kubik. Artinya, otak LB1 kira-kira hanya sedikit lebih besar dari otak simpanse.

Julukan "hobbit" muncul karena kemiripan ukurannya dengan spesies fiktif dalam novel The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien yang ketika itu trilogi filmnya belum lama dirilis.

Homo floresiensis

Homo floresiensis. FOTO/commons.wikimedia.org/

Penemuan tersebut menggegerkan dunia paleoantropologi, sebagian ilmuwan bahkan sempat berargumen bahwa tulang-tulang dari Liang Bua itu sebenarnya milik manusia modern yang mengidap gangguan pertumbuhan seperti mikrosefali, bukan spesies baru sama sekali. Perdebatan ini butuh waktu bertahun-tahun untuk mereda, meski hipotesis tersebut kini sudah banyak ditinggalkan.

Yang membuat Homo floresiensis makin menarik perhatian dunia bukan cuma ukuran tubuhnya yang mungil. Di lapisan sedimen yang sama tempat fosil-fosil "hobbit" tersebut ditemukan, para arkeolog juga menemukan tulang-tulang Stegodon florensis insularis, kerabat gajah purba yang juga mengalami penyusutan ukuran tubuh akibat hidup terisolasi di pulau kecil, bersama dengan perkakas batu dalam jumlah besar.

Kombinasi ini sempat ditafsirkan sebagai bukti bahwa "hobbit" Flores mampu berburu hewan besar dengan alat. Sementara itu, sejumlah tulang hewan kecil di lokasi yang sama tampak gosong dan ditafsirkan sebagai bukti penguasaan api untuk memasak.

Kemampuan berburu hewan besar dan menguasai api biasanya diasosiasikan dengan hominin berotak besar seperti Neanderthal atau manusia modern, sehingga temuan pada spesies bertubuh kecil seperti "hobbit" ini dianggap luar biasa dan bahkan sempat memicu spekulasi bahwa Homo floresiensis adalah kerabat dekat Homo erectus.

Penelitian Lanjutan

Namun, benarkah demikian? Apakah Homo floresiensis adalah keturunan Homo erectus yang menyusut ukurannya karena hidup terisolasi di pulau, ataukah mereka berasal dari garis keturunan hominin yang lebih primitif dan sudah kecil sejak awal, seperti Homo habilis atau bahkan Australopithecus?

Riset di situs Mata Menge, sekitar 74 kilometer sebelah timur Liang Bua, mulai memberi jawaban. Pada 2016, tim yang melibatkan Gerrit van den Bergh menemukan fragmen rahang dan gigi berusia sekitar 700.000 tahun yang ternyata berukuran sama kecil, bahkan sedikit lebih kecil, dari fosil "hobbit" di Liang Bua. Bentuk rahang tersebut dinilai lebih mirip Homo erectus dibandingkan rahang hominin primitif seperti Homo habilis yang cenderung lebih tebal, sehingga kembali mendukung hipotesis bahwa "hobbit" adalah versi kerdil dari Homo erectus yang entah bagaimana terdampar di Flores.

Delapan tahun kemudian, giliran fosil lain dari Mata Menge yang memperkuat hipotesis ini. Pada Agustus 2024, tim yang dipimpin Yousuke Kaifu dari Universitas Tokyo memublikasikan analisis fragmen tulang humerus (lengan atas) dan dua gigi tambahan dari lokasi yang sama di jurnal Nature Communications. Humerus tersebut diperkirakan 9 hingga 16 persen lebih pendek dan lebih tipis dibandingkan spesimen tipe Homo floresiensis dari Liang Bua yang berusia sekitar 60.000 tahun, dan bahkan menjadi humerus dewasa hominin dari era Plio-Pleistosen terkecil yang pernah dilaporkan.

Kaifu menjelaskan bahwa kondisi Flores yang terisolasi, tanpa predator mamalia dan tanpa spesies hominin lain, membuat tubuh berukuran besar menjadi kurang menguntungkan karena butuh lebih banyak makanan dan waktu tumbuh yang lebih lama.

Berdasarkan panjang tulang tersebut, tinggi pemiliknya diperkirakan hanya sekitar 100 sentimeter, dan analisis histologi memastikan individu ini sudah dewasa. Namun tak semua ilmuwan sepakat, Matthew Tocheri dari Lakehead University mengaku belum yakin "hobbit" adalah versi kerdil dari Homo erectus, sekaligus mempertanyakan mengapa nenek moyang yang pertama tiba di Flores harus diasumsikan bertubuh besar.

Sementara perdebatan soal asal-usul terus berlanjut, pertanyaan lain juga mengemuka, yaitu bagaimana nenek moyang "hobbit" bisa menyeberang lautan untuk mencapai Flores sejak awal. Petunjuk datang dari pulau tetangga, Sulawesi.

