Menuju konten utama
Byte

Menghancurkan Buku demi Kecerdasan Semu

Project Panama Anthropic membeli dan menghancurkan buku untuk melatih AI. Praktik ini memicu kontroversi hukum, etika, dan kekhawatiran atas nasib buku.

Menghancurkan Buku demi Kecerdasan Semu
Ilustrasi Buku Terbakar. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Panama kembali bikin geger dunia. Sepuluh tahun sejak skandal The Panama Papers yang membongkar para pengemplang pajak kelas kakap dari berbagai penjuru Bumi, kini muncullah apa yang disebut Project Panama.

Tak seperti Panama Papers yang lahir dari status Panama sebagai tax haven atau "surga pajak", nama Project Panama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan negara di Amerika Tengah tersebut. Justru, aktivitas proyek ini sebagian besarnya dilakukan di benua Eropa. Meski demikian, tetap ada korelasi antara Panama Papers dengan Project Panama. Yakni, bahwa keduanya sama-sama dibalut oleh kerahasiaan.

Project Panama adalah sebuah proyek milik perusahaan akal imitasi (AI) Anthropic yang terbongkar lewat dokumen persidangan.

Nama itu muncul pertama kali dalam dokumen perencanaan internal Anthropic, yang kemudian dibuka ke publik dalam gugatan hak cipta federal di Amerika Serikat (AS). Dalam dokumen itu, tertulis kalimat yang belakangan jadi sorotan luas: "Project Panama adalah upaya kami untuk memindai-hancurkan semua buku di dunia ini. Kami tidak mau dunia tahu kami melakukan ini."

Dokumen tersebut terungkap sebagai bagian dari kasus gugatan class action yang diajukan sekelompok penulis terhadap Anthropic, dengan nama gugatan Bartz v. Anthropic PBC. Penggugat utamanya adalah novelis Andrea Bartz, bersama dua penulis nonfiksi, Charles Graeber dan Kirk Wallace Johnson. Mereka menuduh Anthropic memakai karya-karya mereka secara ilegal untuk melatih Claude, chatbot besutan perusahaan tersebut.

Publik pertama kali mengetahui detail Project Panama lewat investigasi The Washington Post yang terbit akhir Januari 2026, berdasarkan lebih dari 4.000 halaman dokumen pengadilan yang baru dibuka ke publik. Sebelum laporan itu terbit, publik hanya tahu soal tuduhan pembajakan buku oleh Anthropic. Namun, laporan The Washington Post menyingkap sisi lain yang belum pernah diberitakan sebelumnya, yaitu operasi masif pembelian dan penghancuran buku fisik demi memberi makan model AI Anthropic.

Dua Langkah Anthropic dalam "Menelan" Buku

Supaya jelas duduk perkaranya, penting dipahami bahwa Anthropic selama ini menempuh dua jalur berbeda untuk mengumpulkan bahan bacaan bagi Claude. Jalur pertama adalah pembajakan, yang terjadi lebih dulu. Jalur kedua adalah Project Panama, yang datang belakangan sebagai upaya mencari cara yang secara hukum lebih aman.

Jalur pertama dimulai sejak 2021. Ben Mann, salah satu co-founder Anthropic, mengunduh sendiri jutaan buku dari perpustakaan bayangan (shadow library) bernama Library Genesis atau LibGen dalam rentang 11 hari pada Juni 2021. Dokumen pengadilan bahkan menyertakan tangkapan layar peramban Mann saat proses pengunduhan berlangsung, lengkap dengan perangkat lunak yang dia gunakan.

Setahun berselang, giliran Anthropic sebagai institusi yang mengunduh setidaknya dua juta buku tambahan dari Pirate Library Mirror pada Juli 2022, sebuah situs yang secara terang-terangan menyatakan "sengaja melanggar hukum hak cipta di sebagian besar negara". Mann bahkan sempat membagikan tautan situs itu ke rekan-rekan kerjanya di Anthropic dengan pesan penuh semangat, "Just in time!!!" Total buku bajakan yang diunduh Anthropic dari berbagai sumber, menurut temuan hakim yang mengadili kasus ini, mencapai lebih dari tujuh juta kopi.

Mengapa buku begitu diincar? Jawabannya berkaitan dengan cara kerja model bahasa besar atau large language model (LLM) semacam Claude, yang dilatih dengan cara "membaca" miliaran kata untuk membangun pola statistik antarkata dan konsep. Kualitas bahan bacaan sangat menentukan kualitas jawaban yang kelak dihasilkan, dan buku yang sudah melalui penyuntingan profesional dianggap sumber teks berkualitas tinggi dibandingkan, katakanlah, komentar di media sosial.

