tirto.id - Hamas disebut sepakati perlucutan senjata Board of Peace (BoP) jika agenda itu dilakukan berdasarkan persyaratan mereka. Presiden Amerika Serikat (AS) menyambut hal tersebut, sementara Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan mengakalinya.
Seturut Al Jazeera, kesepakatan agenda perlucutan senjata itu diungkap seorang pejabat Hamas , Ghazi Hamad. Ia dilaporkan telah mengatakan kepada Reuters bahwa Hamas bersedia melucuti senjata, namun hanya akan menyerahkannya ke Komite Nasional Palestina.
Komite Nasional Palestina merupakan badan yang diusulkan oleh BoP ketika menjadi mediator perjanjian perdamaian Hamas-Israel pada Oktober 2025. Badan ini direncanakan bakal berperan sebagai otoritas wilayah Gaza.
Akan tetapi, penyerahan senjata hanya kepada Komite Nasional Palestina bukan satu-satunya syarat yang diminta Hamas. Dalam keterangannya, Ghazi Hamad juga menekankan agenda perlucutan senjata hanya akan dilakukan jika Israel menarik pasukannya di Gaza.
Selain itu, Hamad juga menyebut agenda perlucutan senjata harus dilakukan seiring Komite Nasional Palestina dan pasukan internasional memasuki Gaza. Hal ini, katanya, krusial untuk membongkar kelompok bersenjata yang didukung Israel.
Hal ini disambut baik oleh Donald Trump. Pada Kamis (30/7), Presiden AS itu membuat pernyataan bahwa agenda perlucutan senjata Hamas telah disepakati melalui unggahan media sosial miliknya.
“Hari ini, Board of Peace mencapai kesepakatan BERSEJARAH untuk PERLUCUTAN SEPENUHNYA Hamas dan semua kelompok bersenjata lainnya di Gaza,” tulis Trump, sembari menyebut kesepakatan itu merupakan “langkah monumental” untuk mencapai perdamaian dan keamanan yang langgeng.
Akan tetapi, pada Jumat (31/7), pernyataan Trump dibantah gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), yakno kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina lain yang berbasis di Gaza. Menukil CNN, PIJ mengatakan pernyataan Trump itu “tidak akurat”.
Menurut sumber anonim CNN yang digambarkan sebagai seorang pejabat BoP, Hamas dan faksi bersenjata lain dikatakannya akan menyerahkan senjata dalam dua tahap. Pertama, mereka akan menyerahkan senjata polisi terlebih dahulu, baru kemudian senjata pribadi pada tahap akhir.
Sementara itu, para pejabat AS dan BoP menyebut perkembangan ini sebagai hasil dari proses “negosiasi yang sangat rumit” selama berbulan-bulan. Kini mereka menganggap kemauan Hamas untuk melucuti senjata sebagai “terobosan”.
Apa yang disebut sebagai terobosan itu terjadi setelah Hamas mengumumkan akan membubarkan pemerintahan di Gaza. Pernyataan itu sebelumnya diumumkan Hamas pada awal Juli lalu.
Israel Dukung Perlucutan Senjata, Tapi Mungkin Enggan Tarik Tentara
Israel, di pihak lain, kini disebut berada di bawah tekanan karena Hamas mulai menunjukkan komitmen untuk memenuhi perjanjian. Pada saat yang sama dengan situasi ini, pasukan Israel dan kelompok bersenjata yang mereka dukung masih menduduki sebagian wilayah Gaza.
Sejak tercapainya kesepakatan pada Oktober 2025, Israel terus menyatakan bahwa mereka menginginkan perlucutan senjata penuh. Israel terus menolak mekanisme perlucutan senjata dengan menyerahkannya ke Otoritas Palestina atau unit Palestina di bawah komite internasional.
Koresponden Al Jazeera yang berbasis di Tepi Barat, Nida Ibrahim, menyebut perkembangan yang kini terjadi pada Hamas tampaknya bukan hal yang diinginkan PM Israel Benjamin Netanyahu. PM Israel itu telah berulang kali menolak ide penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Akan tetapi, Netanyahu disebut akan menghadapi posisi sulit karena Trump, sekutu terpentingnya, telah mendorong tercapainya kesepakatan Israel-Gaza dengan segala upaya. Netanyahu diperkirakan tak dapat menentang Trump, meski terdapat peluang dirinya akan bersiasat untuk menghindari tanggung jawab menarik pasukannya dari Gaza.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