Pada Agustus 2025, tim yang dipimpin arkeolog Budianto Hakim dari BRIN memublikasikan penemuan tujuh serpihan alat batu di situs Calio, Sulawesi Selatan, dalam jurnal Nature, dengan perkiraan usia minimal 1,04 juta tahun dan berpotensi mencapai 1,48 juta tahun. Angka ini menjadikan Calio sebagai bukti tertua kehadiran hominin di Sulawesi, sezaman atau bahkan lebih tua dari bukti kehadiran hominin di Flores yang diperkirakan berusia sekitar 1,02 juta tahun.

Adam Brumm dari Griffith University, salah satu peneliti senior dalam studi tersebut, mengatakan timnya sudah lama menduga garis keturunan Homo floresiensis di Flores kemungkinan besar merupakan varian kerdil dari Homo erectus Asia awal yang datang dari Sulawesi di sebelah utara, dan penemuan teknologi batu setua ini menambah bobot pada dugaan tersebut. Sayangnya, situs Calio belum menghasilkan fosil hominin, sehingga identitas pasti pembuat alat-alat batu tersebut masih menjadi misteri.

Riset Terbaru: Pemulung Sisa Komodo

Dari sinilah kita sampai pada penelitian terbaru yang menjadi fokus utama tulisan ini. Veatch, peneliti dari Smithsonian Institution's National Museum of Natural History sekaligus Universitas Tübingen, ingin menguji ulang salah satu klaim paling terkenal tentang Homo floresiensis, yaitu kemampuannya berburu hewan besar seperti Stegodon.

"Saya ingin melihat apakah kita benar-benar bisa membuktikan bahwa H. floresiensis adalah pemburu seperti yang digambarkan selama puluhan tahun," kata Veatch kepada CNN.

Untuk menjawab pertanyaan itu, tim Veatch menggunakan pendekatan tafonomi, yaitu ilmu yang mempelajari apa yang terjadi pada sisa-sisa organisme setelah kematiannya, mulai dari siapa yang memakannya hingga bagaimana pola kerusakan pada tulang bisa mengungkap identitas pemakannya.

Tim peneliti menganalisis 3.155 fragmen tulang Stegodon, sekitar 27 persen dari total koleksi yang tersedia, yang berasal dari Unit Stratigrafi 1 dan 2 di Liang Bua, dengan rentang usia sekitar 190.000 hingga 50.000 tahun lalu. Ini adalah periode yang hanya berasosiasi dengan Homo floresiensis dan bukan manusia modern. Selain itu, mereka juga memeriksa total 6.906 elemen tulang tikus (murine) dari Unit 1 dan Unit 8. Unit 8 berusia kurang dari 11.000 tahun dan berasosiasi dengan Homo sapiens dan digunakan untuk membandingkan bukti penggunaan api antara dua spesies tersebut.

Gua Liang Bua Homo floresiensis

Gua Liang Bua (Gua Hobbit), pulau Flores, Indonesia.

Bagian paling unik dari penelitian ini adalah eksperimen pemberian makan langsung kepada komodo. Tim melakukan penelitian terkontrol di Kebun Binatang Atlanta, Amerika Serikat, dengan memberi seekor komodo bernama Rinca satu bangkai kambing utuh yang kepalanya sudah dipotong dan diikat pada sebuah batang kayu agar tidak diseret keluar jangkauan pandang peneliti.

Setelah makan selesai, para peneliti mengumpulkan 72 elemen tulang yang tersisa dan menganalisis 192 tanda gigitan pada 26 di antaranya. Rata-rata ada 7,4 tanda per elemen, mayoritas di bagian lengan atas seperti humerus dan scapula (belikat), yakni bagian-bagian tubuh dengan daging paling tebal.

Veatch dkk. menggunakan pemindaian tiga dimensi beresolusi tinggi untuk mendokumentasikan bentuk, kedalaman, dan sudut setiap tanda gigitan untuk membentuk basis data pembanding yang kemudian digunakan menganalisis tulang-tulang Stegodon dari Liang Bua.

Hasilnya? Dari 154 tanda kerusakan yang teridentifikasi pada tulang Stegodon di Liang Bua, hanya 54 tanda dari 20 tulang yang teridentifikasi sebagai bekas sayatan pisau batu, sementara 100 tanda dari 31 tulang lainnya justru teridentifikasi sebagai bekas gigitan komodo. Artinya, komodo purba tampaknya jauh lebih dulu dan lebih banyak mendapatkan akses ke bangkai Stegodon dibandingkan "hobbit".

Pola lokasinya juga menjadi kunci penting. Bekas gigitan komodo terkonsentrasi pada tulang-tulang dengan volume daging tinggi seperti femur dan bagian depan tubuh, sedangkan bekas sayatan alat batu justru banyak ditemukan pada bagian tubuh "bernilai rendah" seperti tulang rusuk, ruas jari, dan tulang punggung. Pola semacam ini tidak sesuai dengan skenario di mana "hobbit" adalah pemburu utama yang mendapat akses pertama pada bangkai, melainkan lebih mirip dengan pola scavengers atau pemakan sisa yang datang belakangan setelah predator utama selesai makan.

