Menuju konten utama

BPS Catat Harga Daging Sapi Tembus Rp200 Ribu per Kg

BPS meminta pemerintah daerah tetap mencermati pergerakan harga sejumlah komoditas, terutama daging ayam ras dan daging sapi.

BPS Catat Harga Daging Sapi Tembus Rp200 Ribu per Kg
Pedagang memotong daging sapi yang dijual di Pasar Besar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (13/1/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) secara umum menunjukkan perbaikan di 21 provinsi mencatatkan penurunan IPH pada minggu pertama Agustus 2026. Meski begitu, terdapat 65 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH dan 161 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH.

"Secara total kalau kita lihat ada sekitar yang mengalami kenaikan IPH adalah 65 kabupaten/kota sementara yang mengalami penurunan IPH ada 161 kabupaten kota. Jadi yang mengalami penurunan IPH lebih banyak dibandingkan dengan yang mengalami kenaikan IPH," ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam paparannya di Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, dikutip akun YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (10/8/2026).

Meski demikian, Amalia meminta pemerintah daerah tetap mencermati pergerakan harga sejumlah komoditas, terutama daging ayam ras dan daging sapi.

Untuk daging sapi, persoalannya bukan hanya kenaikan harga di sejumlah daerah, tetapi juga level harga yang secara nasional telah berada jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).

BPS mencatat rata-rata nasional harga daging sapi pada minggu pertama Agustus 2026 telah mencapai Rp143.737 per kilogram. Bahkan, di sejumlah kabupaten/kota, harga daging sapi telah mencapai Rp200 ribu per kilogram.

"Ini yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena secara nasional rata-rata harga daging sapi pada minggu satu Agustus 2026 ini sudah jauh di atas HAP," kata Amalia.

Salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian adalah Kabupaten Melawi. Harga daging sapi di daerah tersebut telah mencapai Rp180 ribu per kilogram atau 28,6 persen di atas HAP.

Daerah lainnya adalah Kabupaten Kubu Raya. Harga daging sapi di daerah tersebut telah mencapai sekitar Rp165 ribu per kilogram atau 17,86 persen di atas HAP. Pada saat yang sama, IPH daging sapi masih meningkat 7,51 persen.

Berbeda dengan daging sapi, daging ayam ras saat ini masih berada di bawah HAP secara rata-rata nasional. Harga rata-rata daging ayam ras tercatat sekitar Rp39.712 per kilogram.

Namun, laju kenaikan harga komoditas pangan tersebut relatif tinggi. BPS mencatat sebanyak 188 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH daging ayam ras.

"Ini adalah beberapa catatan tentang penyebab kenaikan harga daging ayam ras. Misalnya di Kabupaten Bangka Selatan, kenaikan harga ayam ras dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan sebagai alternatif pengganti ikan karena angin kencang dan ombak tinggi membatasi aktivitas nelayan. Sehingga, stok ikan berkurang dan kemudian orang beralih untuk membeli ayam," terang Amalia.

Di daerah lain seperti Binjai, kenaikan harga ayam ras dipicu oleh faktor yang berbeda. Permintaan ayam meningkat seiring kembali beroperasinya SPPG setelah libur sekolah.

Sementara di Labuhanbatu Selatan, kenaikan harga dipicu keterbatasan stok ayam di pasar ketika permintaan meningkat.

Amalia mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena harga daging ayam ras masih berada sedikit di bawah HAP. Jika kenaikan harga terus berlanjut, harga ayam berpotensi menembus batas acuan tersebut.

Apalagi, sejumlah daerah bahkan telah mencatat kenaikan harga yang signifikan. Di Kabupaten Bangka Selatan, misalnya, IPH daging ayam ras meningkat 34,58 persen meski harga masih sekitar 3 persen di bawah HAP.

Sementara di Kota Binjai, IPH daging ayam ras meningkat 29,78 persen dan harga sudah sekitar 5 persen di atas HAP. Adapun di Kabupaten Kepahiang, IPH meningkat 21,34 persen dengan harga sekitar 20 persen di atas HAP.

BPS juga mencatat beberapa komoditas lain yang perlu mendapat perhatian. Untuk wilayah Sumatera, daging ayam ras dan beras menjadi komoditas yang perlu dicermati. Sementara di Jawa, perhatian diarahkan pada daging ayam ras dan daging sapi.

"Mungkin catatan-catatan ini bisa kemudian menjadi bahan bapak ibu untuk mengendalikan harga karena di sebagian kota dan kabupaten memang ada keterbatasan pasokan dan juga di beberapa tempat memang sisi permintaannya

sedang meningkat," tegas Amalia.

Baca juga artikel terkait HARGA DAGING SAPI NAIK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama