tirto.id - Sebuah unggahan video beredar di media sosial Facebook mengklaim adanya cairan tidak kasat mata dimasukkan ke dalam vaksin, hal itu disebut sebagai bagian dari agenda sistem pengawasan individu manusia di bumi.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Ila Farghob,” (arsip) pada Senin (8/7/2024). Cuplikan video berdurasi 1 menit 34 detik tersebut memperlihatkan sebuah magnet kecil ditempelkan pada lengan seseorang yang telah divaksin dan terdengar pembicaraan terkait vaksinasi yang dikaitkan dengan menempelnya magnet pada lengan itu.
Terdengar suara laki-laki dalam video mengatakan bahwa magnet bisa menempel di lengan, karena chip RFID (Radio Frequency Identification) dimasukan bersama vaksin AstraZeneca yang disuntikan pada 2020. Hal itu disebut sebagai teknologi nano, yang memasukkan graphene ferro oksida ke dalam chip RFID.
“Invisible Ink Could Reveal whether Kids Have Been Vaccinated. Vaksinasi Anak2 pun Ada!” Begitu narasi yang mengklaim tinta tak kasat mata sudah dimasukkan pula pada vaksin Covid-19 untuk anak-anak.
Pengunggah juga menuliskan keterangan, “Bagian Dari Agenda adalah sistem pengawasan individu manusia di bumi ini. Nyatanya bukan hanya bahan² haram, najis, dan bahan penyusun bahaya lainnya, tetapi lebih kompleks lagi bahwa mereka memasukkan tinta tak kasat mata pada vaksin. Selain dari vaksin covid 19 ternyata tinta ini sudah dimasukkan pula pada vaksin anak². Pekerjaan ini didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation dan muncul karena permintaan langsung dari pendiri Microsoft dan filantropis Bill Gates sendiri, yang telah mendukung upaya untuk memberantas penyakit seperti polio dan campak di seluruh dunia, kata Jaklenec. “Jika kita tidak memiliki data yang baik, maka akan sangat sulit untuk memberantas penyakit,” katanya. Yakin Kill Gates tak punya maksud & siasat lain?? https://www.scientificamerican.com/.../invisible-ink.../”
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (21/7/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 26 likes, 4 komentar, dan 1,5 kali ditayangkan.
Lantas, benarkah dalam vaksin dimasukkan tinta tak kasat mata sebagai bagian dari sistem pengawasan manusia?

Penelusuran Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Melansir laman FactCheck.org yang ditulis pada 14 April 2020, beredar teori konspirasi yang secara keliru mengklaim Bill Gates berencana menggunakan pengujian COVID-19 dan vaksin masa depan untuk melacak orang dengan menggunakan microchip.
Faktanya, penelitian yang didanai oleh Yayasan Gates tidak berkaitan dengan penanaman microchip atau pelacakan manusia melalui vaksin COVID-19. Penelitian tersebut bertujuan mengembangkan tinta tak terlihat yang dapat menyimpan riwayat vaksinasi pada kulit, khususnya untuk membantu pencatatan vaksin di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Tanda tersebut hanya dapat dibaca menggunakan ponsel pintar yang dimodifikasi dari jarak sangat dekat (kurang dari 30 cm) dan tidak memiliki kemampuan untuk melacak lokasi atau pergerakan seseorang.
Peneliti Kevin McHugh seorang profesor bioteknologi di Universitas Rice menegaskan bahwa teknologi ini hanya berfungsi sebagai penyimpan data vaksinasi, bukan alat pelacak. Yayasan Gates juga mengonfirmasi bahwa penelitian tersebut tidak memiliki hubungan dengan program vaksin COVID-19. Oleh karena itu, klaim bahwa vaksin COVID-19 digunakan untuk menanam microchip pelacak merupakan teori konspirasi yang tidak berdasar.
“Tanda-tanda ini dikembangkan untuk menyediakan catatan vaksinasi dan tidak ada kemampuan untuk melacak pergerakan siapa pun. Teknologi ini hanya mampu menyediakan data yang sangat terbatas (misalnya, tidak dipersonalisasi) secara lokal. Tanda-tanda ini memerlukan pencitraan garis pandang langsung dari jarak kurang dari 1 kaki. Pelacakan jarak jauh atau berkelanjutan sama sekali tidak mungkin dilakukan karena berbagai alasan teknis.” Begitu jelas Kevin McHugh sebagaimana dikutip dari Factcheck.org.
Adapun tautan artikel https://www.scientificamerican.com/.../invisible-ink.../ yang dicantumkan dalam unggahan, membahas penelitian yang dilakukan oleh para insinyur MIT yang mengembangkan cara untuk menyimpan informasi medis di bawah kulit. Dengan menggunakan pewarna titik kuantum yang diberikan bersamaan dengan vaksin, melalui patch jarum mikro. Pewarna tersebut tidak terlihat oleh mata telanjang dan dapat dibaca kemudian menggunakan ponsel pintar yang telah dimodifikasi khusus.
Pada akhir 2019, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) memang menerbitkan studi tentang penggunaan quantum dot (titik kuantum) dan jarum mikro (microneedle) untuk merekam riwayat vaksinasi di bawah kulit. Tujuannya adalah untuk membantu pencatatan medis di negara berkembang yang belum memiliki infrastruktur digital.
Namun, teknologi titik kuantum ini masih dalam tahap konseptual di laboratorium dan tidak pernah digabungkan dengan cairan vaksin apa pun termasuk vaksinasi wajib maupun vaksin COVID-19.
Dalam laman Reuters, proyek teknologi pewarna titik kuantum memang menerima pendanaan dari Yayasan Bill dan Melinda Gates, tetapi video yang beredar, menyajikan teknologi ini secara menyesatkan dan menggambarkannya dengan tidak akurat. Video tersebut secara keliru mengklaim bahwa pewarna tersebut adalah "chip" dan "sistem pelacakan yang akan mengubah DNA".
Pewarna titik kuantum tersebut bukan sistem pelacakan dan tidak menyandikan informasi pribadi apa pun.
Senada dengan hal tersebut dalam laman Tempo, klaim bahwa tinta tak kasat mata dimasukan ke vaksin adalah tidak benar. Vaksin COVID-19 dibuat dari bahan biologis, seperti mRNA, protein atau virus yang dilemahkan dan aman, serta tidak bersifat magnetik.
Menurut seorang epidemiolog Indonesia dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, narasi-narasi tersebut sudah lama beredar yang disebarkan oleh kelompok penganut teori konspirasi.
Video yang melihatkan seseorang menempelkan magnet pada lengan yang disuntik vaksin menunjukan bahwa ada chip yang dimasukan ke dalam tubuh adalah tidak benar. Dicky menegaskan tidak ada komponen magnetik dalam vaksin.
“Jadi vaksin tidak mengandung komponen logam atau bahan magnet. Video yang menunjukkan magnet menempel pada kulit di lokasi suntikan, sebetulnya hal yang umum. Banyak faktor yang bisa membuat benda kecil seperti magnet menempel sementara pada kulit. Minyak atau kelembaban kulit bisa menyebabkan benda kecil seperti magnet menempel sementara. Atau juga teknik menempatkan,” ungkap Dicky, dikutip dari Tempo, 14 Juli 2024.
Dicky menjelaskan, semua vaksin termasuk vaksin COVID-19 telah melalui uji klinis yang ketat dan diawasi terus oleh otoritas kesehatan. Kalau di Indonesia ada Badan POM dan juga tentu Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Komposisi setiap vaksin itu dipublikasikan dan dapat diakses oleh publik.
“Artinya tidak ada bukti ilmiah yang bisa mendukung klaim bahwa vaksin mengandung barang haram, najis, dan berbahaya. Karena diperlihatkan secara transparan,” jelasnya.
Proses persetujuan vaksin juga harus memenuhi standar keamanan sebelum disetujui untuk publik. Dalam hal ini termasuk analisa yang sangat mendalam terhadap bahan-bahan yang digunakan.
Terkait tinta tak kasat mata dan alat deteksi, Dicky menyebut tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa vaksin mengandung tinta tak kasat mata atau alat deteksi. Karena teknologi seperti itu tidak pernah ditemukan dalam vaksin
Khusus vaksin COVID-19, sudah terbukti dibuat dari bahan biologis, seperti messenger RNA, protein atau virus yang aman, dan tidak bersifat magnetik. Jadi, setelah vaksin diberikan maka vaksin akan hilang menjadi proses yang disebut sebagai respon imun.
Dengan demikian, klaim yang menyebutkan bahwa vaksin dimasukkan tinta tak kasat mata untuk mengawasi manusia adalah keliru dan tidak didukung dengan fakta ilmiah.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan di dalam vaksin dimasukkan tinta tak kasat mata sebagai sistem pengawasan manusia bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Unggahan Facebook tersebut membuat klaim palsu berupa konspirasi bahwa vaksin mengandung tinta tak kasat mata yang berfungsi sebagai "sistem pengawasan manusia di bumi". Padahal, vaksin tidak mengandung bahan-bahan tersebut dan teknologi riset MIT tidak memiliki fungsi pelacakan.
MIT memang menerbitkan studi tentang penggunaan quantum dot (titik kuantum) dan jarum mikro (microneedle) untuk merekam riwayat vaksinasi di bawah kulit, namun cairan tersebut sampai saat ini tidak pernah digabungkan dengan vaksin.
Faktanya, vaksin COVID-19 dibuat dari bahan biologis, seperti messenger RNA, protein atau virus yang aman, dan tidak bersifat magnetik.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id

