"Setelah membandingkan tanda-tanda pada tulang Stegodon dengan sampel tanda gigitan komodo dan bekas sayatan yang kami miliki, saya terkejut betapa miripnya sebagian besar tanda tersebut dengan sampel gigitan komodo kami," tutur Veatch. Dia menambahkan bahwa, awalnya, dia mengira sedang melihat bekas sayatan alat batu, tetapi ternyata hampir semuanya adalah bekas gigitan komodo.

Studi ini juga menepis klaim lama soal penggunaan api oleh "hobbit". Dari 3.155 fragmen tulang Stegodon yang diperiksa, hanya satu fragmen tulang rusuk yang menunjukkan tanda pembakaran, dan fragmen itu pun ditemukan tepat di lapisan yang tumpang tindih antara sedimen tua milik "hobbit" dan sedimen lebih muda milik manusia modern. Artinya, kemungkinan besar, pembakaran itu terjadi setelah masa "hobbit" sudah lewat.

Bukti dari tulang tikus di gua bahkan lebih tegas lagi. Dari 4.240 elemen tulang tikus di lapisan yang berasosiasi dengan "hobbit", tidak satu pun menunjukkan tanda terbakar. Sebagai perbandingan, 20 persen dari 2.430 tulang tikus di lapisan yang berasosiasi dengan manusia modern sudah menunjukkan tanda-tanda adanya pembakaran.

Briana Pobiner dari Smithsonian Institution, salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa ribuan perkakas batu memang ditemukan berdampingan dengan fosil "hobbit", dan ini menunjukkan bahwa mereka memang membuat alat dari batu chert lokal untuk mengolah daging Stegodon dari tulangnya. Namun, alat-alat itu tampaknya dipakai untuk memulung sisa buruan komodo, bukan untuk membunuh dan mengolah hasil buruan sendiri. Daging yang mereka dapatkan pun kemungkinan besar dimakan mentah tanpa dimasak.

Meski demikian, para "hobbit" Flores tersebut tampaknya tidak khawatir soal racun komodo meski memakan sisa buruannya. Menurut studi ini, protein dalam bisa komodo berukuran terlalu besar untuk menembus lapisan lambung manusia dan kemungkinan besar akan terurai oleh enzim pencernaan.

Michael Petraglia, profesor asal-usul manusia di Griffith University yang tidak terlibat dalam studi ini, menyebut tim peneliti "membuat argumen yang sangat kuat dan meyakinkan untuk skenario memakan sisa makanan secara pasif". Akan tetapi, Kay Behrensmeyer, paleoekolog Smithsonian yang juga tidak terlibat, mengakui sangat sulit membedakan pola berburu dari pola memulung hanya dari tanda pada tulang, sehingga dia belum sepenuhnya yakin dengan hipotesis "murni memakan makanan sisa" ini, meski metode tim Veatch untuk membedakan bekas gigitan komodo dari bekas sayatan alat batu dinilainya sudah meyakinkan.

Temuan ini tak pelak juga membuka kembali perdebatan soal garis keturunan "hobbit". Jika kemampuan berburu hewan besar dan penggunaan api ternyata bukan bagian dari repertoar perilaku Homo floresiensis, Veatch dan timnya menduga ada kemungkinan nenek moyangnya berpisah dari garis keturunan Homo lebih awal, sebelum kemampuan-kemampuan canggih itu berkembang pada spesies Homo yang lebih baru.

Chris Stringer, peneliti senior asal-usul manusia di Natural History Museum London, menyebut temuan baru ini memperkuat pandangan minoritas bahwa Homo floresiensis bukan keturunan kerdil dari Homo erectus, melainkan keturunan dari bentuk lebih primitif seperti Homo habilis atau bahkan Australopithecus yang tiba di pulau itu lebih dari satu juta tahun lalu. Ia bahkan menyebut Homo floresiensis mungkin perlu diklasifikasikan ulang di luar genus Homo, meski memberi nama genus baru bukan perkara mudah tanpa mengetahui lebih banyak soal asal-usulnya.

Thomas Sutikna yang kini menjabat sebagai Direktur Ekskavasi Liang Bua sekaligus salah satu penulis studi baru ini, merefleksikan perjalanan panjang penelitian yang sudah dia jalani sejak awal.

"Sudah 25 tahun sejak saya mulai bekerja di sini. Rasanya sangat memuaskan mengetahui bahwa kerja keras kami telah menyempurnakan pengetahuan kita tentang Homo floresiensis, meski itu berarti sebagian interpretasi awal kami ternyata keliru," katanya.

Pada akhirnya, beginilah memang perjalanan ilmiah untuk mengungkap fakta. Pandangan peneliti bisa berubah total seiring dengan ditemukannya bukti-bukti baru. Para "hobbit" di Flores mulanya sempat dikira anak kecil, lalu akhirnya menjadi spesies tersendiri. Dan kini, klasifikasi mereka dalam taksonomi pun turut didebat seiring adanya temuan baru yang membantah temuan sebelumnya.

Namun, apa pun kebenaran sejati yang terungkap kelak, Homo floresiensis adalah bukti bahwa sejarah evolusi manusia adalah perjalanan panjang yang amat kompleks, beragam, dan bakal selalu memunculkan misteri-misteri baru untuk diteliti.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi