Menuju konten utama

Menjahit Harapan Lewat Sol Sepatu di Tepi Jalan Dewi Sartika

Rakhmat menilai sol sepatu ini bukan hanya semata-mata aktivitas ekonomi, tapi juga menjadi satu nilai sosial budaya yang dipertahankan antargenerasi.

Menjahit Harapan Lewat Sol Sepatu di Tepi Jalan Dewi Sartika
Yanto ketika sedengan memperbaiki flatshoes, di Ruko Jalan Dewi Sartika, Rabu (5/8/2026). FOTO/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Deru mesin kendaraan bersahut-sahutan di Jalan Dewi Sartika, Depok, Rabu (5/8/2026). Di kiri-kanan jalan, ruko, bengkel, hingga gerai makanan silih berganti memadati jalan yang kini menjadi salah satu jalur tersibuk di Kota Belimbing, panggilan Kota Depok hingga saat ini.

Di tengah lalu lintas yang nyaris tak pernah sepi, sebuah lapak sederhana masih berdiri dengan tulisan "Sol Eman". Berbeda dengan kios atau toko lain di jalan tersebut, lapak ini jauh lebih kecil, bahkan mungkin tidak sampai 15 meter persegi. Hanya ada bangku kayu, sepatu digantung, benang, palu, lem, dan potongan karet sol yang tersusun seadanya.

Di tempat itu, Yanto (65) terlihat menghabiskan hampir seluruh harinya. Dengan tangan yang mulai keriput, Yanto menarik benang tebal menembus sol sepatu flatshoes yang mulai menganga. Gerakannya pelan, tetapi terlihat sangat fokus mengerjakan. Sesekali lem dioleskan ke pinggir-pinggir sepatu sambil menundukkan kepala. Puluhan kendaraan melintas tepat di depan ruko sederhananya.

Profesi itu bukan pekerjaan yang baru digelutinya. Hampir separuh abad hidupnya dihabiskan untuk menekuni profesi sebagai tukang sol sepatu.

"Sol sepatu dari tahun 1978," katanya singkat ketika mengenang awal perjalanan usahanya, di Ruko Jalan Dewi Sartika, Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (5/8/2026).

Sebelum memiliki pangkalan tetap di Jalan Dewi Sartika, Yanto berkeliling dari kawasan PAL, Beji, hingga Depok Timur. Hari demi hari, dia berkeliling mencari pelanggan yang berkenan menggunakan jasanya.

Menjahit Harapan di Tepi Jalan Dewi Sartika

Yanto ketika sedengan memperbaiki flatshoes, di Ruko Jalan Dewi Sartika, Rabu (5/8/2026). FOTO/Putri Az zahra

Berawal dari Belajar, Kini Jadi Pekerjaan

Saat berbincang, Yanto mengaku keahlian menjahit sepatu tidak diwariskan dari orang tua. Semua bermula dari rasa ingin tahu terhadap seorang teman asal Garut yang lebih dulu menjadi tukang sol. Semua berawal dari membantu pekerjaan sederhana, memperhatikan cara menusukkan jarum, hingga akhirnya mampu membeli peralatan sendiri dan membuka lapak.

Teman yang dahulu mengajarinya kini telah meninggal dunia, tetapi keterampilan yang diwariskan tetap menjadi bekal hidup hingga hari ini.

Selama puluhan tahun, pekerjaan sederhana itu mampu menghidupi keluarganya. Dari hasil mengesol sepatu, tiga anak Yanto berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMK, bahkan anak sulungnya diterima bekerja di perusahaan elektronik di Jepang.

Namun, keadaan kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Jumlah pelanggan terus menyusut. Hari-hari ramai tak lagi mudah ditemui. Tak jarang satu hari berlalu tanpa satu pun sepatu yang singgah di lapaknya.

"Omzet sekarang berkurang. Kadang dapat, kadang nggak. Kadang dapat satu, dua, kadang-kadang kosong. Kalau dapat paling buat makan doang," ujarnya pelan.

Meski penghasilan tak lagi sebesar dulu, rutinitasnya nyaris tak berubah. Yanto mengontrak sendiri di belakang rukonya dengan biaya Rp 550.000 per bulan. Setiap pagi, sekitar pukul delapan, dia membuka lapaknya, menanti pelanggan menginginkan jasanya. Menjelang pukul lima sore, semua pekerjaan dihentikan. Malam hari diisi dengan beristirahat dan mengaji bersama teman-temannya setiap malam Jumat.

Sebagian besar pelanggan yang datang saat ini merupakan langganan lama. Kebanyakan pelanggan yang datang antara lain ibu-ibu yang membawa sepatu sekolah anak untuk dijahit kembali.

Ketika sedang bercerita, seorang pelanggan wanita, Dian (45), datang menghampiri tempat Yanto untuk mengambil sepatu flatshoes-nya. Dian mengaku tetap memilih memperbaiki sepatu daripada membeli yang baru.

"Karena kondisi sepatu masih layak pakai. Lebih hemat daripada beli baru," katanya.

Justru, Dian bercerita, sepatu yang baru dibeli pun seringkali langsung dibawa ke tukang sol agar dijahit sehingga lebih kuat digunakan.

Menjahit Harapan di Tepi Jalan Dewi Sartika

Yanto ketika sedengan memperbaiki flatshoes, di Ruko Jalan Dewi Sartika, Rabu (5/8/2026). FOTO/Putri Az zahra

Keberadaan Tukang Sol Tak Hanya Bicara Ekonomi

Pilihan memperbaiki barang ternyata tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya. Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, melihat keberadaan tukang sol sepatu sebagai bagian dari sektor ekonomi informal yang memiliki akar sosial dan budaya yang kuat.

"Sol sepatu ini bukan hanya semata-mata aktivitas ekonomi, tapi juga menjadi satu nilai sosial budaya yang dipertahankan antargenerasi," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Menurut Rakhmat, hubungan antara tukang sol dan pelanggan dibangun melalui kepercayaan yang diwariskan dari orang tua kepada anak sehingga melahirkan hubungan timbal balik yang tidak semata-mata bersifat ekonomi.

Di tengah berkembangnya budaya repair culture, memperbaiki barang juga mulai menjadi pilihan yang lebih sadar terhadap lingkungan.

"Orang-orang sudah mulai berpikir ulang. Lebih baik menggunakan barang lama yang direparasi daripada membeli barang baru yang akhirnya menambah sampah," kata Rakhmat.

Kesadaran ekologis itu, menurutnya, menjadi alasan mengapa jasa reparasi seperti tukang sol, tukang jahit, hingga reparasi jam tangan masih tetap dibutuhkan.

Rakhmat juga menilai keputusan memperbaiki barang tidak selalu lahir dari keterbatasan ekonomi.

"Orang masih berpikir ini masih enak kok, masih nyaman kok digunakan gitu kan, masih bagus kok digunakan, cuma sedikit aja yang kurang apa ini kan tinggal direparasi, diperbaiki gitu loh. Jadi ini sebenarnya bukan semata-mata ekonomi ya," ujarnya.

Menurutnya, masyarakat kelas menengah justru memiliki kecenderungan lebih besar untuk mempertahankan barang yang masih layak pakai daripada langsung menggantinya dengan yang baru.

Di sisi lain, Yanto masih memilih bertahan. Meski anak-anak telah memintanya pulang ke kampungnya di Sukabumi, Yanto belum benar-benar siap meninggalkan bangku kecil dan peralatan yang telah menemaninya selama puluhan tahun.

"Mau sih istirahat. Namun kalau istirahat badannya benar-benar sakit karena biasa kerja," tuturnya.

Yanto memperkirakan akan bekerja sebagai sol sepatu hingga dua tahun lagi, setelah itu, Yanto berencana kembali ke kampung dan menikmati masa tua bersama keluarga.

Menjelang sore, satu pasang flatshoes yang semula menganga kembali utuh. Yanto menyerahkannya kepada pelanggan, lalu kembali merapikan benang dan jarumnya. Deru kendaraan masih memenuhi Jalan Dewi Sartika. Orang-orang berlalu lalang, sesekali Yanto dihampiri oleh temannya yang bekerja di samping kanan-kiri rukonya.

Menjahit Harapan di Tepi Jalan Dewi Sartika

Yanto ketika sedengan memperbaiki flatshoes, di Ruko Jalan Dewi Sartika, Rabu (5/8/2026). FOTO/Putri Az zahra

Baca juga artikel terkait SEPATU atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Andrian Pratama Taher