Menuju konten utama

Kenapa Sultan Brunei Cabut Gelar Kerajaan Menantu Perempuannya?

Sultan Hassanal Bolkiah mencabut gelar kerajaan menantunya, Raabiatul Adawiyyah. Apa yang menjadi dasar keputusan tersebut?

Kenapa Sultan Brunei Cabut Gelar Kerajaan Menantu Perempuannya?
Pengiran Haji Bolkiah (kiri) dan Pengiran Raabi'atul Adawiyyah (Kanan). insatgram/dpm_paipra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah pada Sabtu (8/8/2026) mencabut gelar kerajaan “Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri” yang sebelumnya diberikan kepada menantunya, Pengiran Raabiatul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah.

Keputusan tersebut dibacakan oleh perwakilan kerajaan dan berlaku efektif segera. Pengiran Raabiatul Adawiyyah merupakan istri dari Pangeran Abdul Malik.

Kantor Grand Chamberlain mengumumkan pencabutan gelar Pengiran Raabiatul Adawiyyah tersebut. Penjabat Grand Chamberlain Pengiran Haji Raffizanna mengatakan keputusan itu merupakan perintah kerajaan yang dikeluarkan oleh Sultan.

Menurut laporan New Strait Times, pencabutan gelar dilakukan menyusul tindakan Raabiatul Adawiyyah yang dinilai tidak pantas dilakukan oleh seorang istri anggota keluarga kerajaan.

Tindakannya juga dinilai telah mencoreng nama baik kerajaan serta menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap Sultan Hassanal Bolkiah.

Dalam pengumuman tersebut tidak dijelaskan secara spesifik tindakan yang dimaksud maupun rincian lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut.

Perilaku tersebut dianggap telah mencoreng "nama baik serta menunjukkan kurangnya rasa hormat kepada Yang Mulia, Yang Mulia Duli Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha, dan Keluarga Kerajaan".

Siapa Raabiatul Adawiyah?

Raabiatul merupakan keturunan bangsawan. Ia adalah anak kedua dari sepuluh bersaudara, dan kakak laki-lakinya, Abdul Aziz Afizuddin, bekerja di Royal Brunei Airlines.

Sebelum masuk ke keluarga kerjaan, Raabiaatul bekerja di BAG Networks sebagai Analis Data Sistem pada tahun 2012 dan di HAD Technologies sebagai instruktur TI pada tahun 2013.

Ia merupakan siswi berprestasi sejak menempuh pendidikan dasar di Sekolah Al-Falaah dan Sekolah Rendah Rimba I, serta pendidikan menengah di Sekolah Menengah Menglait dan Sekolah Menengah Rimba.

Selama berada di sekolah, Raabiatul berpartisipasi dalam beberapa kompetisi musabaqah Al-Qur'an. Pada tahun 2013, ia memenangkan kategori Pembacaan Al-Qur'an Terbaik di kontes kecantikan Miss World Muslimah di Indonesia.

Sejak tahun 2012, Raabi'atul memperoleh beberapa sertifikatikasi keterampilan teknologi informasi dan komunikasi dari lembaga bergengsi seperti Microsoft dan Adobe.

Raabiatul Adawiyah kemudian menikah dengan Pangeran Abdul Malik, yang berada di urutan keempat dalam garis suksesi takhta. Mereka menikah pada April 2015 di Istana Nurul Iman, istana terbesar dan salah satu yang paling megah di dunia.

Pernikahan mereka pun menjadi salah satu pernikahan termahal pada abad ini. Raabiatul saat itu berusia 22 tahun dan bekerja sebagai analis data. Rangkaian upacara pernikahan tersebut berlangsung sekitar 10 hari.

Malik dan Raabiatul menetap di Istana Nurul Iman. Mereka memiliki empat orang putri yang semuanya menyandang sapaan kehormatan Yang Amat Mulia dan gelar Pengiran Anak.

Dalam salah satu rangkaian pernikahan, Sultan menggandeng tangan putranya dan meletakkannya di atas kepala mempelai perempuan. Gestur tersebut merupakan bentuk restu yang menandai pernikahan mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan memberikan gelar Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri kepadanya, yang setara dengan gelar putri kerajaan dan permaisuri, sekaligus secara resmi memasukkannya ke dalam dinasti kerajaan.

Sebelas tahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2026, Sultan secara resmi menghapus status tersebut.

Baca juga artikel terkait SULTAN BRUNEI atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Fahreza Rizky