tirto.id - Di tengah derap modernisasi yang kian menggantikan tenaga manusia dengan mesin canggih, masih ada sosok-sosok yang bertahan dengan keterampilan tangan mereka. Mereka adalah sang penjaga masa lalu—pekerja manual yang terus berjuang meski dunia berubah. Perubahan dari zaman ke zaman tak membuat mereka mundur dari profesi yang digeluti.
Bandi (51), penjahit keliling di daerah Perumahan Margahayu, Bekasi Timur, Jawa Barat misalnya. Sejak 2010, Bandi telah berkeliling kampung dengan mesin jahitnya. Ia hampir akrab dengan seluruh penghuni perumahan. Saban hari, ia menyapa warga dari ujung ke ujung jalan.
"Dulu, hampir setiap hari ada yang minta jahit baju atau perbaiki kain sobek," kenangnya sambil menyesap teh hangat di warung pojok jalan. Kini, pelanggannya mulai berkurang. "Anak muda lebih suka beli baju baru ketimbang memperbaiki yang lama," sambungnya.

Tetapi bagi ibu-ibu di perumahan, kehadiran Subandi tetap dinanti. "Baju lama itu ada kenangannya. Kalau dibuang, seperti membuang sebagian hidup," begitu cerita Subandi soal pelanggan setianya.
Kisah Bandi berperang dengan modernisasi tak beda jauh dengan Romi (40). Romi lebih dikenal sebagai "Pak Sol" identik dengan pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu keliling. Sudah 15 tahun ia membawa bangku kayu dan kotak perkakasnya berkeliling perumahan.
"Dulu, sebelum ada sepatu murah impor, orang lebih sering memperbaiki sepatu yang rusak," ceritanya.
Tapi Romi tak kehabisan akal. Ia mulai menawarkan jasa kustomisasi sepatu—memberi sentuhan unik pada sepatu lama. "Banyak anak muda sekarang suka sepatu vintage tapi mahal. Saya bantu mereka modifikasi sepatu lama agar terlihat keren," ujarnya bangga.

Kata Romi, di tengah arus modernisasi, manusia tak boleh kalah dan tersungkur. Selalu ada cara mengakali setiap perubahan. Hanya butuh sentuhan berbeda agar setiap karya punya tempat di hati penikmatnya.
"Saya mungkin akan kalah dengan harga sepatu baru, yang harganya lebih murah dibanding dengan menjahit kembali. Tapi soal seni, saya jauh lebih oke. Saya mainkan kemampuan saya, itu yang saya jual," ceritanya sambil menjahit sepatu sepatu usang agar terlihat lebih bagus.
Meski menawarkan jasa kustomisasi sepatu, Romi tak lantas menutup rezeki untuk memperbaiki sepatu rusak. "Apapun yang diinginkan pelanggan, saya kerjakan. Kan nggak semua orang butuh custom sepatu. Asal jadi uang tetap kita hajar," katanya.
Di era di mana barang elektronik rusak lebih sering diganti daripada diperbaiki, Ali (39), tetap setia membenahi televisi tabung hingga kulkas lawas. "Banyak orang tua yang sayang dengan barang elektronik mereka karena punya nilai sejarah," katanya.
Keterampilannya membaca diagram elektronik tanpa panduan software membuatnya masih dicari. "Teknologi sekarang canggih, tapi tidak semua kerusakan bisa dideteksi mesin. Butuh feeling dan pengalaman," ujarnya.

Ali mulai belajar memperbaiki alat elektronik sejak remaja dari ayahnya, yang juga seorang teknisi manual. Meski kini banyak teknisi muda menggunakan alat digital dan aplikasi diagnosa otomatis, Ali tetap mengandalkan kepekaan tangan dan telinga.
"Kadang suara dengung kecil dari televisi sudah bisa kasih tahu di mana kerusakannya. Itu nggak bisa diajari, harus dilatih bertahun-tahun," ujarnya sambil tersenyum.
Ia mengaku sempat merasa terpinggirkan ketika tren servis digital mulai marak, tetapi pelanggan setianya tetap datang — terutama mereka yang membawa barang-barang antik atau elektronik yang sudah tidak diproduksi lagi.
"Pemiliknya bilang ini hadiah dari almarhum ayahnya. Kalau saya bisa hidup dari memperbaiki hal-hal seperti ini, rasanya hidup saya juga ikut punya arti," jelasnya sembari tersenyum.
Bandi, Romi, dan Ali mungkin bukan bagian dari dunia digital yang serba cepat. Tapi kehadiran mereka mengingatkan kita bahwa di balik gempuran modernisasi, ada nilai-nilai lama yang tetap berharga: keahlian tangan, kesabaran, dan cerita yang tersimpan dalam setiap reparasi.
"Selama masih ada yang membutuhkan, saya akan terus bekerja," kata Bandi, mengakhiri perbincangan. Dan di sudut kota yang lain, Romi dan Ali pun terus melanjutkan peran mereka—sebagai penjaga masa lalu di tengah arus zaman yang tak pernah berhenti bergerak.
Apa yang Membuat Mereka Bertahan?
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai banyak faktor yang membuat individu tetap bertahan dengan cara hidup manual atau tradisional. Faktor utamanya adalah keterikatan budaya dan nilai kolektif yang telah mendarah daging dalam kehidupan mereka.
"Mereka mungkin bukan generasi pertama yang menggeluti suatu pekerjaan yang ditekuni. Biasanya pekerjaan tersebut sudah turun-temurun. Jadi ada faktor keterikatan di sana," ujar Rakhmat kepada Tirto.
Sisi lain yang membuat individu atau kelompok mempertahankan cara hidup mereka adalah kebutuhan ekonomi. "Mereka menganggap mereka sudah ahli dalam bidang ini, sehingga menjadikan itu sebagai mata pencaharian utama," kata Rakhmat.
Ketidaktergantikan individu atau kelompok terhadap modernisasi, kata Rakhmat, tidak selalu harus dilihat sebagai bentuk resistensi terhadap modernisasi. Sebab, tidak semua penolakan terhadap modernisasi adalah reaktif. Sebagian adalah bentuk pilihan sadar untuk mempertahankan identitas kolektif.
"Dalam pendekatan sosiologi budaya, ketahanan budaya (cultural resilience) lebih tepat digunakan untuk menjelaskan bagaimana mereka tetap eksis bukan karena menolak secara frontal, tetapi karena memiliki sistem adaptif sendiri yang kokoh," jelasnya.
Lebih lanjut, Rakhmat menjelaskan, negara sebenarnya dapat ikut berperan dalam memberi ruang pada individu atau kelompok yang masih setia menggunakan cara lama dalam mencari rezeki. Langkah ini sangat perlu diambil agar mereka punya wadah untuk berkembang.
"Misalnya menyiapkan pameran-pameran. Pameran ini bisa dibuat beragam untuk menarik wisatawan. Jadi tujuannya semakin luas," tandasnya.
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id





























