Menuju konten utama

Gunung Padang Bukanlah Piramida

Gunung Padang sempat ramai diperbincangkan karena diduga Piramida. Peneliti Utama dari Balai Arkeologi Bandung membantah dugaan-dugaan tersebut.

Gunung Padang Bukanlah Piramida
Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum yang terletak di Desa Karyamukti, Cianjur, Jawa Barat. tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Gunung Padang yang terletak di Kabupaten Cianjur sudah lama dikenal oleh para ahli sejak tahun 1800-an akhir. Warsa 1914, ada laporan tentang Gunung Padang yang dimuat pada Rapporten van de Oudheid kundige Dienst (ROD) atau buletin Dinas Kepurbakalaan. Selain itu, Nicholaas Johannes Krom juga pernah mencatat sejumlah temuannya di gunung tersebut.

Lutfi Yondri, peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung, menerangkan bahwa Gunung Padang mulai muncul lagi dalam ranah penelitian arkeologi sejak tahun 1979 setelah ditemukan kembali oleh sejumlah warga.

Ia menambahkan bahwa sejak ditemukan kembali pada tahun 1979, berturut-turut telah dilakukan penelitian terhadap Gunung Padang oleh tim dari Direktori Purbakala, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Balai Arkelogi Bandung, Pemerintah Daerah, dan berbagai kelompok masyarakat yang mencoba menggali nilai-nilai lain yang terkandung dalam tinggalan tersebut.

Pada 2011, Gunung Padang sempat ramai diisukan sebagai sebuah piramida dan berumur lebih tua dari Piramida Giza di Mesir dan kebudayaan Machu Picchu di Peru. Dugaan Piramida juga pernah terjadi pada Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung Barat, dan Gunung Sadahurip di Garut.

Danny Hilman Natawidjaja, Ketua tim peneliti Katastropik Purba—berganti nama menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), pada Maret 2012 seperti dilansir Detik menyampaikan bahwa dugaan itu diperoleh setelah melakukan pertanggalan dari uji karbon terhadap hasil pengeboran di Gunung Padang.

“Kalau dari carbon dating itu betul, iya [lebih tua dari Mesir dan Machu Picchu]. Kan ada 2 umur, 1 dating dari karbon persis di bawah situs di kedalaman sekitar 4 meteran, itu dating 4.700-an [tahun SM]. Kemudian dating dari kedalaman 8 meter, itu yang keluarnya 10 ribuan itu. Kalau masalah tua-tuaan, ya dating yang pertama saja sudah lebih tua dari Giza, yang sekitar 2.800 SM, dan Machu Picchu sekitar 1.000-an [Masehi],” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Danny Hilman saat penelitian yang dilakukan oleh timnya belum selesai, karena baru melakukan pengeboran di dua titik. Menurutnya, masih ada beberapa titik untuk mengambil sampel.

“Penelitian masih belum selesai, Nggak cuma 2 [titik], ada beberapa kedalaman, lebih dari 10 sampel. Kalau positif dalam ilmiah, cek dan ricek melihat hasil penelitian dulu. Belum akhir, penelitian terus berlangsung, ada beberapa titik lagi,” tambahnya.

Gunung Padang yang diduga piramida dan berusia lebih tua dari dua peradaban tua di dunia tersebut, sempat menjadi perbincangan di masyarakat. Namun perlahan isu ini kemudian mereda, meski simpang siur informasi masih terjadi.

Lutfi Yondri, peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung, dan juga penulis buku Gunung Padang: Kebudayaan, Manusia, dan Lingkungan (2017) menjelaskan beberapa argumennya kepada Tirto bahwa Gunung Padang bukan piramida dan usianya tidak setua yang dianggap oleh sebagian masyarakat.

Mula-mula ia menjelaskan bahwa anggapan piramida itu awalnya bukan di Gunung Padang, tapi Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung Barat, dan Gunung Sadahurip di Garut. Namun ia kaget karena tiba-tiba pada tahun 2011 isu piramida itu beralih ke Gunung Padang.

Hasil uji karbon yang menjadi dasar pertanggalan, menurut Lutfi, meski sampel yang dibawa ke laboratorium itu tidak ada yang pernah salah, tapi mesti jelas apakah sampel yang dibawa ke itu benda budaya atau bukan.

“Oleh karena mereka berpikir bahwa di dalam Gunung Padang ada piramida segala macam, seolah-olah umur itu mereka jadikan sebagai umur budaya. Nah, itu yang berbeda dengan sisi arkeologis dari pertanggalan, itu pertama ya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa temuan di Gunung Padang hanya beberapa fragmen gerabah atau tembikar. Fragmen tembikar adalah bukti bahwa tidak ada permukiman yang besar. Hal ini tentu bertentangan dengan dugaan piramida, karena untuk membangun sebuah piramida membutuhkan tenaga manusia yang banyak.

