Menuju konten utama

Kebijakan Presiden Espriella: Kolombia Kembali Jadi Mitra Israel

Kolombia dan Israel segera kembali menjalin hubungan diplomatik setelah dilantiknya Presiden Abelardo de la Espriella. Simak penjelasannya berikut ini.

Kebijakan Presiden Espriella: Kolombia Kembali Jadi Mitra Israel
Presiden baru Kolombia Abelardo de la Espriella menyampaikan pidato di Batalyon Pichincha setelah pengambilan sumpah, di Cali, Kolombia, pada 7 Agustus 2026. (Photo by Jaime SALDARRIAGA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, baru saja dilantik pada Jumat (7/8/2026). Namun, ia menjadikan normalisasi hubungan Kolombia-Israel sebagai salah satu kebijakan awal. Kebijakan ini menandai kebijakan luar negeri Kolombia yang berubah 180 derajat dari era kepresidenan sebelumnya, Gustavo Petro.

Tak hanya membuka kembali hubungan diplomatik, media El Pais melaporkan Espriella juga akan menempatkan kembali Israel sebagai salah satu mitra penting Kolombia. Hal ini disebut akan memulihkan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan dan alutsista.

Normalisasi hubungan tersebut sebelumnya telah tampak sejak sebelum Espriella dilantik pada Jumat. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Israel, Espriella telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada Kamis (6/8).

Keduanya bersama dalam sebuah pertemuan privat di Kantor Presiden Kolombia di Barranquilla. Normalisasi hubungan dan kerja sama kedua negara disebut menjadi salah satu inti topik pertemuan tersebut.

“Selama pertemuan yang berlangsung hampir tiga jam tersebut, keduanya membahas langkah-langkah praktis untuk memperkuat hubungan diplomatik, keamanan, dan ekonomi antara kedua negara,” tulis keterangan resmi Pemerintah Israel.

Sinyal normalisasi hubungan diplomatik Kolombia-Israel sebelumnya telah tampak mengkristal pada pertengahan Juli lalu. Seturut Anadolu, pembukaan kembali hubungan diplomatik telah disepakati oleh Menteri Luar Negeri Gideon Saar dan calon Menteri Luar Negeri Kolombia, Omar Bula.

Keduanya bertemu pada Juli dan menyepakati “peta jalan yang detail” untuk membangun kembali hubungan diplomatik kedua negara. Dalam peta jalan tersebut, dilaporkan kedutaan Kolombia akan ditempatkan ke Yerusalem, alih-alih Tel Aviv seperti kebanyakan negara yang menempatkan perwakilannya ke Israel.

Sebagaimana dilaporkan El Pais, Espriella selama masa kampanye telah menyerukan pentingnya moderasi artileri tentara di Kolombia. Israel kemudian dipandang pemerintahan baru Kolombia sebagai sekutu penting bersama Amerika Serikat (AS) untuk mewujudkannya.

“Kita perlu mendatangkan senjata, teknologi, drone, kecerdasan buatan generasi pertama,” kata Espriella dalam sebuah wawancara.

Abelardo de la Espriella sendiri merupakan politisi sayap kanan yang baru saja memenangkan pemilihan presiden tanpa memiliki rekam jejak pemerintahan sebelumnya. Ia merupakan seorang pengacara dan pebisnis yang digambarkan dekat dengan AS.

Ia memiliki kewarganegaraan ganda, termasuk Kolombia-AS. Dalam jalannya pemilihan tahun ini, Espriella mendapatkan dukungan langsung dari Presiden AS Donald Trump yang konservatif.

Abelardo de la Espriella naik tampuk kepresidenan Kolombia setelah mengalahkan politisi sayap kiri Iván Cepeda. Keduanya menjalani pemilu yang sengit dan Espriella memenangkannya dengan selisih yang tipis.

Kenapa Presiden Gustavo Petro Sempat Putuskan Hubungan dengan Israel?

Sebelum Espriella menjadi pemimpin negaranya, Kolombia dipimpin oleh Presiden Gustavo Petro. Masa kepemimpinan Petro menjadi alasan hubungan diplomatik Kolombia-Israel sempat terputus.

Berbeda dari Espriella, Gustavo Petro merupakan politisi sayap kiri. Ia memiliki pandangan yang sinis terhadap Israel, terutama selama tindakan genosida di Gaza sejak 2023.

Petro secara terbuka menyebut aksi militer Israel di Gaza sebagai genosida dan hal ini kemudian memicu meningkatnya friksi dua negara yang sejak lama dikenal sebagai sekutu itu.

Friksi tersebut bermula pada Oktober 2023. Kala itu, Petro secara terbuka menyamakan tindakan Israel di Gaza dengan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

Pernyataan itu memicu kebijakan Israel untuk menunda kesepakatan ekspor produk keamanan ke Kolombia. Hal ini kemudian dibalas Petro dengan menarik semua perwakilan diplomatik Kolombia di Israel.

Pada Mei 2024, Gustavo Petro secara resmi mengumumkan pemutusan hubungan Kolombia dengan Israel. Di saat yang sama, Petro juga memerintahkan pembukaan kedutaan di Ramallah, wilayah Otoritas Palestina (PA) di Tepi Barat.

Kedutaan Kolombia di Ramallah pada akhirnya tidak sempat dibangun imbas blokade yang diterapkan Israel di wilayah Palestina. Namun, hubungan Israel-Kolombia terus memburuk.

Aksi genosida yang dilakukan Israel di Gaza menjadi alasan utama pertikaian Gustavo Petro dengan satu-satunya negara Zionis di Timur Tengah itu. Di masa kepresidenannya, Kolombia juga menjadi salah satu negara yang mendukung gugatan Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ).

Akan tetapi, pertikaian itu kemudian berakhir seiring perubahan arus politik di dalam Kolombia. Kemenangan Abelardo de la Espriella dalam pemilu telah menormalisasi hubungan dua negara.

Sebelum terputus di masa kepresidenan Gustavo Petro, Kolombia dan Israel merupakan dua negara sekutu yang dekat. Kolombia bahkan disebut sebagai salah satu sekutu paling dekat Israel di kawasan Amerika Latin.

Hubungan dekat itu selama ini banyak dipengaruhi oleh status Israel sebagai kontraktor pertahanan utama bagi Kolombia. Negara Zionis itu telah menjadi pemasok penting bagi jaringan komunikasi, senjata, hingga jet tempur milik militer Kolombia.

Baca juga artikel terkait KOLOMBIA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar