Menuju konten utama

Dari Tutup Botol, RepLast Lab Ubah Sampah Plastik Jadi Bernilai

Berawal dari ide kegiatan Ngelastik dan pulang kegiatan KKN, Dafa memulai RepLast Lab dan mengolah sampah plastik menjadi kursi hingga lemari.

Dari Tutup Botol, RepLast Lab Ubah Sampah Plastik Jadi Bernilai
Salah satu pendiri RepLast Lab, Dafa Alif Adillah saat menunjukkan produk hasil pengolahan sampah tutup botol plastik di tempat workshop mereka, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. tirto.id/Muhamad Nizar.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tiga tahun silam, Dafa Alif Adillah masih seorang mahasiswa semester ganjil di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Kala itu, Dafa sedang memikirkan ide untuk tugas mata kuliah crafting dan green design. Ide sederhana itu kelak menjadi cikal bakal terbentuknya start up atau perusahaan rintisan bernama Recycle Plastic Laboratory (RepLast Lab).

“Saya ngebikin lampu-lampu [hias] pakai tangan sendiri, crafting. Terus green design-nya ambil dari sekitar. Kayak dari dedaunan dan segala macam [sampah] plastik,” cerita lulusan Desain Produk Itenas itu kepada kontributor tirto di kediamannya, beberapa waktu lalu.

“Dosen pernah nanya, 'Ini kamu ngambil bahannya gimana? Ini susah lho, kecil-kecil segala macam.' 'Gampang, Pak. Ini tinggal keluar sini aja, keluar gedung ini. Di depan udah banyak sampah berserakan.' Jadi saya ngambil dari situ. Setidaknya bisa mengurangi sampah yang ada di gedung ini dulu,” sambungnya.

Kegiatan crafting itu dia sebut sebagai Ngelastik, singkatan dari ngalebur (melebur) plastik. Sepanjang tahun 2021 sampai 2022, Dafa mulai rajin melakukan kerajinan tangannya ini. Namun, proyek kecil-kecilan itu tidak berjalan secara konsisten karena kesibukan kuliah dan sebagainya.

Beberapa tahun kemudian, ia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia melaksanakan pengabdian bagi masyarakat yang berada di Sumedang, Jawa Barat selama berbulan-bulan. Gerakan Ngelastik itu pun muncul kembali saat kelompok KKN-nya hendak menjawab masalah sampah di salah satu desa wilayah tersebut.

"[Bentuknya pengolahan] di tempat pembuangan sampah. Jadi kayak dari pemilahan, terus pencacahan, dan segala macamnya itu di TPS. Produknya itu tatakan gelas, hasil mengolah bahan sampah plastik juga dari tutup botol,” ucapnya.

Ia tidak menduga kerajinan tangannya itu masih dikenang meskipun KKN sudah berakhir. Dafa dan sejumlah rekannya saat pengabdian berpikir bahwa konsep pengolahan sampah menjadi barang bernilai atau Ngelastik ini masih bisa mereka eksplorasi.

Kemudian, sepulang dari Sumedang, mereka mempraktekkan konsep pengolahan sampah tersebut di Kota Bandung. Menurutnya, masalah sampah di Kota Kembang juga mesti jadi perhatian mereka. Tumpukan demi tumpukan sampah sudah seperti pemandangan sehari-hari.

Diketahui Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung beberapa waktu lalu sampai menerbitkan Surat Edaran Tahun 2026 tentang Pengendalian Darurat Persampahan demi menangani masalah persampahan di Kota Bandung. Edaran ini ditujukan kepada aparat kewilayahan, pengelola kawasan, serta pelaku usaha termasuk hotel, restoran, dan kafe di seluruh wilayah Kota Bandung.

Sementara itu, berdasarkan data terakhir Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, saat ini timbulan sampah harian sudah mencapai 1.500 hingga 1.700 tonase. Selain yang berasal dari masyarakat, sektor komersial hingga limbah dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi dua di antara penyumbang timbulan sampah tersebut.

“Pasti tergeraklah [menuntaskan masalah sampah], selain [alasan] eksploratifnya. Kebetulan saya Desain Produk, terus ada Wildan dari Teknik Sipil, sama Rizki dari Teknik Mesin. [Pendiri RepLast Lab] tiga orang," jelas laki-laki berusia 23 tahun ini.

Bersama Wildan Julian (25) dan Rizky Ramdhani (23), ia merencanakan konsep awal perusahaan rintisan. Mereka juga melakukan penggantian nama. Tidak lagi Ngalastik. “Tercetus ide dari salah satu teman rekan ini. Recycle Plastic Lab. Lab karena kami pasti akan bereksperimen. Kayak laboratorium lah kasarnya mah,” ungkapnya.

Dafa Alif Adillah
Salah satu pendiri RepLast Lab, Dafa Alif Adillah saat menunjukkan produk hasil pengolahan sampah tutup botol plastik di tempat workshop mereka, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. tirto.id/Muhamad Nizar.

Dari Tutup Botol Plastik menjadi Produk Unik

Saat tirto.id berkunjung ke tempat workshop RepLast Lab, saya disambut ratusan, mungkin ribuan, tutup botol plastik yang sudah dibersihkan, beraneka warna dan jenis ukuran. Dafa mengaku ketika dalam proses pengolahan, setiap warna memiliki kesulitannya masing-masing. Hampir dua tahun lebih, ia mulai mengerti bagaimana mengolah barang ini.

“Setiap plastik memiliki karakteristik suhu tertentu. Saya baru tahu setiap warna memiliki batas tertentu dalam proses pemanasannya. Sebagai contoh, ada material berwarna tertentu yang harus dipanaskan jauh lebih tinggi dibandingkan warna lainnya,” ujarnya.

Setelah meleleh, tutup botol plastik hasil peleburan itu melunak dan lebih mudah untuk dibentuk sesuai dengan produk buatan mereka. Mulai dari yang terkecil seperti gantungan kunci, anting, dan card holder, hingga yang paling besar produk kursi, meja sampai lemari.

Dafa menuturkan, produk tutup botol itu memiliki nilai berkisar mulai harga Rp20 ribu sampai termahal mencapai Rp3 juta. Nilai paling tinggi ini ketika mereka mendapat pesanan untuk memproduksi kursi dan meja yang terbuat dari limbah plastik tersebut.

Dafa Alif Adillah

Salah satu pendiri RepLast Lab, Dafa Alif Adillah saat menunjukkan produk hasil pengolahan sampah tutup botol plastik di tempat workshop mereka, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. tirto.id/Muhamad Nizar.

Durasi pembuatan per satu barang itu bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya. Produk tercepat membutuhkan waktu sekitar 6 menit sampai selesai dicetak. Produk terlama untuk ukuran besar, prosesnya bisa memakan waktu hingga 4 jam di dalam oven raksasa,” tuturnya.

Mereka tidak merasa khawatir dengan ketersediaan bahan baku. Saat ini, RepLast Lab tidak lagi mencari sampah-sampah botol plastik, melainkan juga sudah menjaring sejumlah organisasi atau perusahaan rintisan serupa yang memiliki fokus terhadap lingkungan.

Tak jarang, kenalan dan masyarakat sekitar juga secara sukarela memberikan limbah bagi mereka. “Kami kerja sama juga dengan startup lain atau kampus. Mereka ngasih sampah ke kami, kami ngasih produk-produk kayak gantungan kunci ini,” imbuhnya.

Terobosan dan Kegunaan

Pengolahan sampah menjadi barang bernilai merupakan sikap bawaan Dafa sepanjang menyelesaikan perkuliahaan di Itenas Bandung. Baginya, proses paling panjang terletak pada saat memutuskan untuk membuat suatu produk.

“Saya diajarkan untuk menjadi desainer yang bertanggung jawab terhadap produk yang akan dikeluarkan. Kami tidak boleh asal membuat barang remeh yang akhirnya mudah dibuang atau hilang begitu saja,” tegas warga Bandung ini.

Menurutnya, desain produk itu intinya adalah menerka kebutuhan seseorang. Jadi, fokusnya bukan sekadar membuat bentuk yang bagus, melainkan kegunaan dari barang tersebut yang harus jauh lebih baik.

Hal itu pula yang Dafa terapkan di perusahaan rintisan, RepLast Lab, bersama sejumlah rekannya tersebut. Mereka terus memikirkan bagaimana caranya membuat produk yang sekiranya benar-benar terpakai oleh masyarakat, bukan sekadar menjadi merchandise.

“Salah satu produk yang pengembangannya cukup lama, memakan waktu hampir satu tahun adalah kunci berbasis NFC. Dalam proses Research and Development, kami melakukan riset yang mendalam sebelum membuat produk,” ceritanya.

Semua dimulai dari hal paling mendasar seperti ketebalan barang, ukuran ideal, target pasar hingga wilayah sasaran produk. Beberapa pertimbangan ini menjadi tolok ukur mereka sebelum membuat produk-produk pada masa mendatang.

“Sebagai contoh, jika targetnya di Jakarta, kami harus tahu tren warna apa yang sedang disukai di sana. Lalu untuk orang kantoran, fitur apa saja yang biasanya mereka inginkan, ukurannya yang ideal seberapa, dan kekuatannya bagaimana,” ucapnya.

Dafa Alif Adillah

Salah satu pendiri RepLast Lab, Dafa Alif Adillah saat menunjukkan produk hasil pengolahan sampah tutup botol plastik di tempat workshop mereka, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. tirto.id/Muhamad Nizar.

Workshop & Jawab Masalah Sampah

Menurutnya, pemerintah tidak sepenuhnya gagal mengendalikan masalah sampah, melainkan belum optimal. Mereka sudah mengupayakan hal tersebut, tetapi memang belum terlihat optimal. Masyarakat semestinya turut bergerak menekan angka lonjakan sampah yang terjadi saat ini. Sesederhana mampu mengolahnya secara mandiri.

“Kalau hanya menunggu pemerintah, pemerintah cuman berapa ratus orang, berapa puluh orang, tapi harus ngurus berapa juta orang, pastinya akan sangat sulit. Maka saya mencetuskan, gimana kalau kami bikin workshop,” ungkap Dafa.

RepLast Lab beberapa kali mengadakan workshop bagi masyarakat. Mereka memiliki keinginan, publik dapat mengolah sampah secara mandiri dan menghasilkan produk berdaya guna maupun memiliki nilai.

Menurutnya, seluruh proses peleburan plastik itu dapat dengan bermodalkan barang-barang rumahan yang sederhana. Masyarakat bisa meleburkan plastik bahkan memakai setrika atau microwave. Lalu mulai mencetaknya sebagai sesuatu produk unik.

"Makanya kalau misalkan ada yang chat [RepLast Lab], udah dicantumin aja kami ada workshop. Sekalian memberikan pesan kepada masyarakat bahwa ‘kita tuh bisa, loh, ngolah sampah di rumah sebenarnya,’ sesimpel itu aja sebenarnya." jelas Dafa.

Dafa Alif Adillah

Salah satu pendiri RepLast Lab, Dafa Alif Adillah saat menunjukkan produk hasil pengolahan sampah tutup botol plastik di tempat workshop mereka, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. tirto.id/Muhamad Nizar.

Kota Tanpa Tempat Pembuangan Akhir

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan, Kota Bandung menjadi satu-satunya kota di Jawa Barat yang tidak memiliki Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sendiri.

Kondisi itu mengakibatkan pengelolaan sampah masih bergantung pada TPA Sarimukti yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ketergantungan ini juga berdampak pada terbatasnya kewenangan pemkot dalam pengangkutan sampah, termasuk dalam hal kuota dan perizinan pembuangan residu.

Sebagai langkah jangka pendek, Pemkot Bandung menyambut rencana dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupa penyediaan mesin pengolahan sampah di setiap kelurahan.

“Kami menyambut baik bantuan dari Pemerintah Provinsi. Rencananya akan ada mesin pengolahan di setiap kelurahan. Apapun bentuknya, kami siap menerima dan mengoptimalkannya,” kata Farhan berdasarkan keterangan resmi dikutip Tirto, Senin (15/6/2026).

Muhammad Farhan

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat membuka pameran Milestone Bandung di Microlibrary Asia Afrika, Alun-alun Timur Kota Bandung, beberapa waktu lalu. tirto.id/Muhamad Nizar.

Pemkot Bandung tengah menjajaki kemungkinan untuk memiliki fasilitas pengolahan sampah skala besar atau TPA sendiri sebagai solusi jangka panjang. Namun, upaya tersebut masih dalam tahap pencarian lokasi dan pemenuhan aspek perizinan.

Dalam masa transisi, Farhan mengatakan, keberadaan fasilitas pengolahan sampah terpadu tetap menjadi kebutuhan utama, mengingat residu hasil pengolahan tetap memerlukan tempat pembuangan akhir.

Di sisi lain, Pemkot Bandung terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program pemilahan dari sumber melalui program Gaslah. Hingga saat ini, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah menunjukkan peningkatan.

“Dari sebelumnya hanya sekitar 10 rumah per RT yang melakukan pemilahan, kini meningkat menjadi 20 rumah. Target kami minimal 60 rumah per RT,” paparnya.

Meski demikian, capaian tersebut masih berada di kisaran 30 persen dari target sehingga Pemkot Bandung masih memprioritaskan pendekatan edukasi kepada masyarakat.

Ia menegaskan, aturan sanksi bagi pelanggaran pembuangan sampah sembarangan telah tersedia, tapi penerapannya belum menjadi prioritas karena mempertimbangkan aspek sosial. “Kami lebih mengedepankan edukasi. Perubahan perilaku masyarakat tidak bisa instan, harus bertahap,” tegas Farhan.

Timbulan Sampah 1.600-1.700 Ton Sehari

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto memaparkan kondisi terkini setelah diberlakukan penetapan masa darurat pengolahan sampah, imbas tidak adanya kuota pengiriman ke TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

“Kalau ditambah dengan sampah dari non-masyarakat, artinya sampah dari commercial area itu, kemungkinannya bisa mencapai angka 1.600 sampai 1.700 ton sehari,” jelasnya saat dihubungi Tirto beberapa waktu lalu.

Untuk menangani situasi tersebut, Pemkot Bandung sedang memfokuskan atasi masalah sampah organik, khususnya dengan mengoptimalkan pengolahan sampah berbasis kewilayahan sesuai surat edaran.

Pengoperasian zona 5 TPA Sarimukti

Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025). Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mengoperasikan zona 5 TPA Sarimukti yang mengusung sistem sanitary landfill seluas 6,3 hektare dan diharapkan dapat memperpanjang usia pakai TPA itu hingga 2,5 tahun ke depan. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/foc.

“Sebelum rencana kebijakan [penutupan open dumping]. Kami sudah mengambil langkah lebih dahulu dengan meluncurkan [program] Gaslah atau Petugas Pemilah dan Pengolah sampah. Itu benar-benar berbasis kewilayahan," kata Darto.

Ia menambahkan, terlebih volume sampah jenis organik saat ini mencapai 40 persen dari total sampah keseluruhan di Kota Bandung. Jadi, sebagai kota pariwisata, Pemkot Bandung akan terus menggencarkan penanganan sampah.

“Kami menjaga betul supaya sampah tetap terkendali.Karena ini kota wisata. Warga kita itu sebagian besar dari jasa dan pariwisata, termasuk perdagangan. Kota ini enggak boleh kelihatan kotor, harus dijaga betul,” jelas Darto.

Pascalongsor gunungan sampah di TPA Sarimukti

Pemulung memilah sampah pascalongsor di Zona 3 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (9/3/2025). ANTARA FOTO/Abdan Syakura/Spt.

Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Andrian Pratama Taher