“Kalau di arkeologi, apalagi di arkeologi prasejarah, seringkali kita menemukan jejak budayanya, tinggalan-tinggalan budayanya. Nah, oleh karena dari tinggalan itu tidak ada benda-benda yang menunjukkan umur budaya secara langsung, barulah kita lakukan proses pertanggalan lewat laboratorium. Dan saya lihat kembali hasil pertanggalan mereka itu, dan itu terbolak-balik. Itu yang saya bantah,” tambahnya.

Hasil-hasil pertanggalan yang dicuplik dari hasil bor di Gunung Padang terbolak-balik. Ia mencontohkan, di kedalaman 7 setengah meter umurnya 23.000 tahun SM. Tetapi di kedalaman 8 meter umurnya jadi 11.000. Menurutnya, mestinya semakin dalam maka semakin tua umurnya.

Infografik Gunung padang

Selain itu, hasil pertanggalan karbon dari laboratorium, menurutnya, dalam arkeologi tidak bisa digunakan langsung, tapi harus dikalibrasi, disesuaikan dengan temuan dari lapisan tanah. Pertama adalah kalibrasi yang dilakukan oleh para kimiawan, yang nantinya akan dilakukan simpangan penanggalannya: umur tumbuhan, umur menengah, dan umur muda. Ketiga umur inilah yang dicocokkan dengan temuan arkeologi yang didapatkan di lapisan tanah yang gali.

“Kalau misalnya dari laboratorium itu mendapatkan umur 10.000, sementara temuannya sekitar 3.000 atau 4.000, artinya simpangan umur tua itu yang kita pakai. Contoh kasus terjadi seperti kesalahan di Gunung Padang, pada saat mereka melakukan pertanggalan di kedalaman 50-55 atau satu meter, dia katakan umurnya 2500 tahun SM, sementara temuannya itu fragmen keramik dari tahun 17, kan enggak cocok,” ujarnya.

Hal lain yang dibantah oleh Lutfi adalah soal temuan koin purba yang awalnya diduga berasal dari tahun 5200 SM. Namun setelah ia lihat, koin itu memiliki huruf Jawa di sekelilingnya, dan terdapat juga huruf Arab, yang artinya usianya tidak setua dugaan tersebut.

“Mungkinkah koin itu berasal dari 5200 tahun SM? Mesir Kuno saja yang baru kenal huruf yang sederhana yang paling tua di dunia itu 3000 tahun SM,” katanya.

Masih soal koin tersebut yang dikatakan oleh TTRM berasal dari kedalaman 11 meter, Lutfi menjelaskan bahwa koin tersebut ada lapisan platinanya serta lapisan karat. Menurutnya, karat terbentuk karena proses sentuhan air atau kelembaban.

“Tidak mungkin koin itu berasal dari kedalaman 11 meter, pasti koin itu paling jauh hanya di balik rumput. Kalau dia 11 meter kan di Gunung Padang itu lembab, pasti korosi dia, paling tidak ga usah 11 meter, 35 senti aja di bawah permukaan tanah, itu akan tertutup karat semuanya karena gunung padang lembab daerahnya,” ujar Lutfi.

Lutfi menginformasikan, bahwa semua bantahannya tersebut disampaikan kepada pihak-pihak lain yang melakukan penelitian di Gunung Padang, karena mereka sudah membuat simpulan-simpulan awal sebelum proses kerjanya betul-betul selesai.

“Hanya mereka sudah bikin simpulan-simpulan di awal ada ini ada ini, mereka mencoba mencari bendanya, temuannya, atau mereka di awal membuat simpulan-simpulan itu, data itu yang tidak klop sama sekali,” imbuhnya.

Sampai isu piramida dan dugaan bahwa Gunung Padang umurnya lebih tua dari sejumlah kebudayaan dunia lainnya mereda, apa yang disampaikan Lutfi tidak dibantah oleh peneliti Gunung Padang yang lain.

“Buku sudah saya luncurkan, tidak ada bantahan. Sudah beberapa kali bedah buku itu (Gunung Padang: Kebudayaan, Manusia, dan Lingkungan (2017), enggak ada bantahan atau komentar, sampai sekarang tidak ada,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait ARKEOLOGI atau tulisan lainnya dari Irfan Teguh Pribadi

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Irfan Teguh Pribadi
Penulis: Irfan Teguh Pribadi
Editor: Maulida Sri Handayani