Menuju konten utama

Abah Koko & Figur Karung Goninya yang Terbang ke Luar Negeri

Kosasih berkarya sejak 1997 hingga kini. Ingin bertahan, meski keuntungannya tak sebesar dulu.

Abah Koko & Figur Karung Goninya yang Terbang ke Luar Negeri
Deretan miniatur figur manusia di tempat workshop Goni Craft Natural Art, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026). Karya hasil kerajinan tangan Kosasih ini, berbahan dasar karung goni bekas dan bahan-bahan alami lainnya. Muhamad Nizar/tirto.id.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dari dalam gang sempit di permukiman Rancasawo, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, terdapat bengkel kerajinan (workshop) sederhana milik Kosasih. Di workshop sekaligus rumahnya itulah, kosasih mengolah karung goni bekas menjadi serbaneka cendera mata. Dan, dari Goni Craft Natural Art itulah karya-karyanya kemudian melanglang buana hingga ke luar negeri.

Pria berusia 55 tahun itu biasa menekuni karung goni berhari-hari hingga tercipta miniatur figur mini dengan berbagai aktivitas. Deretan karya figur mini hasil tangan Kosasih menyambut saya sesampainya di ruang workshop. Di atas sebuah meja kerja miliknya, sejumlah miniatur figur orang-orang desa berukuran 15 cm berjejer.

Abah Koko, sapaan akrabnya, selalu berusaha merekam gestur dan laku orang-orang pedesaan dalam setiap karyanya. Dia mencoba menceritakan kehidupan mereka. Di matanya, orang-orang desa adalah pekerja keras.

“Ini menceritakan hidup orang-orang desa kita. Unik-unik. Ada yang bertani dan berjualan. Ada yang bawa hasil tani juga. Jadi, supaya para orang-orang bisa bernostalgia masa lalu,” ucap Abah Koko kepada kontributor Tirto saat bertemu di bengkel kerajinannya, Sabtu (2/8/2026).

Sekali waktu, rasa nostalgia tersebut tersampaikan kepada seorang pembeli asal Bali. Pembeli ini memutuskan membawa salah satu karya figur orang desa. Miniatur seorang perempuan yang sedang menjunjung bakul berisi hasil tani di atas kepalanya.

“Dia teringat ke ibunya. ‘Dulu ibu saya kayak gini,’ katanya. Dia sampai terenyuh dan cerita soal ibunya. Lalu, itu dia beli. Waktu itu dibeli Rp200 ribu. Tahun 2006,” lanjutnya.

Meski begitu, kriya bikinan Abah Koko tak terbatas pada figur-figur orang desa. Dia membuat semua hal yang bisa dia karyakan, mulai dari figur manusia dan aktivitasnya, hewan, simbol mitologis, hingga bentuk-bentuk kendaraan.

Miniatur fidur buatannya tetap mempertahankan warna coklat muda khas serat goni. Kriyanya dimulai dari membuat rangka kawat, lalu serat goni dililit pada rangka tersebut hingga membentuk figur yang diinginkan.

Newsplus Cerita Perajin Berbahan Karung Goni

Deretan miniatur figur manusia di tempat workshop Goni Craft Natural Art, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026). Karya hasil kerajinan tangan Kosasih ini, berbahan dasar karung goni bekas dan bahan-bahan alami lainnya. Muhamad Nizar/tirto.id.

Abah Koko sengaja tidak mengubah warna goni ini sejak 1997. Berharap tetap memunculkan kesan alami dan ramah lingkungan.

“Awalnya, hobi sering bikin kerajinan. Mengerjakannya juga bahagia dan seneng. Respons masyarakat juga seneng, sih. Pada aneh, ini produk apa. Lucu. Ada juga yang ngomong ini kayak jelangkung dan bebegig (orang-orangan sawah),” kata Abah Koko seraya terbahak.

Dia memang berusaha memanfaatkan bahan alam yang berada di lingkungan sekitar, seperti biji-bijian untuk miniatur hasil bumi para petani, serta biji nyamplung yang digunakan untuk bagian kepala para miniatur manusia.

“Secara keseluruhan, menggunakan bahan alam. Pilih bahan dasar karung goni karena bahannya lebih natural, organik, alami, dan unik,” imbuhnya.

Pada Mulanya Goni Bekas Agustusan 1997

Sebelum memulai bereksperimen membuat kerajinan dari karung goni bekas, seniman kriya tamatan sekolah kejuruan arsitektur di Bandung ini menyambung hidup dengan berdagang. Keahlian tangan Abah Koko ternyata sudah teruji kala itu. Dia kerap menjual hasil kerja-kerja tangannya di sekitar Jalan Cihampelas.

Senapan mainan hingga aksesoris pernah dibuatnya dengan tangan sendiri sepanjang kurun waktu tersebut. Hingga pada akhirnya, ide menggunakan karung goni sebagai bahan baku kerajinan tangan muncul seusai momen perayaan 17 Agustus 1997.

Kala itu, tumpukan karung goni bekas berserakan di sekitar rumah Abah Koko. Melihat itu, dia berpikir untuk memanfaatkan barang bekas tersebut menjadi barang bernilai. Pertama-tama, dia membuat tas dari karung goni sisa acara agustusan, lalu menjajakannya di tempatnya biasa berdagang, Jalan Cihampelas.

Tak dinyana, produk kriya goni bekas itu laku keras.

“Dulu, Cihampelas ramai. Identik dengan celana jeans. Lalu, banyak pedagang kerajinan tangan berjualan di sana,” ucap Abah Koko.

Newsplus Cerita Perajin Berbahan Karung Goni

Deretan miniatur figur manusia di tempat workshop Goni Craft Natural Art, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026). Karya hasil kerajinan tangan Kosasih ini, berbahan dasar karung goni bekas dan bahan-bahan alami lainnya. Muhamad Nizar/tirto.id.

Kawasan itu bukan hanya surga bagi para pedagang, melainkan juga para pelancong yang hendak mencari buah tangan. Secara harfiah, buah tangan itu kebanyakan merupakan hasil kerajinan tangan.

Setelah mencoba berkreasi mengubah karung goni bekas menjadi tas selempang, Abah Koko menjajal ke tahap yang lebih rumit dan membutuhkan daya imajinasi lebih matang. Abah Koko mengaku sempat terinspirasi dengan kehebatan jenama boneka Barbie asal Amerika.

Dia berandai-andai menciptakan jenama boneka sehebat itu, tapi dengan sentuhan khas Indonesia.

“Kepikirannya, kalau luar negeri ada boneka Barbie. Kalau kita apa, ya? Ya sudah, kita mah punya ini, boneka dari kerajinan tangan murni dari karung goni,” guraunya.

Pesanan dari Negara Asia hingga Benua Eropa

Perjalanan kreatif Abah Koko pun dimulai sejak 1997 itu. Hingga kini, dia telah memetik buah manisnya. Dari Cihampelas, karya-karyanya terbang ke mancanegara.

Beberapa produknya terbang ke Eropa, di antaranya ke Jerman dan Belanda. Sementara di kawasan Asia, karya Abah Koko berkelana ke Singapura hingga Cina.

“Sengaja itu datang ke Bandung. Mau beli puluhan produk. Saya juga enggak tahu, sebetulnya, mereka bisa tahu kerajinan goni ini dari mana,” katanya sambil tertawa.

Abah Koko mengungkapkan bahwa selain menjajakan hasil kriya dengan kisaran harga Rp30 ribu sampai ratusan ribu rupiah, Goni Art Natural Art juga menerima pesanan produksi miniatur berbagai bentuk. Tidak melulu miniatur figur, tapi juga piranti-pirantik praktis, seperti kap lampu.

“Patung-patung yang bercerita juga bisa. Dalam satu tatakan agak besar, saya bisa membuat beberapa karakter atau figur aktivitas. Bercerita,” ujar Abah Koko.

Satu buah karung goni bekas dapat diubahnya menjadi puluhan produk miniatur. Durasi pengerjaan pun tidak begitu lama, tergantung tingkat kesulitan atau kerumitan model figurnya. Sejauh ini, ukuran paling besar yang pernah dia bikin adalah setinggi 2 meter berupa figur manusia.

