Menuju konten utama

Hoaks, Vaksin HPV Bahayakan Nyawa Anak-Anak

Video yang beredar, menampilkan Babeh Aldo dalam aksi menolak kewajiban vaksin COVID-19 untuk anak sekolah. Tidak ada kaitannya dengan penolakan vaksin HPV.

Hoaks, Vaksin HPV Bahayakan Nyawa Anak-Anak
Periksa Fakta vaksin HPV membahayakan nyawa anak. foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Unggahan video beredar di media sosial Facebook mengklaim pemberian vaksin Human Papillomavirus (HPV) sengaja diperluas kepada anak-anak sebagai bentuk kelinci percobaan yang dapat membahayakan nyawa dan mengakibatkan penyakit serius.

Video tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana,” (arsip) pada Selasa (5/8/2025). Unggahan video berdurasi 1 menit 50 detik tersebut menampilkan cuplikan Babeh Aldo dan Dharma Pongrekun yang menyampaikan pendapatnya terkait pemberian vaksin pada anak.

Ada apa kemenkes? Jangan bermain-main dengan nyawa rakyat Indonesia. Jangan! Anak-anak tiap hari ada korban. Tiap hari ada korban. Dan selalu jawaban Dinas Kesehatan sama. Bukan karena vaksinasi. Ada yang bilang coincidence, itu sakit hati banget gue.

Anak Indonesia mati abis di vaksin katanya kebetulan. Ini apa? Ayolah ayo, buat rakyat Indonesia. Buka mata kalian. Datang ke sini. Kalian lihat ini kemenkes kalian. Gue begini untuk belain anak kalian.

Nggak dapat ape-ape gue. Yang bisa bayar gue bukan manusia. Manusia miskin semuanya buat gue. Yang kaya itu Allah. Dan gue kesini karena Allah. Karena pembelaan gue buat seluruh rakyat Indonesia. Wahai rakyat Indonesia. Masihkah kalian tidur? Masihkah kalian tidak sadar? Kemenkes kalian seperti ini. Mandatory diteruskan. Anak-anak tiap hari mati. Kami hanya mengajak diskusi. Buktikan kami yang salah atau mereka yang salah. Tapi mereka tidak mau. Kurang ajar.” Begitu kata Babeh Aldo dalam video.

Pada menit ke 1.16 cuplikan video menampilkan Dharma Pongrekun tengah berbicara terkait imunisasi, “Imunisasi itu berefek kepada kehancuran, kerusakan sel dia, sebagai sel atau DNA dari Allah. Membuat mereka menjadi autis, membuat mereka menjadi kena meningitis, polio, autoimun, dan sebagainya. Tetapi sayangnya diantara mereka tidak pernah ada yang mau diskusi terbuka dengan saya. Saya bahkan ingin berdiskusi terbuka dengan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi. Ayo, dan kenapa baru kali ini, seorang Menteri Kesehatan bukan berlatar belakang kesehatan.” Begitu narasi yang diucapkan Dharma dalam video.

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (14/7/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,6 ribu likes, 169 komentar, dan 51 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar berisi pengalaman vaksin warganet dan tidak sedikit yang menuliskan dukungannya terhadap penolakan vaksin.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @singanuswantara, yang menampilkan video serupa dan gambar ilustrasi vaksinasi dengan klaim penolakan vaksinasi pada anak usia 11 tahun yang diklaim akan mulai divaksin pada 2027

Wahai Rakyat Indonesia,, masihkah kalian tertidur ?! Buka Mata Kalian… Mari berjuang bersama selamatkan bangsa ini 🙏🇮🇩 Panjang umur perjuangan seluruh Patriot Pembela Bangsa @pongrekundharma88 @siti_fadilah_supari

@babehmpr101 Jangan jadikan generasi anak bangsa menjadi Kelinci Percobaan 🫵 @kemenkes_ri Jangan bermain-main dengan NYAWA RAKYAT INDONESIA ❗❗❗

Ingat, menkes Budi Gunadi Sadikin sudah tanda tangan kontrak dgn Bi// Gates utk mentransformasikan kesehatan rakyat Indonesia tanpa seizin kita rakyat. (Peraturan 1341 thn 2022).

Jangan-jangan uji coba vaksin TBC yg baru diumumin 7 Mei 2025 karena Budi Gun*di S*dikin (Pemerintah Indonesia) udah jual rakyat Indonesia pd Bi// Gates, udah termasuk dlm kontrak yg telah ditandatangani tsb . Indonesia masuk dlm negara uji coba pertama dlm masalah kanker, TBC tuborkulesi.

📢📢📢 HINDARI CKG (CEK KESEHATAN GRATIS)

Tujuannya percepatan digitalisasi utk mempercepat PLANDEMIC JILID KE - 2.” Begitu narasi tertulis dalam keterangan unggahan.

Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Periksa Fakta vaksin HPV membahayakan nyawa anak

Periksa Fakta vaksin HPV membahayakan nyawa anak. foto/hotline periksa fakta tirto

Penelusuran Fakta

Sebagai informasi, Dharma Pongrekun adalah seorang Purnawirawan Perwira Tinggi Polri dan Politikus Independen. Ia menentang keras kewajiban vaksinasi dan mendasarkan argumennya pada teori konspirasi global. Dalam pandangannya, vaksin baru, seperti vaksin COVID-19, merupakan bagian dari agenda terselubung elite asing dan alat kontrol digital, yang diklaim terhubung dengan kecerdasan buatan (AI) untuk mengikis kedaulatan masyarakat.

Adapun Babeh Aldo, dengan nama asli Muhammad Ali Ridho bin Husain Assegaf adalah seorang konten kreator, aktivis sosial, dan influencer media sosial yang dikenal luas karena kelantangannya dalam menyuarakan kritik sosial, isu kedaulatan, serta pandangan skeptis terhadap kebijakan pandemi global.

Sama seperti Dharma Pongrekun, nama Babeh Aldo sempat melejit secara kontroversial karena menjadi salah satu tokoh yang gencar menentang narasi arus utama mengenai COVID-19 dan kewajiban vaksinasi.

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, cuplikan video tersebut identik dengan berita di laman Demokrasi.co.idyangmemperlihatkan aktivis Babeh Aldo melayangkan protes kepada Kemenkes terkait vaksin anak. Sementara, pada laman Official iNews, dan Seputar iNews RCTIdilaporkan, Babeh Aldo melakukan aksi unjuk rasa menolak kewajiban vaksin COVID-19 untuk anak sekolah, tepatnya di depan Gedung Kementrian Kesehatan pada 27 Januari 2022.

Dengan demikian, video tersebut tidak ada kaitannya dengan penolakan vaksin HPV yang baru menyasar anak laki-laki berusia 11 tahun pada 2027.

Dalam laman TirtoKeliru, laki-laki tak perlu mendapatkan vaksin HPV,” Vaksin HPV tidak hanya ditujukan untuk mencegah kanker serviks pada perempuan, tetapi juga melindungi laki-laki dari berbagai penyakit terkait infeksi HPV.

Mengutip Antara Gorontalo, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan mulai tahun 2027 anak laki-laki usia 11 tahun akan mendapatkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) untuk menekan angka kanker rahim (serviks) di Indonesia.

Budi menerangkan, walaupun laki-laki tidak bisa menderita kanker serviks, mereka berisiko menjadi pembawa (carrier) dan menularkan virus HPV penyebab kanker serviks ke pasangan seksualnya.

"Pada 2027 kita akan mulai ke laki-laki usia 11 tahun. Meskipun mereka tidak bisa menderita kanker serviks, tetapi bisa transmitting the disease (membawa penyakitnya ke pasangan). Mereka mungkin tidak akan kena kanker serviks, tetapi bisa menjadi pembawa. Oleh karena itu, kita mau mengakselerasi pencegahan kanker serviks dengan kampanye vaksin HPV yang masif," katanya pada peringatan Hari Kanker Sedunia di Jakarta, 4 Februari 2026.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention United States (CDC), HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks pada perempuan, tetapi juga dapat menyebabkan kanker penis pada laki-laki, kanker anus pada laki-laki dan perempuan, serta kanker orofaring atau kanker di bagian belakang tenggorokan, termasuk pangkal lidah, dan amandel.

Hal ini juga disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.

Pada laki-laki, vaksin HPV dapat membantu mencegah beberapa penyakit berikut: Kanker penis, kanker anus, kanker orofaring, kanker mulut dan tenggorokan, kutil kelamin,” papar Wilson.

Wilson menambahkan, vaksin HPV direkomendasikan tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga laki-laki sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit terkait HPV dan untuk mengurangi penularan virus sebab laki-laki dapat menjadi pembawa (carrier) virus HPV.

Laki-laki dapat menjadi pembawa (carrier) virus HPV dan menularkannya kepada pasangan, meskipun seringkali mereka tidak memiliki gejala sama sekali. HPV menular melalui kontak seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, maupun oral,” jelasnya.

Wilson memaparkan infeksi HPV pada laki-laki sering tanpa gejala, seseorang bisa menularkan virus tanpa menyadarinya. Inilah sebabnya vaksinasi pada laki-laki penting, bukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi juga membantu memutus rantai penularan ke pasangan.

Penelitian oleh Rodríguez-Álvarez dan kawan-kawan (2018) juga menunjukkan, prevalensi infeksi HPV pada laki-laki tergolong tinggi. Dari meta-analisis terhadap 18.106 laki-laki, sekitar 49 persen terdeteksi membawa HPV jenis apa pun, sementara 35 persen lainnya terinfeksi HPV berisiko tinggi yang berkaitan dengan perkembangan kanker. Temuan tersebut menegaskan bahwa laki-laki juga dapat terinfeksi HPV dan berpotensi berperan dalam penularan virus.

Vaksin HPV bukan hanya “vaksin kanker serviks”, tetapi sebenarnya adalah vaksin untuk mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan berbagai kanker pada pria dan wanita,” tutur Wilson.

Dikutip dari Tempo.co, epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith Dicky Budiman, mengatakan, pengembangan vaksin HPV telah menempuh sirkuit panjang sesuai standar internasional. Riset tersebut bermula dari tahap pra klinis serta uji laboratorium hingga pengujian terhadap hewan. Sebelum sampai ke tangan masyarakat, vaksin HPV pun telah lolos uji klinis fase satu hingga empat yang melibatkan ribuan peserta.

Penggunaan vaksin HPV pertama bahkan telah disetujui sejak 20 tahun yakni pada tahun 2006 oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), European Medicine Agency, dan Badan Pengawas Obat serta Makanan Amerika Serikat (FDA).

Artinya, vaksin ini sudah layak dan aman digunakan secara global. Bukan produk eksperimental lagi,” kata Dicky kepada Tempo, 23 Februari 2026.

Menurut Dicky, lebih dari 125 negara telah memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional mereka. Hasil riset menunjukkan penurunan signifikan penderita infeksi HPV yang mencakup kutil kelamin, lesi prakanker serviks, dan kanker serviks usia muda.

Peneliti dan virolog dari Universitas Airlangga (UNAIR), Arif Nur Muhammad Ansori juga menjelasan alasan utama mengapa vaksin ini diberikan pada anak usia sekolah dasar rentang 9-13 tahun. Menurut dia, pemberian vaksin kepada anak-anak untuk mendapatkan efektivitas perlindungan yang maksimal sebelum mereka terpapar virus di masa depan.

Berdasarkan studi imunogenisitas, anak-anak pada rentang usia tersebut memiliki respons imun yang jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan orang dewasa. Sehingga proteksi jangka panjang terhadap kanker serviks dapat terbentuk lebih optimal hanya dengan dosis yang lebih sedikit.

Upaya ini adalah strategi preventif yang telah teruji secara global untuk memutus rantai penularan virus Human Papillomavirus (HPV) sejak dini,” begitu keterangan Arif.

Dengan demikian klaim yang menyebutkan bahwa vaksin HPV membahayakan nyawa anak adalah tidak benar dan tidak didukung fakta ilmiah.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa vaksin HPV dapat membahayakan nyawa anak-anak adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

Berdasarkan studi imunogenisitas, anak-anak pada rentang usia 9-13 tahun memiliki respons imun yang jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan orang dewasa. Sehingga proteksi jangka panjang terhadap kanker serviks dapat terbentuk lebih optimal hanya dengan pemberian dosis vaksin yang lebih sedikit.

Oleh karena itu, pemberian vaksin kepada anak-anak sangat dianjurkan, guna mendapatkan efektivitas perlindungan yang maksimal sebelum anak-anak terpapar virus di masa depan.

Disamping itu, sebagai catatan, vaksin HPV tidak hanya ditujukan untuk mencegah kanker serviks pada perempuan, tetapi juga melindungi laki-laki dari berbagai penyakit terkait infeksi HPV, seperti kanker penis, kanker anus, kanker orofaring, serta kutil kelamin.

Adapun video yang beredar yang menampilkan Babeh Aldo, adalah gambar yang diambil dari aksi unjuk rasa menolak kewajiban vaksin COVID-19 untuk anak sekolah pada 27 Januari 2022. Video tersebut tidak ada kaitannya dengan penolakan vaksin HPV yang baru menyasar anak laki-laki berusia 11 tahun pada 2027.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto