Menuju konten utama

Keliru, Vaksin Sebabkan Radang Otak pada Bayi

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, menegaskan, vaksin DPT merupakan vaksin yang tidak mengandung kuman hidup, sehingga secara ilmiah tidak menyebabkan meningitis.

Keliru, Vaksin Sebabkan Radang Otak pada Bayi
Periksa Fakta Bayi Radang Otak. foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Terjadi insiden salah suntik vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) ganda pada bayi berusia sembilan bulan pada Sabtu (13/6/2026) di Puskesmas Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Menyusul kasus tersebut, beredar unggahan di media sosial mengklaim bayi tersebut mengalami radang otak akibat salah vaksin.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Dian Ulva,” (arsip) pada Kamis (2/7/2026). Unggahan tersebut menampilkan gambar bayi yang tertutup gambar dengan tulisan, “Niatnya Vaksin Campak Tapi Malah Disuntik DPT, Bayi 9 Bulan di Bekasi Kejang Sampai Alami Radang Otak.” Pengunggah menambahkan narasi, “bayi RADANG OTAK gara-gara SALAH VAKSIN. Dian Ulva.

Dalam keterangan unggahan juga dituliskan kronologi kejadian oleh pengunggah, “Kejadian memilukan menimpa seorang bayi berusia 9 bulan di wilayah Bekasi Barat.

​Sang ibu berinisial A mengungkapkan, anaknya mengalami kejang hebat hingga harus dirawat di ruang PICU akibat demam tinggi pasca-imunisasi di salah satu puskesmas.

Dokter mendiagnosis sang bayi mengalami pembengkakan atau radang otak.

​Sang ibu membeberkan, awalnya ia datang untuk vaksin campak, namun petugas justru menyuntikkan vaksin DPT dengan alasan dosis ketiga belum lengkap—padahal catatan di Buku KIA mengklaim sudah lengkap.”

Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (10/7/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 2 ribu likes, 637 komentar, dan 682 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi dengan tulisan pengalaman vaksin anak ibu-ibu lainnya dan beberapa orang menuliskan tidak mau memvaksin anaknya.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Anggini” (arsip) dalam obrolan grup Ide Menu MPASI dan Menu Sehat Anak, yang menuliskan bahwa akibat salah suntik vaksin bayi di Bekasi mengalami radang otak.

Yang lagi Viralllll. Salah Suntik Vaksin, Bayi di Bekasi Alami Radang Otak!

Jadwalnya suntik campak, tapi petugas malah menyuntikkan vaksin DPT hingga dua kali di kedua paha sang bayi. Bayi berusia 9 bulan di Bekasi ini langsung kejang-kejang hingga harus dirawat intensif di ruang PICU akibat mengalami ensefalitis

Saat ini, tim Komite Nasional PP KIPI dan Dinkes masih terus menyelidiki keterkaitan medis antara kesalahan prosedur tersebut dengan kondisi radang otak sang bayi.Mari kita kirimkan doa terbaik untuk kesembuhan sang bayi agar bisa segera pulih.

Lantas, benarkah vaksin mengakibatkan radang otak bagi bayi tersebut?

Periksa Fakta Bayi Radang Otak

Periksa Fakta Bayi Radang Otak. foto/hotline periksa fakta tirto

Penelusuran Fakta

Dalam lamanTirto dijelaskan bahwa insiden salah suntik vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) ganda pada bayi berusia sembilan bulan di Puskesmas Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi, disebabkan rapuhnya pengawasan di fasilitas kesehatan primer. Peristiwa yang diduga berujung pada diagnosis peradangan selaput otak ini menjadi alarm keras atas keteledoran prosedur operasional standar (SOP) dan kegagalan komunikasi risiko pada institusi kesehatan publik.

Insiden pada Sabtu (13/6/2026) itu bermula saat orang tua korban bermaksud memberikan vaksin campak sesuai jadwal imunisasi dasar. Namun, rentetan prosedur janggal diduga telah terjadi sejak awal di ruang tindakan.

Ibu korban mengungkap, petugas bidan menolak melakukan pemeriksaan fisik dasar seperti penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, bahkan meminta sang ibu melakukannya sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan.

Melalui kesaksian di akun TikTok @andinney, ibu korban menyebut bidan bekerja sangat terburu-buru dan langsung melakukan penyuntikan vaksin DPT tanpa melakukan verifikasi buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) atau menunjukkan label vaksin terlebih dahulu. Padahal, dosis DPT ketiga tersebut justru telah dilengkapi sang bayi di klinik swasta sebelumnya.

Astagfirullahaladzim, kok DPT Bu? Saya kan ke sini mau campak! Saya daftarnya campak di pendaftaran! Orang yang di bagian timbang juga bilang campak kok ke saya!” ujar @andinney, menirukan ucapannya saat kejadian dalam video kronologi yang dikutip dari Tirto, Jumat (3/7/2026).

Namun, protes tersebut ditanggapi secara defensif oleh petugas yang bersikeras bahwa berdasarkan catatan internal, sang anak belum menerima dosis DPT 3. Petugas cenderung memandang enteng situasi dengan hanya menyarankan pemberian parasetamol jika timbul demam, sebuah respons yang dinilai mengabaikan kekhawatiran mendalam pasien.

Dampak insiden tersebut, diceritakan pihak keluarga, berujung fatal. Kurang dari 24 jam pasca penyuntikan ganda vaksin DPT 3, sang bayi mengalami demam tinggi yang memicu kejang hebat selama lebih dari 30 menit. Kondisi darurat ini memaksa pasien dilarikan ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di sebuah rumah sakit.

Ternyata bener, diagnosanya tuh radang otak, ada pembengkakan otak gitu akibat dari kejang itu, panas yang tinggi itu,” ungkap @andinney dengan nada getir.

Direktur Imunisasi Kemenkes, Indri Yogyaswari, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai insiden tersebut. Kemenkes turut menyampaikan simpati atas kondisi pasien dan keresahan yang dirasakan pihak keluarga.

Hasil kajian kausalitas oleh Komda KIPI Jawa Barat yang disetujui Komnas KIPI, menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan sebab-akibat antara pemberian vaksin dengan kondisi klinis bayi.

Indri menjelaskan, bahwa pasien didiagnosis menderita meningitis (radang selaput otak) dan bronkopneumonia (radang paru).

Bisa dikatakan kekeliruan pemberian vaksin tidak menyebabkan radang otak,” tegasnya.

Menurut informasi Dinkes Kota Bekasi, kondisi bayi kini telah membaik dan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Perspektif medis dari otoritas kesehatan sejalan dengan penjelasan Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K). Beliau menegaskan, vaksin DPT merupakan vaksin yang tidak mengandung kuman hidup, sehingga secara ilmiah tidak menyebabkan radang selaput otak atau meningitis.

Vaksin DPT (pentavalen) diberikan 3 dosis sebagai imunisasi dasar dan booster pada usia 18 bulan. Dosis booster yang diberikan lebih awal atau dosis vaksin berlebih yang diberikan secara tidak sengaja, juga tidak menyebabkan radang selaput otak mengingat vaksin tersebut tidak mengandung kuman hidup,” jelas Prof. Hartono kepada wartawan Tirto, Jumat (3/7/2026).

Lebih lanjut, Prof. Hartono memberikan penjelasan tambahan terkait fenomena kejang yang dikhawatirkan orang tua pasca vaksinasi. Menurutnya, apabila seorang anak mengalami kejang setelah imunisasi, kondisi tersebut umumnya adalah kejang demam yang dipicu oleh kenaikan suhu tubuh, dan bukan merupakan indikasi radang selaput otak.

Melansir akun Instagram @theasianparent_id, Dinkes menegaskan vaksin DPT ganda bukan penyebab radang otak. Kemungkinan si Kecil sudah terpapar infeksi sebelumnya yang belum terdeteksi. Kabar baiknya, bayinya sudah membaik dan boleh pulang.

Setelah vaksin jika bayi kejang, orang tua diimbau agar tidak panik dan dapat melakukan langkah berikut:

  1. Baringkan di tempat aman.
  2. Longgarkan pakaiannya.
  3. Jangan memasukkan apapun ke mulutnya
  4. Segera bawa ke IGD
Senada dengan hal tersebut, dalam akun Instagram @wowbekasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengakui adanya kesalahan pemberian vaksin ganda terhadap bayi perempuan berusia sembilan bulan berinisial NR di Puskesmas Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat. Namun, Dinkes menegaskan bahwa kondisi radang otak atau meningitis yang dialami bayi tersebut tidak berkaitan dengan vaksin yang diberikan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, menjelaskan hasil evaluasi bersama Tim Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat menyimpulkan bahwa memang terjadi pemberian vaksin ganda akibat pencatatan riwayat imunisasi yang tidak lengkap pada buku vaksinasi pasien.

Menurut Satia, Dinkes Kota Bekasi telah berkoordinasi dengan Tim KIPI Jawa Barat yang melibatkan dokter dan pakar imunisasi untuk melakukan kajian terhadap kasus tersebut. Salah satu pakar yang dilibatkan adalah ahli imunisasi, Prof. Herman.

Berdasarkan hasil kajian, kata Satia, hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang menghubungkan pemberian vaksin dengan munculnya encephalitis maupun meningitis.

Belum pernah ditemukan literatur yang menyatakan vaksin menyebabkan radang otak. Kemungkinan pasien sudah terpapar infeksi sebelumnya, tetapi belum terdeteksi. Vaksinasi hanya bertepatan dengan munculnya gejala penyakit itu,” katanya.

la menjelaskan bahwa radang otak maupun meningitis pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri yang dapat ditularkan melalui berbagai paparan. Menurutnya, kondisi tersebut sangat mungkin sudah berkembang sebelum proses imunisasi dilakukan.

Dinkes Kota Bekasi, juga memastikan pemerintah siap menanggung biaya pengobatan apabila terdapat biaya yang tidak ditanggung oleh jaminan kesehatan keluarga pasien. Saat ini, kondisi bayi tersebut diklaim telah membaik dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Dengan demikian, klaim yang menyebutkan bahwa insiden salah vaksin menyebabkan radang otak pada bayi adalah keliru dan perlu diluruskan. Insiden salah vaksin tersebut memang terjadi, namun tidak mengakibatkan radang otak pada korban. Secara medis, vaksin DPT tidak menyebabkan radang selaput otak (meningitis) ataupun radang otak (ensefalitis).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim insiden salah vaksin menyebabkan radang otak pada bayi adalah konteks keliru dan perlu diluruskan (missing context).

Dinkes Kota Bekasi menegaskan bahwa kondisi radang otak yang dialami bayi tersebut tidak berkaitan dengan vaksin yang diberikan. Secara medis, vaksin DPT tidak menyebabkan radang selaput otak (meningitis) ataupun radang otak (ensefalitis).

Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menegaskan, vaksin DPT merupakan vaksin yang tidak mengandung kuman hidup, sehingga secara ilmiah tidak menyebabkan radang selaput otak atau meningitis.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto