tirto.id - BRIN menjelaskan fenomena meteor di langit Jogja pada 11 Juli 2026. Cahaya hijau berasal dari meteoroid yang terbakar di atmosfer Bumi.
Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya di wilayah Sleman, dibuat terkejut oleh kemunculan fenomena alam berupa cahaya terang yang diduga berasal dari meteor pada Sabtu malam, 11 Juli 2026. Berikut penjelasannya.
Fenomena kemunculan meteor di langit Jogja tersebut ramai diperbincangkan setelah unggahan akun Instagram @merapi_uncover menyampaikan adanya benda langit yang melintas di langit malam dengan cahaya berwarna hijau menyala.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 21.41 WIB dan terlihat cukup jelas oleh sejumlah warga di sekitar kawasan Simpang Patung Elang, Maguwoharjo, Sleman.
Berdasarkan kesaksian warga yang melihat langsung kejadian tersebut, cahaya terang itu muncul secara tiba-tiba dari arah utara langit. Salah seorang pengendara yang melintas di kawasan Maguwoharjo mengaku melihat cahaya hijau terang bergerak cepat seperti benda yang jatuh menuju permukaan bumi.
Karena kejadian berlangsung sangat singkat dan dirinya sedang berkendara, momen tersebut tidak sempat diabadikan melalui foto maupun video. Meski demikian, laporan serupa dari sejumlah warga membuat fenomena tersebut menjadi perhatian masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Penjelasan BRIN soal Fenomena Meteor di Langit Jogja
Berdasarkan analisis ilmiah, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, pada Senin (13/7/2026), menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer bumi.
Menurutnya, berdasarkan rangkaian laporan masyarakat dari berbagai daerah, meteor tersebut pertama kali terpantau melintas di atas wilayah Laut Jawa sebelum kemudian terlihat dari kawasan Bekasi sekitar pukul 21.22.35 WIB.
Pada fase awal tersebut, meteor masih berada pada ketinggian yang cukup tinggi sehingga tampak sebagai objek bercahaya putih dengan ukuran relatif kecil dari permukaan bumi.
Thomas menjelaskan bahwa meteor berasal dari meteoroid, yaitu batuan antariksa yang bergerak mengelilingi matahari. Ketika lintasan meteoroid berpotongan dengan orbit bumi, benda tersebut dapat memasuki atmosfer dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Pergerakan tersebut menyebabkan terjadinya gesekan antara permukaan batuan dengan partikel udara di atmosfer sehingga menghasilkan panas ekstrem. Akibat proses pemanasan tersebut, permukaan meteoroid mengalami pijaran dan menghasilkan cahaya terang yang dapat terlihat dari bumi sebagai fenomena meteor.
"Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor," jelas Thomas dikutip laman resmi BRIN, Senin (13/7/2026).
Proses munculnya cahaya meteor mulai terjadi ketika meteoroid memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer di atas permukaan bumi. Pada ketinggian tersebut, material batuan mulai mengalami proses ablasi atau pengikisan akibat suhu tinggi yang dihasilkan oleh gesekan dengan atmosfer.
Material yang terkikis kemudian terbakar dan menghasilkan jejak cahaya yang terlihat semakin terang ketika benda tersebut memasuki lapisan atmosfer yang lebih rapat.
Berdasarkan hasil analisis terhadap lintasannya, meteor tersebut bergerak ke arah tenggara melintasi sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Saat memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat, intensitas cahaya meteor meningkat sehingga tampak semakin terang dari berbagai lokasi pengamatan.
Perubahan warna yang terlihat oleh masyarakat di beberapa daerah juga merupakan bagian dari proses alami yang dipengaruhi oleh kandungan mineral penyusun meteoroid serta kondisi atmosfer yang dilewati.
"Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer," katanya.
Di wilayah Jawa Barat bagian timur, khususnya Cirebon dan Kuningan, sejumlah warga melaporkan mendengar suara dentuman setelah melihat meteor melintas. Thomas menjelaskan bahwa suara tersebut bukan disebabkan oleh ledakan di permukaan bumi, melainkan akibat gelombang kejut atau sonic boom.
Fenomena tersebut terjadi karena meteor bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kecepatan rambat suara di udara. Akibatnya, gelombang tekanan yang terbentuk selama perjalanan meteor membutuhkan waktu untuk mencapai permukaan sehingga suara dentuman terdengar beberapa saat setelah kilatan cahaya terlihat.
Selain suara dentuman, masyarakat di sejumlah daerah juga melaporkan adanya perbedaan warna cahaya meteor. Di Majalengka, misalnya, meteor terlihat memiliki warna biru, sedangkan di wilayah Nagreg sekitar pukul 21.23.37 WIB dan Tasikmalaya, objek tersebut tampak sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan di sekitarnya.
Menurut Thomas, variasi warna tersebut merupakan fenomena yang umum terjadi pada meteor karena setiap unsur kimia memiliki karakteristik spektrum cahaya yang berbeda ketika mengalami pemanasan.
Saat melintas di wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB, meteor tersebut terlihat memancarkan cahaya hijau yang sangat terang. Thomas menjelaskan bahwa warna hijau tersebut berkaitan dengan kandungan unsur tertentu dalam batuan antariksa, terutama magnesium dan kemungkinan nikel, yang menghasilkan pancaran cahaya khas ketika terbakar pada suhu tinggi di atmosfer.
Setiap unsur kimia akan menghasilkan warna tertentu ketika mengalami proses eksitasi akibat panas, sehingga warna meteor dapat menjadi petunjuk mengenai komposisi material penyusunnya.
Dari rangkaian pengamatan yang dikumpulkan, BRIN memperkirakan meteor tersebut terus bergerak menuju arah tenggara hingga akhirnya kehilangan energi dan kecepatannya.
Berdasarkan perkiraan lintasan, objek tersebut kemungkinan berakhir di wilayah Samudera Hindia, tepatnya di sekitar selatan Jawa Timur atau Bali. Dengan demikian, tidak terdapat indikasi bahwa meteor tersebut mencapai wilayah permukiman atau menimbulkan dampak terhadap masyarakat.
Thomas menegaskan bahwa fenomena meteor sebenarnya merupakan kejadian alam yang rutin terjadi dalam skala astronomi. Setiap hari, bumi berinteraksi dengan jutaan partikel dan batuan kecil dari luar angkasa.
Sebagian besar berukuran sangat kecil sehingga langsung terbakar habis di atmosfer dan hanya terlihat sebagai fenomena bintang jatuh.
Meteor berukuran besar seperti yang terlihat pada 11 Juli 2026 memang lebih jarang terjadi sehingga dapat menarik perhatian karena memiliki tingkat kecerlangan tinggi dan dapat diamati oleh banyak orang dalam wilayah yang luas.
Atmosfer bumi, menurut Thomas, berfungsi sebagai pelindung alami yang mampu menghambat sebagian besar benda antariksa sebelum mencapai permukaan. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik apabila menyaksikan fenomena serupa di kemudian hari.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































