The Lord of the Rings Bermula dari Pegawai di Sebuah Penerbit

Kontributor: Tyson Tirta, tirto.id - 2 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Tolkien sebenarnya menginginkan LOTR menjadi cerita anak-anak. Namun ketika menulis, ia tenggelam dalam alur cerita yang lebih gelap dan serius.
tirto.id - Para penikmat film dan novel The Lord of the Rings mendapat suguhan terbaru berupa serial televisi yang tayang perdana pada 1 September 2022. J. D. Payne dan Patrick McKay dipercaya mengembangkan produksi serial ini untuk layanan streaming Prime Video milik Amazon.

Hak siar telah dibeli oleh Amazon sejak November 2017. Nilai pembeliannya sebesar 250 juta dolar AS. Amazon juga berkomitmen menginvestasikan dana 1 miliar dolar AS untuk memproduksi serial terbaru berjudul The Lord of the Rings: The Rings of Power selama 5 musim ke depan.

Produksi ini sekaligus menandai kerja sama bisnis antara Amazon Studios, Tolkien Estate, Tolkien Trust, HarperCollins, dan New Line Cinema.

Sesuai judulnya, serial ini mengambil referensi dari novel karya salah satu sastrawan legendaris berkebangsaan Inggris, J. R. R. Tolkien. Akan tetapi, ada kesepakatan khusus antara Amazon Studios dengan Tolkien Estate, badan legal yang memiliki otoritas mengurus hak kekayaan intelektual Tolkien.

Isi kesepakatannya menyebutkan bahwa serial terbaru ini tidak akan menjadi sekuel atau cerita lanjutan dari film trilogi The Lord of the Rings (LOTR) dan Hobbit. Serial itu pun mengambil latar cerita ribuan tahun sebelumnya.

Alih-alih melanjutkan cerita lama, Amazon bermaksud membangkitkan kembali gairah film-film dengan desain produksi sejenis dan melakukan syuting delapan episode pertamanya di Selandia Baru pada Februari 2020 hingga Agustus 2021.

Di balik produksi sinematik itu, J. R. R. Tolkien adalah novelis yang brilian. Selain menulis karya-karya sastra dengan ragam fantasi yang memukau pembaca, ia juga seorang filolog dan akademisi.

Keahliannya menelusuri naskah manuskrip tentang peradaban kuno di dunia Barat membuka imajinasinya mengenai struktur cerita LOTR secara umum.

Jauh sebelum menulis LOTR, Tolkien telah melalui pergulatan pemikiran yang panjang. Ia kerap berdiskusi dengan C. S Lewis, intelektual Irlandia yang juga aktif menulis. Lewis dikenal publik lewat karyanya yang paling populer: The Chronicles of Narnia.

Keduanya semakin akrab ketika sama-sama aktif di jurusan Sastra Inggris di Universitas Oxford. Selain itu, mereka juga terlibat dalam Inklings, kelompok diskusi sastra yang mengembangkan gagasan fantasi dan ragam narasi dalam cerita-cerita fiksi.

Belakangan, aktivitas Tolkien di kelompok ini dan karya-karya yang ia hasilkan membuatnya disebut sebagai Bapak Literatur Fantasi Modern.

Sejak berusia 10 tahun, Tolkien bersama sepupunya asyik bermain dengan bahasa Animalic, bahasa khusus yang salah satu prinsipnya menggunakan kumpulan nama-nama hewan di Inggris. Kegemaran akan bahasa terus berkembang dalam diri Tolkien kecil hingga usia remaja.

Meski kala itu ia berkesempatan belajar bahasa Latin dan Anglo-Saxon, Tolkien dan sepupunya tetap mengutak-atik bahasa hingga melahirkan bahasa yang mereka sebut Nevbosh, yang relatif lebih kompleks. Selain itu, Tolkien sendiri menciptakan bahasa lain yang ia sebut Naffarin.


Awal Penulisan The Lord of the Rings

Tolkien sebenarnya tidak pernah menyangka karangannya bisa populer. Kegemarannya bermain dengan bahasa mendorongnya untuk menyelesaikan sebuah cerita yang ia susun untuk anak-anaknya.

The Hobbit, cerita itu, ia tulis pada 1930-an dan tak menarik perhatian banyak orang. Namun pada 1936, Susan Dagnall--seorang karyawan yang bekerja di perusahaan penerbitan London George Allen & Unwin--menemukan cerita itu dan mendorongnya agar dipublikasikan.

Meski agak enggan, The Hobbit akhirnya ia kirimkan ke penerbit. Setahun kemudian novel itu benar-benar diterbitkan dan menarik perhatian banyak pembaca. Stanley Unwin dari pihak penerbit langsung mengajukan tawaran kepada Tolkien untuk menulis cerita sekuelnya.

Permintaan menulis sekuel itu memicu Tolkien untuk membuat variasi cerita dengan pengembangan alur serta plot yang lebih kompleks. Seperti The Hobbit, sekuel ini juga mengambil latar Silmarillion, sebuah realitas alternatif yang dibangun Tolkien dalam rupa dimensi ruang dan waktu di dunia tengah alias middle earth.

Menurut Humphrey Carpenter, Tolkien sebenarnya telah menyimpan hasrat untuk membangun cerita dengan landasan realitas mitologi Inggris Raya. Tolkien yang kala itu sedang menempuh pendidikan sarjana kagum dengan buku Kalevala, sebuah kumpulan puisi epik yang dikumpulkan oleh sastrawan Finlandia, Elias Lonnrot dari folklore dan mitologi Finlandia.


Infografik Mozaik JRR Tolkien
Infografik Mozaik J.R.R. Tolkien. tirto.id/Ecun


“Ada elemen ketiga yang sangat terlihat di masa muda Tolkien yaitu hasratnya untuk menciptakan semacam mitologi untuk Inggris Raya,” kata Humphrey Carpenter dalam J. R. R. Tolkien: A Biography (1977).

Selain itu, Tolkien tetap pada pendiriannya mengemas cerita dengan gaya yang sama dengan The Hobbit. Ia ingin cerita ini menjadi cerita anak-anak. Namun ketika menulis, Tolkien sadar bahwa ia telah tenggelam dalam alur cerita yang lebih gelap dan serius.

Imbasnya, proses penulisan memakan durasi lebih dari satu dekade. Di masa-masa itulah dukungan teman-temannya di Inklings termasuk C. S. Lewis tak pernah berhenti.

The Lord of the Rings pun akhirnya berhasil diselesaikan. Hingga di masa tuanya, Tolkien tak berhenti menulis dan “bermain-main” dengan bahasa.

Atas jasanya dalam dunia literatur, serta pengaruhnya pada dunia sastra modern, Kerajaan Inggris memberikan penghargaan Commander of the Order of the British Empire pada 1972. Selain itu, pada tahun yang sama Universitas Oxford memberikan gelar kehormatan doktor dalam bidang sastra.

Tolkien meninggal dunia di Bournemouth, Inggris pada 2 September 1973 dalam usia 81 tahun. Dalam surat wasiatnya, kekayaan Tolkien sebagai penulis dinilai sekitar 190.577 Poundsterling. Dengan kurs tahun 2022, jumlah itu setara dengan 2.452.000 Poundsterling.

Baca juga artikel terkait THE LORD OF THE RINGS atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Film)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight