tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim orang yang telah divaksin dengan vaksin COVID-19 lebih mungkin terinfeksi penyakit daripada yang belum divaksin. Hal tersebut dikarenakan vaksin disebut perawatan terapi gen eksperimental yang dapat merusak DNA dan sistem kekebalan tubuh secara permanen.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Omar Syahban” (arsip) pada Rabu (6/5/2026). Unggahan tersebut menampilkan Dr. Robert Malone pada video akun X @MJTruthUltra.
“Dr. Robert Malone: Anda lebih mungkin terinfeksi, terkena penyakit, atau bahkan meninggal, jika Anda telah divaksinasi dengan Vaksin COVID-19 dibandingkan dengan yang belum divaksinasi. Perawatan terapi gen eksperimental ini dapat merusak DNA dan sistem kekebalan tubuh anak-anak Anda, dan diri Anda sendiri secara permanen.” Begitu tertulis dalam keterangan unggahan.
Dalam video berdurasi 1 menit 5 detik tersebut Robert menjelaskan bahaya vaksin COVID-19 dan menyebutkan perawatan terapi gen dengan vaksin dapat merusak anak-anak dan penggunanya, seperti merusak jantung, otak, jaringan reproduksi, paru-paru dengan kerusakan permanen, dan kelumpuhan sistem kekebalan tubuh.
“It's not adequate to only consider the short-term adverse events as related to the vaccine. We must acknowledge that the genetic COVID-19 genetic injections cause far more harm than good and provide zero benefit relative to risk for the young and healthy. They do not reduce COVID-19 infection which is treatable and not terminal.
Furthermore, the most recent data demonstrates that you are more likely to become infected or have disease or even death if you've been vaccinated compared to the unvaccinated people. This is shocking to hear, but it is what the data are showing us. The data now show that these experimental gene therapy treatments can damage your children as well as yourself. They can damage your heart, your brain, your reproductive tissue, and your lungs. This can include permanent damage and disablement of your immune system.” Begitu kata Robert dalam video.
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (23/06/2026), unggahan tersebut masih beredar di media sosial dan rawan disebarkan menjadi berita bohong.
Lantas, benarkah vaksin dapat menyebabkan kerusakan DNA dan sistem kekebalan tubuh?

Penelusuran Fakta
Ahli virologi Amerika Robert Malone dikenal karena sering menyebarkan informasi yang salah tentang vaksin COVID-19, terutama yang menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA). Malone kembali muncul dalam video viral yang berupaya mendiskreditkan vaksin dan mencegah orang untuk mendapat vaksinasi COVID-19.
Teranyar, video yang tersebar di media sosial diambil dari konferensi pers yang diberikan pada 11 Mei 2022. Dalam video itu ia menyebut vaksin sebagai “terapi gen eksperimental” dan mengatakan, bahwa data membuktikan vaksin tersebut harus dihentikan. Faktanya, pernyataan-pernyataan tersebut adalah tidak benar.
Melansir laman Estadao, Malone disebut sebagai "bintang disinformasi Covid" oleh The New York Times. Rekaman yang digunakan dalam unggahan yang diverifikasi di sini menunjukkan kebohongan lain yang dia sampaikan. Vaksin terbukti efektif melawan virus corona.
Kementerian Kesehatan RI menegaskan, bahwa klaim yang menyebutkan imunisasi dapat merusak sel dan DNA, sehingga menyebabkan penyakit autoimun, meningitis, dan penyakit lainnya adalah keliru.
“Narasi ini sangatlah salah. Imunisasi tidak dapat merusak sel dan DNA. Kami menyarankan masyarakat untuk mencari informasi yang benar dari website Kemenkes, WHO, CDC,” begitu tegas Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI dr. Prima Yosephine, M.K.M. Prima.
Ketua Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI) Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, SpA(K), M.Trop.Paed. menambahkan, narasi tentang kerusakan sel dan DNA akibat imunisasi sudah lama beredar. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan imunisasi dengan kerusakan sel dan DNA, penyakit autoimun, maupun meningitis.
“Isu ini sudah ada sejak tahun 2002, dan sampai saat ini belum ada bukti yang menyatakan kerusakan DNA, autoimun, dan meningitis dengan vaksinasi yang diberikan,” begitu keterangan Prof. Hindra.
Faktanya, imunisasi adalah upaya pemberian vaksin untuk melindungi seseorang dari penyakit tertentu dan meningkatkan kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit menular pada masa mendatang. Imunisasi tidak hanya melindungi individu dari serangan penyakit serius, tetapi juga melindungi masyarakat dengan membantu membangun kekebalan komunitas dan meminimalkan penyebaran penyakit.
Kemenkes RI menekankan bahwa imunisasi tepat waktu pada masa anak-anak sangat penting. Hal ini karena imunisasi membantu memberikan kekebalan sebelum anak-anak terpapar penyakit yang berpotensi mengancam jiwa. Selain itu, vaksin yang diberikan telah teruji aman dan efektif untuk anak-anak pada usia yang direkomendasikan.
Efek samping imunisasi yang umum terjadi adalah nyeri, demam, atau sakit kepala. Efek samping ini dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Akan tetapi perlu diingat bahwa KIPI tidak selalu terjadi dan manfaat imunisasi jauh lebih besar dibandingkan risiko efek sampingnya.
Imunisasi juga membantu mengurangi kecemasan orang tua terhadap penyakit berbahaya dan menular pada anak-anak. Dengan imunisasi, orang tua dapat merasa lebih yakin bahwa anak-anak mereka akan mengalami proses tumbuh kembang yang sehat dan aman. Beberapa penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi, antara lain hepatitis B, tuberkulosis (TB), tetanus, difteri, pertusis, polio, meningitis, pneumonia, campak, dan rubella.
Laman Estadao menuliskan, bahwa video tersebut merupakan pernyataan dokter yang secara keliru mengaku sebagai pelopor vaksin mRNA. Dokter itu mengklaim telah mendapat dukungan dari 17.000 dokter dan ilmuwan medis di seluruh dunia untuk menyatakan bahwa "injeksi terapi gen eksperimental untuk COVID-19" harus dihentikan, karena berbahaya bagi kesehatan anak-anak dan orang dewasa.
Tanpa memberikan bukti apa pun, dokter tersebut mengatakan, bahwa "data sekarang menunjukkan terapi gen eksperimental ini dapat membahayakan anak-anak," dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jantung, otak, paru-paru, dan organ reproduksi, serta "melumpuhkan" sistem kekebalan tubuh.
Faktanya, dari 17.000 pakar yang diklaim mendukung pernyataan Malone, hanya 67 nama yang dapat diverifikasi di situs web tersebut. Situs web itu dibuat untuk menyimpan teks klaim, yang versi aslinya berasal dari Oktober 2021.
Istilah "terapi gen eksperimental" bukan pertama kalinya digunakan untuk merujuk pada vaksin Covid-19. Proyek Comprova, yang mana Estadão Verifica menjadi bagiannya, menunjukkan bahwa istilah tersebut bahkan tidak masuk akal ketika merujuk pada vaksin Covid. Ini karena, terapi gen eksperimental hanya dilakukan pada hewan laboratorium.
Fernanda Grassi, PhD di bidang Imunologi dan peneliti senior di Institut Gonçalo Moniz dari Yayasan Oswaldo Cruz (Fiocruz) menjelaskan, vaksin mRNA bukanlah terapi gen, dan molekul RNA yang terdapat dalam imunisasi tidak menyebabkan bahaya apapun bagi tubuh manusia.
“Secara konseptual, vaksin adalah zat yang menginduksi produksi antibodi untuk mencegah perkembangan penyakit. Vaksin bukanlah terapi gen karena terapi gen memodifikasi gen,” begitu jelas Grassi.
Berbeda dengan terapi gen, vaksin mRNA mengajarkan tubuh untuk mensintesis protein Spike yang spesifik untuk virus corona, sehingga sistem kekebalan tubuh tahu bagaimana melawannya, jika virus tersebut bersentuhan dengan tubuh.
UNICEF menegaskan, vaksin COVID-19 tidak mengubah DNA manusia, fakta dan bukti berupa pandangan dan pernyataan para ahli, menunjukkan bahwa informasi mengenai efek berbahaya vaksin COVID-19 terhadap DNA manusia adalah tidak berdasar dan tidak benar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah yang pertama menanggapi pernyataan tersebut dengan penjelasan:
“Teknologi vaksin mRNA COVID-19 telah diuji secara ketat untuk keamanannya, dan uji klinis telah menunjukkan bahwa vaksin mRNA memberikan respons imun yang tahan lama. Teknologi vaksin mRNA telah dipelajari selama beberapa dekade, termasuk dalam konteks vaksin terhadap virus Zika, rabies, dan influenza. Vaksin mRNA bukanlah vaksin virus hidup dan tidak mengganggu DNA manusia.”
Opini ahli mengenai topik ini juga dipublikasikan di laman BBC. Salah satunya dinyatakan oleh Profesor Jeffrey Almond. “Menyuntikkan RNA ke dalam tubuh seseorang tidak berpengaruh pada DNA sel manusia,” begitu keterangan Profesor Jeffrey Almond dari Universitas Oxford.
Adapun cara kerjanya adalah dengan menginstruksikan tubuh untuk memproduksi protein yang ditemukan di permukaan virus corona. Sistem kekebalan tubuh kemudian belajar bagaimana mengenali dan memproduksi antibodi terhadap protein tersebut.
Dr. Vladimir Jovanovic dari KCCG atau Pusat Klinis Montenegro juga menjelaskan, sebagaimana dikutip dari laman UNICEF, bahan-bahan yang membentuk vaksin virus corona, berbasis asam ribonukleat (RNA). Ketika masuk ke dalam tubuh, bahan-bahan tersebut sama sekali tidak menembus inti sel, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk bersentuhan dengan materi genetik yang terkandung di dalamnya.
Oleh karena itu, bisa disimpulkan, vaksinasi tidak akan menyebabkan bahaya apa pun bagi tubuh, terutama dalam hal mengubah struktur rantai DNA.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa vaksin dapat merusak DNA dan sistem kekebalan tubuh secara permanen adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Kemenkes membantah klaim yang beredar dan menegaskan bahwa vaksin bermanfaat melindungi seseorang dari penyakit tertentu, serta meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap berbagai penyakit menular pada masa mendatang.
UNICEF menegaskan, fakta dan bukti menunjukkan bahwa informasi mengenai efek berbahaya vaksin COVID-19 terhadap DNA manusia adalah tidak berdasar dan tidak benar.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id































