Menuju konten utama

Tidak Benar, Hantavirus Disebut Pandemi COVID-19 Jilid 2

Sampai saat ini tidak ada bukti yang membenarkan klaim bahwa hantavirus merupakan “COVID-19 jilid 2” atau akan memicu pandemi global seperti COVID-19.

Tidak Benar, Hantavirus Disebut Pandemi COVID-19 Jilid 2
Header Periksa Fakta Hantavirus Covid Jilid 2. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah unggahan video beredar di media sosial Instagram yang mengklaim hantavirus sedang dirilis sebagai pandemi COVID-19 jilid 2.

Video tersebut disebarkan oleh akun Instagram bernama @suara_rakyattertindas (arsip) pada Sabtu (09/05/2026). Dalam unggahan tersebut menampilkan suasana rumah sakit dengan beberapa petugas memakai alat pelindung diri (APD), yang terlihat tergesa-gesa tengah mendorong pasien, serta sejumlah orang yang turun dari ambulans lalu menari bersama.

Turns Out “They” Staged The Covid Pandemic Too.” Begitu narasi tertulis dalam video. Pengunggah juga menambahkan keterangan “Hanta Virus . Pandemi Covid 19 jilid 2 sedang dirilis . #Hantavirus #viralreels #reels #indonesiagelap #indonesia.

Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (12/06/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 62 likes, 24 komentar, dan 11 kali dibagikan ulang. Dalam cuplikan video tersebut tertulis nama pengunggah asli @conspiracy.deception.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @terrifyingoldhistoryscary, @stanica_florinsfi, dan @hauntingclips. Semua unggahan tersebut menampilkan cuplikan video serupa terkait pandemi COVID-19. Namun video tersebut tidak mengklaim hantavirus sebagai pandemi COVID-19 jilid 2.

Lantas, benarkah hantavirus adalah virus yang dirilis untuk pandemi COVID-19 jilid 2?

Periksa Fakta Hantavirus Covid Jilid 2

Periksa Fakta Hantavirus Covid Jilid 2. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto

Penelusuran Fakta

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya mengarah pada laman Knack yang menyatakan bahwa video tersebut sebenarnya menampilkan proses syuting adegan rumah sakit untuk keperluan dokumenter atau film, bukan kejadian nyata yang direkayasa.

Video tersebut hasil rekayasa dan bukan bukti perihal pandemi COVID-19. Faktanya, video itu hanya menunjukkan proses pembuatan materi promosi sebuah fasilitas rumah sakit di Israel yang disalahgunakan untuk mendukung klaim palsu perihal pandemi COVID-19.

Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Hantavirus adalah pandemi COVID-19 jilid 2” pada mesin pencarian Google. Hasilnya mengarah ke laman Tempo, virolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Abdul Rahman Siregar, menyatakan virus hanta dan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 berbeda meski gejala awalnya mirip. Virus hanta menyebar melalui kontak dengan tikus, bukan lewat droplet antarmanusia seperti COVID-19.

Mengenai video yang diunggah, cuplikan video pertama merekam proses syuting iklan Shamir Medical Center, sebuah rumah sakit di Israel, lima tahun lalu. Fotografer dan juru kamera tampak dikelilingi ranjang rumah sakit dan pasien. Seorang pria juga terlihat memberikan arahan kepada petugas medis berpakaian APD.

Adapun pada cuplikan video kedua, memperlihatkan sejumlah orang mengenakan APD dan pakaian tradisional Yahudi menari bersama. Unggahan itu menuding warga Yahudi tengah merayakan keberhasilan merekayasa pandemi.

Faktanya, pencarian gambar terbalik menemukan video itu diunggah di akun Instagram media Israel, Hamal News, pada 8 Juli 2020. Keterangan video tersebut menjelaskan bahwa sekelompok orang mengenakan hazmat mendatangi sebuah pesta pernikahan dengan ambulans, lalu menari bersama.

Senada dengan hal tersebut, dikutip dari AFP, layanan medis darurat pemilik ambulans, Magen David Adom (MDA), menyatakan tidak ada satu pun orang dalam video tersebut yang berafiliasi dengan mereka kecuali sang sopir. Alat pelindung diri yang digunakan diperoleh dari fasilitas medis di pusat negara yang tidak berhubungan dengan MDA. Sopir ambulans bersangkutan juga sedang tidak bertugas saat peristiwa terjadi dan telah menerima teguran.

Menurut WHO, infeksi virus hanta tergolong jarang di dunia. Sepanjang 2023, Eropa melaporkan 1.885 kasus. Di Asia Timur, khususnya Tiongkok dan Korea Selatan, demam berdarah virus hanta dengan sindrom ginjal (HFRS) memicu ribuan kasus tahunan, meski jumlahnya menurun dalam beberapa dekade terakhir.

Dalam United Nations News, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa wabah hantavirus mematikan di atas kapal pesiar di Samudra Atlantik menimbulkan risiko kesehatan masyarakat global yang rendah dan “bukan awal dari pandemi COVID lainnya”.

A deadly hantavirus outbreak aboard a cruise ship in the Atlantic Ocean poses a low global public health risk and is “not the start of another COVID pandemic”, the World Health Organization (WHO) said on Thursday.” Begitu dikutip dalam UN News yang diterbitkan pada 7 Mei 2026.

Hantavirus merupakan virus yang sudah lama dikenal dan umumnya menular dari hewan pengerat (tikus) ke manusia, bukan menyebar luas melalui udara seperti SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

WHO menilai risiko kesehatan masyarakat global tetap rendah dan tidak ada indikasi bahwa wabah ini akan berkembang menjadi pandemi global. Maria Van Kerkhove dari WHO menegaskan bahwa virus ini bukan SARS-CoV-2 dan bukan awal dari pandemi COVID karena hantavirus sudah ada sejak lama dan tidak menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona.

This is not SARS-CoV-2. This is not the start of a COVID pandemic,” ujar Maria Van Kerkhove, Pelaksana Tugas Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO. “Hantaviruses have been around for quite a while. We know this virus. It does not spread the same way that coronaviruses do,” tambah Maria.

Wabah yang terjadi di kapal pesiar tersebut merupakan kejadian terbatas dengan risiko global yang rendah dan karakteristik penularan yang sangat berbeda dari COVID-19.

Senada dengan hal tersebut, laman School of Public Health Harvard menyatakan bahwa para ahli epidemiologi menilai kemungkinan hantavirus berkembang menjadi pandemi global sangat kecil karena hantavirus tidak mudah menular antarmanusia, berbeda dengan SARS-CoV-2, penyebab COVID-19.

Tidak ada bukti bahwa hantavirus merupakan “COVID-19 jilid 2” atau akan memicu pandemi global seperti COVID-19. Wabah yang terjadi di kapal pesiar tersebut dipandang sebagai kejadian terbatas dengan risiko penyebaran yang rendah.

Dalam laporan Tirto, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono juga meyakini bahwa hantavirus tidak akan berkembang menjadi pandemi seperti COVID-19. Sebab, virus ini memiliki perantara untuk menyebarkannya.

Enggak [akan seperti covid], engga sampai,” kata Dante kepada wartawan usai acara Mengejar Anak Zero Dose di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).

Dante menjelaskan hantavirus memiliki dua jenis utama, yakni Hanta Fever Renal Syndrome yang kelainannya bisa panas tinggi, sakit kuning, sakit ginjal dengan angka kematian 15 persen. Dan ada juga jenis Hanta Pulmonary Syndrome yang menyerang paru-paru dengan fatalitas lebih tinggi, mencapai 60 hingga 80 persen.

Hingga kini Indonesia mencatat 23 kasus hantavirus sejak 2024. Seluruh kasus yang ditemukan merupakan jenis Hanta Fever Renal Syndrome.

Dengan demikian, klaim yang menyebutkan bahwa hantavirus adalah pandemi COVID-19 jilid 2 adalah tidak benar dan tidak didukung oleh fakta ilmiah.

Kesimpulan

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa unggahan video yang mengklaim bahwa hantavirus adalah pandemi COVID-19 jilid 2 bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

Cuplikan video yang beredar pada unggahan di media sosial adalah rekaman proses syuting iklan Shamir Medical Center, sebuah rumah sakit di Israel. Dalam rekaman itu, terlihat sejumlah orang mengenakan pakaian hazmat dalam sebuah pesta pernikahan.

Sampai saat ini tidak ada bukti yang membenarkan klaim bahwa hantavirus merupakan “COVID-19 jilid 2” atau akan memicu pandemi global seperti COVID-19.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PANDEMI COVID-19 atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto