Menuju konten utama

Sosok Surakman Kru Kapal Jurnalis Hilang, Ditemukan di Enggano

Sosok Surakman, kru kapal rombongan lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda. Jenazah Surakman ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu.

Sosok Surakman Kru Kapal Jurnalis Hilang, Ditemukan di Enggano
ABK Surakhman. x/@kysanagisa/fesbuk banten
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Polda Banten memastikan bahwa jenazah yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu adalah Surakman atau Sukarman (60). Ia adalah salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu I yang hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua kru lainnya di perairan Selat Sunda sejak Senin, 7 September 2026.

Kepastian identitas Surakhman ini diperoleh setelah tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri melakukan pencocokan DNA secara mendalam antara sampel antemortem keluarga dengan jenazah yang ditemukan.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman, ABK kapal yang merupakan ayah biologis dari Yayan (anak)," ungkap Kapolda Banten Irjen Pol Hengki, Rabu (23/9/2026).

⁠Sosok Surakman ABK yang Ditemukan di Pulau Enggano

Di balik tragedi hilangnya speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan Selat Sunda, tersimpan kisah pilu tentang seorang lelaki sederhana bernama Surakman, atau akrab disapa Abah Surakman.

Pria berusia 60 tahun ini merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) yang turut hilang bersama kapal tersebut sejak berangkat dari dermaga di Carita, Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026. Tujuan ekspedisi ini adalah mengantar rombongan jurnalis meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Diketahui, Surakman telah lama menjadi nelayan sejak kecil. Ia telah bersahabat dengan laut ketika usianya masih belia. Sebelum hilang, Surakman bekerja sebagai kru kapal bagi yang ingin berkunjung ke Ujung Kulon atau Krakatau.

Dari unggahan akun Instagram @ailaa.tr pada 15 September 2026 lalu, diceritakan jika di usianya yang tak lagi muda, Abah Surakman masih harus turun ke laut untuk mencari nafkah, menjadikannya sosok tulang punggung keluarga yang rela menantang gelombang demi menghidupi orang-orang yang ia cintai.

Sebagai seorang ABK, tugas Abah Surakman bukanlah pekerjaan ringan. Ia bertanggung jawab mengecek kedalaman air menggunakan bambu, sebuah metode sederhana namun penting untuk memastikan keselamatan kapal saat melintasi perairan dangkal maupun berbatu.

Selain itu, ia juga bertugas melempar tali dan mengikat perahu saat bersandar, serta membantu para penumpang naik-turun kapal.

Dari kesaksian Aini, pemilik akun tersebut yang juga salah satu penumpang yang pernah menjalani perjalanan bersamanya, sosok Abah Surakman digambarkan sebagai pribadi yang pendiam dan cenderung menjauh dari keramaian. Ia selalu memilih duduk di bagian belakang kapal.

Meski begitu, kehadirannya tetap membawa kehangatan tersendiri bagi rekan-rekan sesama awak kapal, yang kerap menggodanya dengan candaan ringan. Bahkan di momen-momen santai ketika kapal menepi untuk beristirahat, canda tawa antara Abah Surakman dan awak lainnya tetap terjalin.

Yayat, anak Surakman, ikut berkomentar di akun Instagram tersebut. Publik juga menyampaikan dukacita pada Yayat.

Kisah hidup Abah Surakman berakhir tragis setelah kapal yang ia tumpangi kehilangan kontak di Selat Sunda tak lama setelah keberangkatan.

Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besar-besaran pun digelar selama 10 hari, melibatkan Basarnas dari wilayah Banten, Lampung, hingga Bengkulu, namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya resmi dihentikan pada Kamis, 17 September 2026.

Keluarga para korban kemudian melaksanakan prosesi tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada keesokan harinya sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Doa bersama hari terakhir pencarian jurnalis dan awak KM Arupadatu I

Bingkai foto dan bunga mawar berada di atas meja saat doa bersama untuk jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026). Keluarga dan tim SAR gabungan menggelar doa bersama pada hari terakhir operasi pencarian dan pertolongan terhadap rombongan jurnalis dan awak kapal cepat KM Arupadatu I yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda setelah operasi berlangsung selama 10 hari. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye

Jenazah Surakman Ditemukan di Pulau Enggano

Pda Sabtu, 12 September 2026, hari kelima masa pencarian, ditemukan sesosok jenazah tak dikenal di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, sebuah lokasi yang jaraknya terpaut sangat jauh, sekitar 345 kilometer secara garis lurus, dari titik terakhir kapal terdeteksi di Pulau Sebesi, Lampung Selatan.

Jenazah tersebut kemudian dievakuasi menggunakan pesawat Cessna menuju RS Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut.

Melalui kerja sama Polda Banten dan Polda Bengkulu, serta pencocokan data antemortem dan postmortem dari delapan keluarga korban, hasil pemeriksaan DNA akhirnya mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut adalah Surakman, sang ABK yang telah dinyatakan hilang bersama tujuh orang lainnya.

"Bidang Dokkes Polda Banten kemudian mengirimkan data antemortem dan postmortem dari kedelapan keluarga korban hilang kontak. Tim DVI bersama Kasubbid Dokkes Polri melakukan pencocokan data primer yang meliputi sidik jari, gigi, hingga tes DNA (Disaster Victim Investigation)," terang Hengki.

"Jenazah akan diberangkatkan besok dari Dokkes Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga," lanjutnya.

Dengan ditemukannya jenazah Surakhman, maka tersisa 7 orang lagi yang masih hilang. Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas (Jurnalis ANTARA), Ari Basuki (Jurnalis Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (Jurnalis iNews), Firman Daus (Jurnalis Anadolu Agency), Donal Husni (Jurnalis lepas/freelance), Warta (Kapten kapal), dan Heriyanto (Pemandu).

Baca juga artikel terkait SUARA DENTUMAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Dipna Videlia Putsanra