Menuju konten utama
Mozaik

Eugene Dubois Menemukan "Manusia Jawa" di Trinil

Pencarian Eugene Dubois atas missing link dalam evolusi manusia berakhir di Trinil. Temuannya lalu dikenal dengan nama ilmiah Pithecantropus erectus.

Eugene Dubois Menemukan
Header Mozaik Dubois Mencari Fosil di Jawa. tirto.id/Tino

tirto.id - Dalam upaya pencarian the missing link dalam silsilah evolusi manusia, Eugene Dubois datang ke Hindia Belanda pada 1887. Sambil bekerja sebagai dokter militer, dia melakukan riset-riset lapangan di gua-gua sekitaran Payakumbuh. Dia tak puas atas temuan-temuannya di sana, meski bertahun kemudian temuannya diakui punya signifikansi ilmiah.

Pada 1889, tersiar kabar bahwa B.D. van Rietschoten berhasil menemukan tengkorak manusia purba di Campurdarat, Tulungagung. Dubois seakan mendapat harapan baru dan kemudian memalingkan fokusnya ke Jawa.

Pada 1890, Dubois hijrah ke Jawa dan memulai penggalian baru di lokasi yang sama dengan Rietschoten. Di Campurdarat, Dubois juga berhasil menamukan fosil tengkorak manusia.

“Selama penggalian ini, ia (Dubois) menemukan spesimen kedua (Wajak 2), sisa-sisa kerangka itu ditemukan dalam endapan rengkahan batu bersama dengan fragmen berbagai mamalia,” ungkap Paul Strom dkk. dalam “U-series and Radiocarbon Analyses of Human and Faunal Remains from Wajak, Indonesia” yang terbit pada Journal of Human Evolution (Vol. 64, 2013, hlm. 356).

Meski begitu, dia tak puas karena lagi-lagi bukan itu yang diinginkannya. Karenanya, Dubois pun mencari sendiri lokasi lain untuk melakukan penggalian baru.

Menjajaki Kedungbrubus dan Trinil

Dubois lalu mendatangi Kedungbrubus, sebuah daerah di perbatasan Ngawi dan Madiun. Dubois tertarik pada Kedungbrubus lantaran laporan-laporan warga sekitar yang santer menemukan tulang-tulang fauna purba.

“Tulang belulang itu oleh warga setempat dihubungkan dengan sisa-sisa dari korban mitos perang besar yang berasal dari tradisi wayang,” jelas Francois Semah, Anne-Marie Semah, dan Tony Djubiantono dalam Mereka Menemukan pulau Jawa (1990).

Lagi pula, lokasi ini pernah pula digali oleh Raden Saleh pada 1860-an. Saat itu, sang maestro berhasil menemukan beberapa fosil binatang purba. Maka Dubois pun menyempatkan diri melakukan penggalian awal di lokasi yang pernah didatangi Raden Saleh. Namun, Dubois tidak menemukan fosil apapun di lokasi itu.

Maka dia kemudian memindahkan penggalian ke lokasi lain dan berhasil menemukan beberapa fosil binatang, seperti rusa kecil, kuda nil, dan badak. Selain fosil binatang, Dubois juga menemukan satu tulang rahang manusia.

“Di antara sisa-sisa khas fauna yang ditemukan, dan pada lapisan yang sama ditemukan fosil manusia, dagu rahang bagian bawah,” kutip Nuria Sanz dari Laporan Bulanan Dubois yang tidak diterbitkan dalam Human Origin Sites and the World Heritage Convention in Asia (2014, hlm. 74-75).

Dubois mengaitkan temuan tulang rahang itu dengan si mata rantai yang hilang. Ada harapan di sana. Hasil penggalian di Kedungbrubus rupanya mulai mendekatkan Dubois dengan apa yang dia cari selama ini.

Dari Kedungbrubus, Dubois lalu melanjutkan pencariannya di daerah Trinil yang dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo.

“Dubois memulai ekskavasi di Trinil pada Agustus 1891 dengan dua orang sersan bernama Gerardus Kriel dan Anthony de Winter, lengkap dengan banyak pekerja lokal,” tulis Nuria Sanz.

Saat itu, lokasi penggalian Dubois berada persis di tepian Bengawan Solo. Sekarang, lokasi penggalian itu sudah tenggelam menjadi bagian dari aliran sungai terpanjang di Jawa itu.

Temuan Besar Dubois

Lokasi penggalian yang berada persis di tepi sungai menjadi tantangan besar bagi Dubois dan anggota timnya, terutama saat musim hujan. Pasalnya, debit air di aliran Bengawan Solo pasti naik dan menggenangi lokasi penggalian.

Pada satu bulan pertama penggalian, Dubois dan timnya belum menemukan apa yang menjadi tujuan penggalian itu dilakukan. Dubois lagi-lagi hanya menemukan beberapa fosil binatang, seperti kuda nil, badak, buaya, sapi, rusa, dan gajah primitif. Meski begitu, banyaknya temuan membuat Dubois dan timnya makin yakin akan potensi situs itu.

Memasuki bulan kedua, Dubois akhirnya mendapatkan apa yang diidamkannya selama beberapa tahun ini.

“Pada penggalian bulan Oktober, di dekat tempat di tepi sungai ditemukannya geraham, ditemukan bagian atas sebuah tengkorak,” tulis Bert Theunissen dalam Eugene Dubois and the Ape-Man from Java: the History of the First Missing Link and its Discoverer (1988, hlm. 55).

Penggalian Dubois pada tahun itu berhasil ditutup dengan temuan fosil gigi geraham dan tengkorak bagian atas hominid. Maka Dubois makin terpacu untuk terus melanjutkan penggalian di lokasi itu.

Selang 10 bulan setelah penemuan fosil pertama, Dubois dan timnya kembali menemukan satu temuan penting, yaitu tulang paha bagian kiri hominid.

“Pada bulan Agustus (1892), para pekerja menemukan temuan ketiga berupa tulang paha kiri yang kondisinya lumayan utuh,” tambah Bert Theunissen (hlm. 57).

Dubois yakin bahwa ketiga temuan itu merupakan fosil missing link yang selama ini dia cari. Dia juga yakin bahwa ketiganya milik dari satu individu.

“Dari keseluruhan konstruksi tulang paha bahwa tulang ini memiliki peran yang sama seperti pada tubuh manusia. Melihat tulang paha ini, dapat dikatakan dengan pasti bahwa Anthropopithecus of Java (Pithecantropus erectus) berdiri tegak dan bergerak seperti manusia,” tulis Dubois seperti dikutip Bert Theunissen.

Dubois lantas membuat deskripsi dan kajian lengkap soal fosil hominid yang kemudian diberi nama Pithecantropus erectus—Manusia kera yang berjalan tegak. Hasilnya dia publikasikan pada 1894 dan setahun kemudian, Dubois memutuskan untuk kembali ke Belanda membawa serta spesimen asli temuannya.

Infografik Mozaik Dubois Mencari Fosil di Jawa

Infografik Mozaik Dubois Mencari Fosil di Jawa. tirto.id/Tino

Fosil Pithecantropus erectus temuan Dubois itu lalu menuai beragam tanggapan dari para ahli. Secara umum, ada dua pendapat terkait dengan temuan Dubois ini. Menurut John de Vos dalam “The Dubois Collection: a New Look at an Old Collection” yang terbit dalam jurnal Scripta Geologica (Vol. 4, 2004), sekalangan ahli berpendapat bahwa temuan Dubois ini terlalu primitif meskipun sepenuhnya manusia.

Sementara itu, sebagian lainnya menilai Pithecantropus erectus terlalu mirip dengan manusia ketimbang kera. “Akibatnya, Pithecanthropus pasti ada di antara keduanya,” jelas de Vos.

Spesimen fosil asli temuan Dubois di Trinil itu kini tersimpan di Museum Naturalis Leiden. Bersamaan dengan repatriasi beberapa benda bersejarah dari Belanda, muncul permintaan mengenai pengembalian fosil Manusia Jawa itu.

“Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid, melalui surat tertanggal 1 Juli 2022, telah meminta kepada Gunay Uslu selaku Sekretaris Negara Bidang Kebudayaan dan Media Belanda untuk mengembalikan delapan benda budaya yang saat ini dirumahkan di Belanda. Salah satu di antaranya fosil manusia purba Pithecanthropus erectus temuan Eugene Dubois dari Trinil, Ngawi, Jawa Timur,” tulis Harry Widianto dalam opininya.

Masyarakat Indonesia tampaknya masih harus menunggu kepastian pengembalian spesimen asli Pithecanthropus erectus itu. Pasalnya, kajian-kajian masih harus dilakukan dan adanya keraguan dari Museum Naturalis Leiden dan berbagai pihak lain terkait kemampuan Indonesia menyimpan fosil itu. Namun, keraguan ini dijawab oleh Harry Widianto dalam opininya.

“Saat ini sudah banyak ahli Indonesia yang sanggup menjaga dan meletakkan posisi fosil-fosil tersebut bagi pengembangan pengetahuan di bidang evolusi manusia. Pemerintah RI pun telah menyediakan berbagai museum modern dengan laboratorium konservasi yang aman, antara lain di Museum Manusia Purba Sangiran.”

Baca juga artikel terkait MANUSIA PURBA atau tulisan lainnya dari Omar Mohtar

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Omar Mohtar
Penulis: Omar Mohtar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi