Menuju konten utama

Open Dumping Ditutup, Bandung Siapkan 36 Lahan Pengolahan Sampah

Farhan mengaku permasalahan sampah di Kota Bandung akan menghadapi krisis akibat penutupan sistem open dumping.

Open Dumping Ditutup, Bandung Siapkan 36 Lahan Pengolahan Sampah
Pengendara melewati sampah yang menggunung di Jalan Makam Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Senin (20/4/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

tirto.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan 36 lahan milik pemkot untuk dialihfungsikan sebagai tempat pengolahan sampah. Hal tersebut disiapkan akibat sistem pembuangan terbuka atau open dumping bakal ditutup pemerintah pusat pada tahun ini.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan pihaknya sudah sepakat dengan keputusan pembangunan tersebut. Nanti, pemkot berencana siapkan luas lahan sekitar 100 sampai 300 meter per segi.

"Kapasitas antara 10 sampai 20 ton per hari, per titik. Baik teknologi sampah organik maupun anorganik," ungkap Farhan kepada wartawan di Pendopo Bandung, Selasa (21/4/2026).

Muhammad Farhan

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat ditemui wartawan di Pendopo Bandung, Kota Bandung, Selasa (21/4/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

Ia mengaku permasalahan sampah di Kota Bandung akan menghadapi krisis akibat penutupan sistem open dumping. Pemkot hanya memiliki waktu delapan bulan sebelum penutupan dilakukan pemerintah pusat.

"Maka kami harus sudah siap. Dalam waktu 3 bulan ke depan, saya menargetkan 300 ton sampah bisa diolah di dalam Kota Bandung," imbuhnya.

Sementara sejauh ini, kata Farhan, timbulan sampah di Kota Bandung mencapai 1.800 ton. Namun secara resmi, timbulan sampah setiap hari ada 1.500 ton, kelebihan tonase itu berasal dari sisa kegiatan, acara wisata dan lain-lain.

"Termasuk sampah yang terbawa sungai, total 1.800. Yang baru bisa kami olah 300 ton. Yang selama ini bisa dibawa ke tempat pembuangan akhir hanya 1.000. Jadi setiap hari masih ada 500 yang harus diolah lagi," katanya.

Saat disinggung masalah gunungan sampah di Jalan Makam Caringin, Farhan bilang bakal melakukan tinjauan lapangan. Pemkot juga masih mencari solusi lain untuk menangani masalah sampah di sejumlah titik.

"Kami akan meninjau semua titik. Memastikan semuanya bisa diolah. Kalau sekadar diangkut kami sudah kehabisan kuota, itu sudah pasti," ucapnya.

Ia menyebut hampir semua teknologi sudah dijajaki pemkot, kecuali pengolahan sampah berbasis Waste to Energy (WtE). Menurutnya butuh modal besar dan kesiapan lahan yang luas untuk pembangunan teknologi tersebut.

"Dibutuhkan tanah 7 hektar plus jarak sumber daya air baku 10 km. Punya sumber air baku besar dan investasi senilai Rp3,6 triliun. Dan sekarang ada syarat baru dari WtE, sampah harus berkualitas. Kami sudah berkomitmen ke pemerintah pusat dan Danantara," tegasnya.

Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Bayu Septianto