“Itu ada yang tertarik. Harga ada jutaan. Tapi, dulu mah enggak terlalu matok harga. Jadi, kalau ada [pelanggan] yang mematok harga, udah bangga” sambung Abah Koko.

Sementara itu, nilai jual paling tinggi bisa mencapai jutaan rupiah. Namun, itu masa lalu baginya. Kini, pendapatan baginya tidak lagi dihitung secara bulanan. Dia bertahan mengandalkan pesanan pembeli semata. Dia juga tak lagi melapak seperti sedia kala.

“Permintaan bikin boneka pernah sampai 30 produk. Bikin sendiri. Bikin satu produk cuman butuh setengah jam. Yang susah itu bikin patung karakter, lagi berkegiatan,” ucapnya.

Lantas, dirinya juga merambah ke pasar-pasar digital. Karya-karya Abah Koko pun masuk ke sejumlah katalog toko daring. Satu di antaranya melalui Shopee, dia dibantu anaknya untuk menjajakan produk kerajinan berbahan karung goni bekas tersebut.

“Sama anak. Anak saya yang tahu. Saya tidak terlalu memperhatikan [penjualan daring]. Tapi, pesanan lewat online sempat ada juga. Ada yang juga sampai ke Cina,” ujarnya.

Newsplus Cerita Perajin Berbahan Karung Goni

Deretan miniatur figur manusia di tempat workshop Goni Craft Natural Art, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026). Karya hasil kerajinan tangan Kosasih ini, berbahan dasar karung goni bekas dan bahan-bahan alami lainnya. Muhamad Nizar/tirto.id.

Bertahan dan Berbuat Selagi Kuat

Abah Koko mengaku anak-anak muda sekarang pun tidak sedikit yang menilai aneg hasil kerajinan tanganny. Namun keanehan inilah yang justru berkesan dan menawarkan sisi keunikan.

“Waktu kemarin [di sebuah pameran], anak-anak bilang ini aneh dan unik. Saya punya pemikiran bahwa setiap generasi memiliki pemikiran [interpretasi] berbeda-beda soal produk ini. Jadi, kerajinan ini akan bertahan,” kata Abah Koko optimistis.

Sekalipun pendapatan hari ini berbeda dengan beberapa tahun silam, Abah Koko mengaku tetap senang menjalani hari-hari dengan berkarya dari karung goni. Menurutnya, pada masa tawaran produknya sedang tinggi, Abah Koko dapat meraup untung hanya bermodalkan puluhan ribu rupiah.

“Dari modal Rp10 ribu menjadi Rp100 ribu. Itu saja beda banget. Kalau sekarang, gini aja. Menunggu ada yang pesan. Kalau ada, ya bikin. Bisa memesan lewat toko online atau kontak,” sebutnya.

Bukan hanya itu, kondisi tempat dirinya berjualan juga sudah terlampau banyak berubah. Sejak 1994, dirinya biasa menjual barang dagangan di sekitar Jalan Cihampelas, namun kini lokasi tersebut tak semegah itu bagi para pedagang.

“Dulu, menjual aksesoris kayak senapan angin hingga kacamata. Lalu kerajinan karung goni. Banyak yang beli. Seminggu baru habis, bisa produksi lagi. Emang bener, alhamdulillah menghidupi,” tuturnya.

“Omset hari ini beda, ya, sama dulu. Dahulu mah ada, tapi sekarang kita enggak terlalu fokus. Terkadang, ada pekerjaan lain. Jadi, kalau kita sudah ada pameran atau pesanan, ya, omsetnya lumayan,” imbuhnya.

Abah Koko tak memiliki tujuan besar dalam berkarya. Selama dua dekade membuat sekian kerajinan tangan dari karung goni, dia sudah merasa cukup puas. Terlebih kerja-kerja tangan ini mampu membawa dirinya hingga sejauh ini.

Abah Koko masih bisa bertahan dan ingin terus seperti demikian.

“Untuk selama ini juga berjualan apa adanya. Jadi, bertahan. Dibilang bertahan, ya bertahan. Tetap lanjut. Saya bertahan sekuatnya. Tak akan berhenti,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait KERAJINAN TANGAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi