tirto.id - Di Vannivelampatti, nama Karl Marx, Vladimir Lenin, Joseph Stalin, dan Friedrich Engels, menjadi panggilan sehari-hari warga. Bahkan, ada dua anak perempuan di desa itu bernama Marxiya dan Lenina.
Vannivelampatti berada di Peraiyur taluk, sekitar 40 kilometer di barat daya Madurai, Tamil Nadu. Selama lebih dari setengah abad, komunisme menjadi bagian dari kehidupan desa. Simbol palu arit dan warna merah terlihat di sejumlah rumah. Warga juga memasang potret tokoh-tokoh komunis dan menggelar pertemuan politik secara rutin.
Tradisi penamaan anak dengan nama tokoh komunis dimulai sekitar 1960-an dan masih berlangsung hingga sekarang. Menurut warga setempat, sebagaimana diwartakan The New Indian Express, setidaknya delapan dari sepuluh orang di desa itu memiliki nama yang berkaitan dengan tokoh komunis.
Mengapa orang tua di desa kecil itu menjadikan nama tokoh komunis sebagai nama anak-anak mereka?
Dari Buruh Tani ke Pembantaian Keezhvenmani
Sejarah terbentuknya kultur komunis di Desa Vannivelampatti bermula ketika sistem perbudakan tradisional masih kental di wilayah negara bagian Tamil Nadu. Hal itu terutama terjadi di Kota Thanjavur, yang merupakan salah satu kawasan utama penghasil padi pada pertengahan abad ke-20.
Namun, hubungan antara pemilik tanah dan buruh tani di sana sangat timpang, terutama karena banyak buruh berasal dari kelompok Dalit. Salah satu bentuk hubungan kerja itu dikenal sebagai pannai adimai, yakni sistem perbudakan tradisional yang membuat buruh tani terikat "utang" dengan pemilik tanah.
Dalam penelitian Parvathi Menon di Review of Agrarian Studies (2017), Nagamangalam Pakkirisami, mantan pannai adimai dari komunitas Paraiyar, menggambarkan kehidupannya sebagai pekerja yang hampir tidak memiliki hak. Buruh bekerja sejak dini hari, tinggal di lingkungan milik tuan tanah selama musim tanam, dan sering kali mengalami hukuman fisik ketika dianggap melanggar aturan.
Hubungan tersebut mulai berubah ketika gerakan buruh tani berkembang. Organisasi seperti Kisan Sabha mulai menggalang buruh tani untuk memperjuangkan haknya. Gerakan itu lantas berkembang penuh gejolak. Kisan Sabha bahkan pernah dilarang dan sejumlah pemimpinnya diburu aparat.
Pemerintah Madras kemudian mengeluarkan Tanjore Pannaiyal Protection Act pada 1952. Pembukaan undang-undang tersebut menyinggung soal ketegangan hubungan antara pemilik tanah, agen, penyewa, dan buruh tani di Thanjavur. Ketegangan itu memicu pemecatan buruh, penggusuran penyewa, serta berbagai kejahatan dan gangguan agraria.
Namun, undang-undang tersebut tidak secara tegas menghapus sistem pannai adimai. Aturan itu lebih tepat dipahami sebagai upaya negara mengatur hubungan kerja dan melindungi posisi pannaiyal (buruh) tani, termasuk mengatur pembayaran upah dan mekanisme penyelesaian perselisihan.
Ketentuan upah dalam perkembangan aturan tersebut menetapkan pembayaran dalam bentuk gabah, antara lain dua marakkal (satuan takaran yang setara kurang lebih 3-4 kilogram padi/beras) untuk pekerja laki-laki dewasa, satu marakkal untuk perempuan dewasa, dan tiga perempat marakkal untuk pekerja yang belum dewasa.
Solusi dari negara dianggap tidak adil. Maka, memasuki 1960-an, buruh tani memperkuat organisasinya, lalu menuntut bagian yang lebih besar dari hasil pertanian.
Pemilik tanah kemudian membentuk Paddy Producers Association dan memanfaatkan pekerja dari luar daerah untuk menghadapi pemogokan buruh lokal. Ketegangan meningkat setelah seorang penjaga warung yang mendukung gerakan buruh diculik dan dipukuli. Ketika kelompok buruh berusaha membebaskannya, terjadi bentrokan yang menewaskan salah satu pihak dari kelompok pemilik tanah.
Konflik itu mencapai puncaknya pada malam 25 Desember 1968 di Keezhvenmani. Sekelompok penyerang mendatangi permukiman buruh tani Dalit. Sebagian warga yang melarikan diri berlindung di sebuah pondok kecil. Tapi nahas, para penyerang mengepung dan membakar pondok tersebut. Sebanyak 44 orang tewas, terdiri atas 15 laki-laki dan 29 perempuan, termasuk 11 anak perempuan dan 11 anak laki-laki.
Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Pembantaian Keezhvenmani. Kajian Nithila Kanagasabai (2014) menjabarkan, pengadilan tingkat pertama menghukum terdakwa dalam perkara pembakaran tersebut dengan hukuman penjara 10 tahun.
Namun, putusan itu dibatalkan dalam proses banding di Madras High Court. Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan bahwa bukti yang tersedia tidak cukup untuk mengidentifikasi dan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas pembakaran tersebut. Putusan tersebut kemudian dikukuhkan Mahkamah Agung.
Pembantaian Keezhvenmani menjadi pemantik bagi pemerintah Tamil Nadu untuk meninjau persoalan buruh tani di East Thanjavur. Pada Desember 1968, pemerintah membentuk komisi penyelidikan untuk mengkaji masalah buruh pertanian, hubungan mereka dengan pemilik tanah, serta persoalan terkait. Hasilnya kemudian menjadi dasar Tamil Nadu Agricultural Labourer Fair Wages Act 1969, yang menetapkan upah layak dan mekanisme penegakan untuk wilayah tertentu di bekas East Thanjavur.
Kejadian nahas di Keezhvenmani menjadi titik balik yang mencatatkan sejarah gerakan buruh tani Tamil Nadu, terkhusus di Thanjavur. Namun, sebelum tragedi itu pecah, ada seorang buruh tani asal Vannivelampatti yang lebih dulu mengantongi gagasan komunisme dan membawanya pulang ke desanya, setelah menyaksikan sendiri getirnya perbudakan di Thanjavur.

Vembulu Pulang Membawa Komunisme
Vembalayan Murugan, yang juga dikenal sebagai Stalin, warga Vannivelampatti sekaligus anggota komite distrik CPI(M) Madurai, mengisahkan sejarah desanya kepada The New Indian Express. Bahwasanya hingga 1960-an, sebagian besar penduduk desa belum menyadari hak-hak demokratisnya. Mereka bekerja sebagai buruh tani di bawah pemilik tanah dari kasta dominan.
Perubahan itu berawal dari seorang warga bernama Vembulu. Pada 1952, ia meninggalkan Vannivelampatti untuk bekerja sebagai buruh di Thanjavur. Di sanalah ia pertama kali mengenal gagasan komunisme.
Tiga tahun kemudian, Vembulu pulang. Ia mengumpulkan teman-temannya dan mengajak mereka menghadiri Konferensi Pertanian Seluruh India di Saptur, Madurai, yang diselenggarakan Partai Komunis India (CPI). Pengalaman itu kemudian menumbuhkan kesadaran baru di antara warga Vannivelampatti.
Selama beberapa tahun kemudian, para pemimpin komunis mulai rutin datang ke Vannivelampatti dan bertemu dengan warga. Menurut Murugan, mereka membimbing penduduk memperjuangkan haknya melalui jalur hukum dan protes damai.
Perlahan, kehidupan warga berubah menjadi lebih baik dan sejahtera. Keluarga-keluarga yang sebelumnya tidak memiliki tanah kemudian mulai memiliki lahan sendiri.
Selain berperan krusial sehingga membuat banyak keluarga memiliki tanah sendiri, warga Vannivelampatti menganggap komunisme menjadi bagian dari kehidupan desa yang akhirnya diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika Marx dan Lenin Menjadi Nama Anak
Setelah gagasan komunisme mulai merasuk ke pola pikir warga, mereka mulai menjelmakan ide itu melalui hal lain. Mereka memberi nama anak mereka dengan nama tokoh komunis. Karl Marx, Vladimir Lenin, Joseph Stalin, dan Friedrich Engels, menjadi nama yang lazim terdengar di desa.
Meski tokoh-tokoh yang mereka banggakan mayoritas laki-laki, nama-namanya tetap diberikan pula kepada anak perempuan. K. Nagajothi, misalnya, menamai dua putrinya Marxiya dan Lenina. Baginya, nama tersebut merupakan simbol revolusi. Ia berharap kedua putrinya tumbuh dengan dedikasi dan keberanian untuk bekerja bagi masyarakat.
Lain lagi dengan R. Kosimin, yang memiliki paman bernama Castro, Alexander, dan Dimitrov. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bagian dari warisan politik desa.
Warga juga membentuk kelompok baca untuk mendorong anak muda membaca literatur Marxis dan memahami persoalan sosial serta kesadaran politik. Kelompok tersebut turut mengenalkan sejarah perjuangan generasi sebelumnya kepada anak-anak muda.
Lalu ada cerita dari Karl Marx, seorang pekerja konstruksi, yang mengaku senang dengan pemberian nama dari ayahnya 50 tahun silam. Saking bangganya, dinding rumahnya berderet potret dewa Hindu berdampingan dengan tokoh Marxis.
“Saya seorang komunis, dan saya bangga memiliki nama ini — Karl Marx. Ayah saya adalah seorang komunis, dan dia memberi saya nama khusus ini,” katanya kepada Outlook India.
Ada juga Vijay Pandy, seorang kader partai yang menamai putrinya Marxia sebagai wujud kasih sayang pada ikon dan ide Marxis.
“Kami membesarkan anak-anak kami dengan pemahaman tentang Komunisme. Kami mengajak mereka saat menghadiri aksi protes; dengan menyaksikan hal itu, mereka tumbuh besar di bawah pengaruh tersebut,” ujar warga lainnya.
Nama tokoh komunis tidak menghapus kehidupan keagamaan warga. Mereka tetap menjalankan kehidupan keagamaan seperti warga desa lainnya.
Komunisme di Vannivelampatti tumbuh dari pengalaman sehari-hari masyarakat. Gagasan tersebut berkaitan dengan perjuangan buruh tani, hak atas tanah, dan solidaritas antarkelompok.
Dalam laporan DW, komunisme lebih banyak diceritakan melalui pengalaman warga sendiri. Mereka mengaitkannya dengan perjuangan buruh tani, hak atas tanah, dan perubahan kehidupan desa. Warga tidak banyak mengaitkannya dengan represi dan kekerasan yang dilakukan sejumlah rezim komunis di negara lain.
Karena itu, ketika seorang bayi diberi nama Marx atau Lenin, nama tersebut menjadi pengingat tentang sejarah keluarga dan komunitas yang tumbuh bersama gerakan kiri sejak pertengahan abad ke-20.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






























