tirto.id - Warga di kawasan Jalan Makam Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, mengeluhkan tumpukan sampah yang menggunung hingga setinggi 4 meter. Selain menimbulkan bau menyengat, timbulan sampah yang tidak terangkut sejak pertengahan Februari 2026 tersebut kini mulai memakan badan jalan dan mengganggu akses mobilitas warga sekitar.
Saat kontributor Tirto di lokasi, timbulan sampah tersebut sudah memakan sebagian jalan akses warga. Jalan menjadi satu arah. Tidak jarang, beberapa pengemudi mundur teratur saat mengetahui bahwa ada kendaraan lain di depannya.

"Kamis [pekan lalu] ini belum diangkut. Biasa diangkut setiap hari. Tapi sejak bulan puasa enggak begitu [rutin]. Begini lagi [numpuk]," ungkap Dudung, seorang petugas kebersihan setempat berusia 50 tahun, kepada Tirto di lokasi, Senin (20/4/2026).
Ia menyebutkan, kondisi demikian tidak akan terjadi apabila pemerintah lebih rutin mengangkut sampah. Terhitung, pengangkutan saat ini hanya dilakukan sebanyak empat kali dalam satu minggu.
"Biasanya jalan normal. Kalau setiap hari ada [diangkut] pasti bisa ini enggak numpuk. Ini harus ada tanggung jawab pengelola. Merugikan masyarakat. Jalan terdampak. Bau," sebutnya.
Hal itu juga dirasakan warga setempat, Lilis. Tidak ada lagi udara segar saat pagi hari. Menurutnya, timbulan sampah berbulan-bulan itu membuat udara di sekitar pemukiman beraroma tidak sedap.
"Bau banget, kang. Nggak ada udara pagi yang segar itu. Sekarang mah bau," ungkap ibu rumah tangga berusia 46 tahun tersebut.
Ia mengeluhkan iuran sampah bulanan yang sering dibayarkan warga, ternyata, tak mampu mengatasi masalah tersebut. Dirinya berharap masalah gunungan sampah di tempat pembuangan sementara Jalan Caringin, bisa diselesaikan pemerintah secepat mungkin.

"Pengin mah beres aja segera. Enggal dibereskeun, barau (Cepat dibereskan, bau). Terlalu banyak sampah," harapnya.
Bersamaan, seorang warga lainnya, Ade menyayangkan kondisi yang kini terjadi di depan matanya. Lokasi usaha bengkel sepeda yang tidak jauh dari lokasi gunungan sampah, membuat ia kerap melihat kecelakaan akibat jalanan licin disebabkan air limbah sampah.
"Harus mah diangkut segera. Khawatir sama pengendara yang lewat. Banyak yang jatuh juga. Kalau sama warga terdekat, kan, khawatir ada penyakit," sesalnya.
Ia mengaku pengangkutan beberapa hari lalu juga, tidak begitu berdampak ke sampah yang menggunung tersebut. Sudah empat hari tidak ada lagi petugas kebersihan yang mengangkut sampah.
"Teu aya tapakna (tidak ada pengaruhnya). Itu diangkut lima mobil, tetap saja begini. Harus diangkut mesin. Iraha bade beresna? (Kapan beresnya?)," tanya laki-laki berusia 50 tahun itu.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































