tirto.id - Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada Kamis dini hari, 13 Agustus 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan tata cara melihatnya.
Fenomena hujan meteor Perseid ini menjadi lebih menarik untuk diamati tahun ini karena puncaknya bertepatan dengan fase bulan baru, sehingga cahaya bulan hampir tidak mengganggu kegelapan langit.
Kondisi tersebut membuat meteor yang relatif redup lebih mudah terlihat, terutama jika pengamatan dilakukan dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya perkotaan. BRIN menyarankan pengamat memilih tempat dengan langit yang gelap dan terbuka agar peluang melihat meteor lebih besar.
Menurut NASA, dalam kondisi langit yang benar-benar gelap, sekitar 50-100 meteor per jam berpotensi terlihat. Sedangkan American Meteor Society, dikutip NBC Los Angeles, Selasa (11/8/2026) memperkirakan pengamat di daerah pedesaan dapat menyaksikan sekitar 30-50 meteor per jam.
Angka tersebut merupakan perkiraan dalam kondisi ideal, sehingga jumlah meteor yang benar-benar terlihat akan bergantung pada tingkat kegelapan langit, cuaca, dan lokasi pengamatan.
Fenomena hujan meteor Perseid ini juga telah diamati selama lebih dari 2.000 tahun dan menjadi salah satu hujan meteor paling populer karena cukup sering menghasilkan meteor yang sangat terang atau fireball.
Cara Melihat Fenomena Hujan Meteor Perseid di Indonesia
Menurut unggahan BRIN di akun IG @brin_indonesia pada 12 Agustus 2026, Perseid merupakan hujan meteor yang tampak seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus. Fenomena ini terjadi ketika bumi melewati jalur debu dan material yang ditinggalkan oleh Komet 109P/Swift-Tuttle.
Ketika partikel-partikel kecil tersebut memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan sangat tinggi, gesekan dengan atmosfer membuatnya berpijar dan terlihat sebagai garis cahaya yang melintas di langit, itulah yang disebut meteor.
Karena bumi melewati jalur material komet tersebut setiap tahun, Perseid muncul secara rutin pada periode yang relatif sama. Pada kondisi langit yang ideal, BRIN menyebut pengamat dapat menyaksikan rata-rata sekitar 1-2 meteor per menit saat puncaknya.
Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah menjelang dini hari hingga subuh waktu setempat, pada 13 Agustus 2026 atau sekitar pukul 24.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB, ketika kondisi langit semakin gelap dan posisi Perseus semakin mendukung pengamatan.
Karena Perseid termasuk salah satu hujan meteor yang relatif kuat, fenomena ini menjadi salah satu peristiwa astronomi yang menarik bagi penggemar langit malam.
“Setiap tahun, Bumi berpapasan dengan sisa debu komet sehingga terjadi fenomena hujan meteor yang memiliki arah dan waktu kemunculan yang tetap setiap tahun. Hujan meteor Perseid tergolong hujan meteor yang kuat sehingga menarik minat para penggemar astronomi,” ujar Prof. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN.
Berikut cara mengamati hujan meteor Perseid:
- Pilih lokasi yang minim polusi cahaya.
- Pastikan medan pandang ke arah Timur Laut tidak terhalang gedung atau pepohonan.
- Kondisi langit di arah Timur Laut cerah dan tidak tertutup awan.
- Arahkan pandangan ke langit di arah Timur Laut. Pada kondisi ideal, akan terlihat sekitar 1-2 meteor per menit melesat ke berbagai arah dari titik pancar di rasi Perseus.
- Tidak memerlukan alat, baik teleskop atau binokular. Pengamatan dengan mata telanjang justru lebih ideal karena memberikan medan pandang yang lebih luas.
- Pengamat dianjurkan memberi waktu sekitar 30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan.
- Hindari melihat layar ponsel atau sumber cahaya terang selama pengamatan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