Ada pula alasan soal apa yang disebut "keruntuhan model" atau model collapse. Ketika konten buatan AI membanjiri internet, model AI generasi berikutnya berisiko dilatih memakai teks yang sudah "terkontaminasi" oleh keluaran AI sebelumnya, sehingga kualitasnya menurun. Karena itu, buku yang terbit sebelum era ledakan AI generatif, kira-kira sebelum 2022, dianggap bernilai lebih tinggi karena dipastikan bersih dari kontaminasi semacam itu.

Masalahnya, mengunduh buku bajakan menyimpan risiko hukum tersendiri. Menurut catatan pengadilan, pada 2024 Anthropic sudah "tidak lagi terlalu bersemangat" memakai ebook bajakan karena alasan hukum, dan mulai mencari sumber yang lebih "aman". Di sinilah Project Panama lahir.

Untuk memimpin proyek ini, Anthropic merekrut Tom Turvey pada Februari 2024, sosok yang sebelumnya memimpin kemitraan untuk proyek pemindaian Google Books. Perekrutan ini tampaknya dilakukan karena Google Books sendiri pernah melalui gugatan hak cipta panjang tetapi akhirnya menang di pengadilan.

Namun, cara kerja Project Panama sangat berbeda dari Google Books. Google memakai kamera non-destruktif yang dipatenkan untuk memindai jutaan buku pinjaman perpustakaan, lalu mengembalikannya utuh. Hasilnya adalah indeks pencarian publik yang bisa diakses siapa pun, meski hanya menampilkan cuplikan singkat, bukan teks penuh.

Project Panama menempuh jalan yang sangat berbeda. Anthropic membeli buku fisik bekas secara masif, sering kali puluhan ribu eksemplar sekaligus, dari sejumlah vendor termasuk Better World Books dan World of Books yang berbasis di Inggris. Sebelum menetapkan pilihan itu, Anthropic sempat mempertimbangkan opsi lain, termasuk membeli dari toko buku legendaris Strand di New York atau bekerja sama dengan perpustakaan umum seperti New York Public Library, meski tidak jelas apakah rencana-rencana itu benar terlaksana.

Buku-buku yang sudah dibeli itu kemudian dikirim ke kontraktor pihak ketiga untuk menjalani proses yang disebut destructive scanning atau pemindaian destruktif. Prosesnya dimulai dengan mesin pemotong bertenaga hidrolik yang memotong bagian punggung (spine) tiap buku secara rapi, memisahkan halaman-halamannya yang lalu dipindai memakai pemindai berkecepatan dan berkualitas tinggi untuk menghasilkan berkas PDF yang bisa dicari teksnya. Setelah itu, kertas aslinya dibuang atau dikirim ke perusahaan daur ulang.

Salah satu proposal vendor yang dikutip dalam dokumen pengadilan menyebutkan kapasitas mengonversi 500 ribu hingga dua juta buku dalam periode enam bulan. Angka totalnya, berapa persis buku yang akhirnya dipindai, dan berapa besar biayanya, sebagian besar masih disensor dalam dokumen yang beredar. Yang jelas, Anthropic menghabiskan "puluhan juta dolar" untuk Panama Project ini.

Hasil akhirnya, jutaan buku fisik lenyap selamanya, sementara salinan digitalnya disimpan secara privat di server internal Anthropic. Tidak ada pembaca, perpustakaan, atau bahkan penulis asli buku tersebut yang bisa mengakses arsip itu. Berbeda dari Google Books yang menghasilkan indeks pencarian terbuka, koleksi Project Panama sepenuhnya tertutup dari dunia luar.

Pertanyaan besarnya kemudian, bagaimana mungkin praktik menghancurkan jutaan buku demi kepentingan komersial semacam ini bisa dianggap sah secara hukum? Jawabannya terletak pada putusan Hakim William Alsup dari Pengadilan Distrik AS untuk Distrik California Utara, yang memimpin persidangan kasus Bartz v. Anthropic sejak pertengahan 2025.

Kontradiksi soal AI yang Aman dan Etis

Pada akhir Juni 2025, Alsup menjatuhkan putusan yang oleh banyak pengamat disebut sebagai putusan pertama yang secara tegas membahas legalitas melatih AI memakai buku berhak cipta. Dalam putusannya, Alsup menyatakan bahwa penggunaan buku untuk melatih LLM bersifat "quintessentially transformative" alias benar-benar transformatif, dan karena itu dilindungi oleh doktrin fair use.

Alsup bahkan menyamakan proses ini dengan mengajari anak sekolah membaca dan menulis. Anak-anak itu tidak dilatih untuk meniru atau menggantikan karya yang mereka baca, melainkan untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar berbeda.

Perlu diketahui bahwa Anthropic tidak lolos dari hukuman dalam kasus ini. Akan tetapi, mereka hanya dihukum soal pengunduhan buku bajakan. Untuk buku-buku yang dibeli secara sah lalu dipindai lewat Project Panama, Alsup menilai prosesnya sebagai perubahan format belaka karena hasil pemindaian tak pernah didistribusikan ke pihak luar. Inilah yang dilindungi doktrin fair use tadi.

Sementara, pengunduhan jutaan buku dari LibGen dan Pirate Library Mirror tetap dianggap pelanggaran hak cipta. Alsup menolak argumen Anthropic bahwa pengunduhan itu cuma langkah sementara menuju metode yang lebih "transformatif". Konsekuensinya, Anthropic harus membayar 1,5 miliar dolar AS untuk menyelesaikan tuntutan terkait buku-buku bajakan tersebut.

Total, ada 482.460 judul buku yang diunduh secara ilegal oleh Anthropic dari LibGen dan Pirate Library Mirror. Per judulnya, ada kompensasi sekitar 3.000 dolar AS. Pengacara utama para penggugat, Justin Nelson, menyebut ini sebagai pemulihan hak cipta terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah hukum AS.

Nelson barangkali benar. Akan tetapi, "kejahatan" Anthropic yang lebih besar justru tidak berbuah hukuman apa pun. Yang menarik untuk direnungkan di sini adalah ironi yang melekat pada sosok-sosok di balik Anthropic.

Daniela Amodei, presiden sekaligus salah satu pendiri Anthropic, bukan orang yang asing dengan dunia sastra. Ia menyelesaikan gelar sarjana di bidang Sastra Inggris di University of California, Santa Cruz, dan dalam berbagai wawancara publik ia kerap membela pentingnya pendidikan humaniora, bahkan menyebut bidang-bidang seperti sastra akan makin relevan di tengah gempuran AI.

Apa yang diucapkan Daniela dan apa yang dilakukan perusahaannya jelas-jelas bertolak belakang. Di satu sisi dia menggaungkan pentingnya sastra, di sisi lain dia menghancurkan buku yang merupakan pengejawantahan fisik dari karya sastra itu sendiri. Kathryn James, pustakawan buku langka di Yale, menulis dalam kolom opininya di The Guardian bahwa publik seharusnya khawatir Anthropic memilih menghancurkan buku fisik ketimbang berurusan dengan apa yang oleh Dario Amodei (CEO Anthropic) disebut "legal/practice/business slog", alias kerumitan bernegosiasi dengan pemegang hak cipta.

Dan bicara soal Dario... Well, laki-laki 43 tahun ini berulang kali menegaskan komitmennya pada pengembangan AI yang aman dan etis. Salah satu contohnya ketika Anthropic menolak tuntutan Pentagon agar Claude bisa dipakai tanpa batasan apa pun, termasuk untuk senjata otonom penuh dan pengawasan massal terhadap warga sipil AS. Dario menyatakan perusahaannya "tidak bisa dengan hati nurani bersih menyetujui" tuntutan itu, meski itu berarti Anthropic harus kehilangan status sebagai penyedia AI resmi militer AS.

Sikap tegas soal etika itu terasa janggal jika disandingkan dengan Project Panama. Perusahaan yang menolak kompromi soal senjata otonom demi menjaga "nilai-nilai demokratis", malah diam-diam menghancurkan jutaan buku fisik, termasuk kemungkinan sejumlah edisi langka yang sulit dicari gantinya, demi kepentingan komersial. Dokumen internal bahkan secara eksplisit menyebutkan keinginan agar proyek ini "tidak diketahui publik", dan ini tidak sinkron dengan citra perusahaan yang gencar mempromosikan transparansi dalam pengembangan AI.

Kekhawatiran dan Ironi

Kekhawatiran soal dampak jangka panjang praktik semacam ini pun mulai menyebar. Di Eropa, sejumlah penjual buku antik dan langka melaporkan pola pembelian yang mencurigakan sejak awal 2026. Di Belanda, misalnya, toko buku antik De Vries & De Vries di Haarlem menerima permintaan dari seseorang yang mengaku mewakili perusahaan asal Singapura bernama 2077AI, berisi daftar tiga ribu judul buku berbahasa Inggris berdasarkan nomor ISBN yang ingin dibeli dalam jumlah besar.

Pola serupa dilaporkan terjadi di Swiss, Spanyol, dan Jerman, dengan salah satu penjual buku antik di Jerman melaporkan gelombang pesanan yang datang tengah malam, antara pukul tiga hingga lima dini hari, dari perusahaan asal Kanada bernama Zoom Books. Para penjual buku ini menduga pembelian ini ditujukan untuk kebutuhan pelatihan AI, sebab judul-judul yang diminta sering kali terlalu spesifik dan tidak berkaitan satu sama lain untuk kepentingan koleksi atau dijual kembali secara wajar.

Investigasi 404 Media bahkan menemukan bahwa perusahaan bernama ISBNdb, yang memiliki basis data buku terbesar di dunia, sempat menawarkan jasa memfasilitasi pembelian dalam jumlah besar khusus untuk klien perusahaan AI, dengan rentang pesanan mulai dari seribu hingga satu juta buku sekaligus, lengkap dengan perjanjian kerahasiaan sebagai bagian dari layanannya. ISBNdb belakangan menghapus klaim tersebut dari situsnya setelah laporan itu terbit.

Yang jadi persoalan besar di sini, sebagaimana disinggung Kathryn James dalam tulisannya, adalah bahwa tidak ada mekanisme hukum yang secara khusus melindungi buku fisik sebagai objek budaya yang patut dilestarikan, terutama untuk edisi langka atau edisi yang cuma tersisa dalam jumlah sedikit di dunia. Berbeda dengan spesies langka yang punya daftar perlindungan resmi, tidak ada "daftar buku terancam punah" yang bisa mencegah sebuah edisi langka lenyap selamanya untuk dijadikan "bahan baku" pelatihan AI.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah pengulangan kejadian ini? Sejumlah pihak menyerukan perlunya kerangka regulasi baru yang mengatur bagaimana data pelatihan AI boleh diperoleh, termasuk soal atribusi dan kompensasi bagi pemilik hak cipta asli. Ed Newton-Rex, mantan eksekutif AI yang kini memimpin organisasi nirlaba pembela hak kreator, menegaskan bahwa industri AI perlu "segera melakukan reset" agar kreator mulai dibayar adil atas kontribusi yang selama ini mereka berikan tanpa kompensasi memadai.

Di saat regulasi semacam itu belum terwujud, preseden hukum dari kasus Bartz v. Anthropic sudah keburu menyebar. Putusan itu pada dasarnya memberi peta jalan yang sah secara hukum bagi perusahaan AI lain untuk menempuh jalan serupa, membeli buku lalu memusnahkannya setelah dipindai, tanpa perlu bersusah payah bernegosiasi dengan penulis atau penerbit.

Namun, ada satu perspektif lain yang tak kalah penting untuk ditimbang, yang diangkat Jannis Lennartz, seorang pengajar di Universitas Humboldt Berlin, dalam esainya di Verfassungsblog. Lennartz mempertanyakan apakah kemarahan publik terhadap Anthropic ini sepenuhnya berdiri di atas argumen yang kokoh, atau justru sebagian besar bersifat "perilaku kompensatoris".

Argumennya berangkat dari kenyataan yang lebih pahit, yakni budaya membaca sendiri sedang mengalami kemunduran serius, bukan cuma di AS, tapi juga di Eropa. Lennartz mencontohkan data studi IGLU, yang menemukan satu dari empat siswa sekolah dasar di Jerman tidak memenuhi standar minimum kemampuan membaca, sementara karya klasik di sekolah-sekolah Berlin kini dibacakan dalam versi "bahasa sederhana" yang jauh dari bentuk aslinya.

Lennartz menulis bahwa orang Eropa seolah membenci "mesin-mesin Amerika" yang mengambil alih buku-buku yang sebenarnya sudah lama tidak lagi diminati oleh orang Eropa sendiri. Baginya, persoalan sesungguhnya adalah rendahnya minat orang Eropa terhadap buku.

Argumen ini penting untuk menyeimbangkan gambaran yang selama ini beredar. Sejumlah penjual buku bekas yang diwawancarai 404 Media sebetulnya mengaku punya perasaan bercampur aduk. Salah satu penjual buku bahkan mengatakan penjualan borongan ke perusahaan AI menguntungkan secara finansial sekaligus membantunya membersihkan stok lama yang kemungkinan besar tak akan pernah laku terjual.

Ini bukan pembelaan atas cara Anthropic beroperasi secara diam-diam, atau atas ketiadaan kompensasi bagi penulis dan penerbit. Persoalan hukum dan etika itu tetap berdiri sendiri, terlepas dari laku atau tidaknya sebuah buku di pasaran. Tapi, ironi yang lebih besar barangkali justru di sini.

Kita marah melihat buku-buku dihancurkan. Akan tetapi, apakah kita sendiri masih berminat pada buku-buku tersebut? Jangan-jangan, kalaupun tidak hancur di mesin pemindai Anthropic, buku-buku itu hanya akan teronggok di gudang, lalu hancur dengan sendirinya karena rayap dan jamur? Apabila ini yang terjadi, siapa yang bisa dipersalahkan?

Baca juga artikel terkait ARTIFICIAL INTELLIGENCE atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi