Mozaik

Eugene Dubois Mencari Fosil "The Missing Link" di Sumatra

Kontributor: Omar Mohtar, tirto.id - 9 Agu 2023 17:05 WIB | Diperbarui 27 Sep 2023 06:32 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Eugene Dubois datang ke Hindia Belanda untuk mencari fosil si mata rantai yang hilang. Menemui jalan buntu di Sumatra.
tirto.id - “Bengawan Solo, riwayatmu ini. Sedari dulu jadi perhatian insani….”. Sebagian besar dari Pembaca tentu familier dengan penggalan lirik tersebut. Itulah penggalan lagu “Bengawan Solo” ciptaan maestro keroncong Gesang Martohartono.

Sebagaimana digubah Gesang, sungai terpanjang di Jawa ini memang punya riwayat demikian panjang. Ia menjadi saksi perkembangan kehidupan manusia, bahkan bisa dirunut hingga ke masa Prasejarah. Karenanya pula, ia kemudian jadi “perhatian insani”.

Adalah fakta bahwa beberapa titik di aliran sungai ini menjadi lokasi penemuan sisa-sisa kehidupan dan budaya manusia purba. Lokasi-lokasi yang dimaksud sebut saja di antaranya Sangiran, Sambungmacan, Trinil, dan Ngandong. Lokasi-lokasi itu sejak dulu menjadi arena “berburu” para peneliti dunia kuno.

Salah satu ilmuwan paleoantropologi yang mendapat “hasil buruan” besar di sini adalah Eugene Dubois. Dialah penemu fosil salah satu jenis manusia purba yang dinamai Pithecanthropus erectus. Fosil yang ditemukannya di Trinil (kini masuk wilayah Ngawi, Jawa Timur) pada 1890 itu sohor disebut sebagai the missing link dalam evolusi manusia.

Namun, cerita kejayaan Dubois itu tentulah tak terjadi begitu saja. Itu adalah hasil dari kerja tekun dan pencarian panjang. Sebelum akhirnya menemukan fosil itu, Dubois terlebih dulu menemui sekian jalan buntu di Sumatra.




Datang ke Hindia Belanda

Marie Eugene Francois Thomas Dubois muda adalah seorang pengagum Teori Evolusi yang dibangun fondasinya oleh Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Renjana ilmiah Dubois juga dipertajam oleh dugaan ahli biologi Jerman Ernst Haeckel bahwa mata rantai yang hilang dalam proses evolusi manusia ada di negeri tropis.

“Menurut Haeckel, pada awalnya manusia muncul dalam bentuk yang primitif, Homo primigenius, yang didahului apa yang dikenal dengan mata rantai yang putus (hilang)”, tulis Francois Semah, Anne-Marie Semah, dan Tony Djubiantono dalam Mereka Menemukan pulau Jawa (1990, hlm. 3).

“Mata rantai yang hilang” merupakan istilah yang merujuk pada bentuk peralihan antara manusia primitif dan manusia yang lebih modern.

“Secara teoritis, mahluk peralihan ini dapat ditemukan di daerah tropis tempat anthropoida seperti orang utan hidup,” tambah Francois Semah dkk.

Semula Dubois adalah dosen anatomi di Universitas Amsterdam. Baru setahun mengajar, dia merasa tak cocok dengan pekerjaan itu. Terlebih, dia makin fokus pada sains evolusi manusia.

Penelitian paleoantropologi untuk mencari mata rantai yang hilang dalam evolusi manusia memang tengah marak di akhir abad ke-19 itu. Dubois pun terjangkiti semangat yang sama dan makin terdorong untuk melakukan penelitian lapangan di negeri tropis.

Maka Dubois memilih mundur dari universitas dan kemudian mendaftarkan diri menjadi dokter militer. Dia mengincar penugasan ke Hindia Timur, tanah jajahan Belanda yang beriklim tropis.

Dubois pun berangkat ke Hindia Belanda pada 1887 bersama istri dan anaknya. Di Hindia Belanda, Dubois mula-mula berdinas di Sumatra, tepatnya di Kota Padang. Namun tak lama kemudian, dia dipindahkan ke Payakumbuh.


Infografik Mozaik Fosil Manusia Purba di Sumatra
Infografik Mozaik Fosil Manusia Purba di Sumatra. tirto.id/Tino



Jalan Buntu di Payakumbuh

Di Payakumbuh inilah, sambil menjalankan tugasnya sebagai dokter, Dubois mulai melakukan penelitian-penelitian untuk mencari si mata rantai yang hilang. Pucuk dicinta ulam tiba, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kemudian membebaskan Dubois dari tugas hariannya sebagai dokter dan memberikan tugas baru untuk melakukan penelitian paleontologi penuh waktu.

“Pemerintah kolonial menugaskannya untuk melakukan penelitian paleontologis di Sumatra dan jika perlu di Jawa,” ungkap John de Vos dalam “The Dubois Collection: a New Look at an Old Collection” yang terbit dalam jurnal Scripta Geologica (Vol. 4, 2004, hlm. 270).

Pemerintah Kolonial memberinya penugasan khusus itu lantaran artikel yang sempat ditulisnya pada April 1888. Dalam artikelnya itu, Dubois menulis mengenai tujuan utamanya untuk melakukan penyelidikan paleontologi di Hindia Belanda. Siapa nyana Pemerintah Kolonial tertarik pada pekerjaan Dubois.

“Ada minat besar di luar negeri dalam penelitian arkeologi dan paleontologi, sementara Hindia Belanda dalam hal ini praktis menjadi wilayah yang belum banyak terjamah. Padahal, Hindia Belanda memiliki potensi yang besar terkait hal itu,” tulis Bert Theunissen dalam Eugene Dubois and the Ape-Man from Java: the History of the First Missing Link and its Discoverer (1988, hlm. 38-39).

Sebagai langkah pertama, Dubois memusatkan pencariannya pada beberapa gua yang ada di sekitaran Payakumbuh. Selama penyeidikan, seturut penelusuran John de Vos, Dubois mendapat bantuan dari dua serdadu korps zeni dan setidaknya 50 orang pekerja lokal.

Dalam kurun 1887 hingga 1890, Dubois melakukan penggalian di Gua Lida Ajer, Sibrambang, dan Djambu. Dari sana, Dubois menemukan dan mengumpulkan banyak sekali fosil, baik hewan maupun manusia purba. Sayangnya, Dubois tak puas atas temuan-temuan itu.

Pasalnya, tak satu pun fosil manusia di sana yang menunjukkan ciri-ciri peralihan yang diinginkan Dubois. Namun ada satu hal yang saat itu tak disadari oleh Dubois, bahwa fosil yang membuatnya kecewa ternyata punya nilai ilmiah yang signifikan.

Pada 1948—delapan tahun setelah wafatnya Dubois, paleontolog Belanda Dirk Albert Hooijer memastikan bahwa fosil gigi hominid yang ditemukan oleh Dubois itu merupakan milik Homo sapiens.

Hasil pengukuran oleh Kira Westaway dkk. yang dituangkan dalam “An Early Modern Human Presence in Sumatra 73,000–63,000 years ago” yang terbit dalam jurnal Nature (2017, Vol. 548) menyebut bahwa salah satu fosil gigi Homo sapiens yang ditemukan oleh Dubois itu ternyata berasal dari masa sekitar 63.000-73.000 tahun yang lalu.

Terkait temuan ini, arkeolog Harry Truman Simanjuntak dalam Manusia-manusia dan Peradaban Indonesia (2020) menulis, “Pertanggalan sapiens ini menunjukkan manusia modern awal sudah menghuni Sumatra pada masa jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.”

Dubois masih menggali di Payakumbuh hingga 1889. Di tahun yang sama, datanglah kabar bahwa B.D. van Rietschoten berhasil menemukan tengkorak manusia purba di Campurdarat, Tulungagung. Kabar inilah yang kemudian memberi harapan baru pada Dubois dan memalingkan fokusnya ke Jawa.

“Berkat penemuan itu dan atas undangan Rietschoten, Dubois memindahkan penelitian ke Jawa dan menggali di Campurdarat,” ungkap Truman Simanjuntak (hlm. 36).

Baca juga artikel terkait MANUSIA PURBA atau tulisan menarik lainnya Omar Mohtar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Omar Mohtar
Penulis: Omar Mohtar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight