tirto.id - Pada Sabtu, 19 September 2026, atmosfer Stadion The Den kembali memanas. Sejak peluit pertama dibunyikan, laga derbi di EFL Championship antara Millwall dan West Ham United berlangsung ketat; kedua tim saling saling serang, saling jegal, dan saling mengungguli.
Laga yang berakhir imbang 2-2 tersebut diwarnai lebih dari 30 pelanggaran, lima kartu kuning dan satu kartu merah. Tingginya tensi laga tersebut bisa dibilang wajar, mengingat kedua tim baru saja "temu kangen" derbi edisi ke-100, setelah berpisah di liga berbeda selama 14 tahun.
Bahkan, setelah menyadari potensi eskalasi laga derbi tersebut, Kepolisian London Metropolitan bahkan harus repot-repot menerbitkan perintah pembubaran Section 35 untuk mencegah potensi kerusuhan yang akan terjadi.
Namun, riuh ketegangan adu chant dan saling ejek di tribun The Den hari itu jelas bukan sekadar persaingan antar-klub kasta kedua atau letupan hooliganisme biasa. Reuni Millwall dan West Ham setelah 14 tahun membuktikan bahwa jeda waktu panjang tak bisa mendinginkan bara konflik yang punya sejarah panjang.
Dilansir oleh kanal YouTube Prusias Football, perseteruan antara kedua klub tersebut tidak hanya terjadi dalam lingkup sepak bola. Namun, berakar dari permasalahan sosio-politik yang terjadi di London East End pada akhir abad ke-19 yang menolak mati.
Segregasi Geografis dan Kasta Buruh Sungai Thames
Akar perpecahan Millwall dan West Ham membentang di sepanjang alur Sungai Thames. Markas awal kedua klub hanya berjarak sekitar 4,8 kilometer.
Di sisi Utara, West Ham United berawal dari klub Thames Ironworks, yang didirikan pada 1895 di Canning Town oleh pemilik galangan elite, Arnold Hills. Klub yang, sesuai namanya, berada di bawah naungan perusahaan Thames Ironworks tersebut adalah “alat kontrol” ciptaan Hills.
Ketika itu, Hills sedang gencar melakukan segala hal demi memupuk disiplin kerja sekaligus menjinakkan radikalisme serikat buruh. Untuk mewujudkannya, ia menerapkan kebijakan kesejahteraan seperti sistem pembagian profit, pembatasan delapan jam kerja pada 1894, serta perkumpulan abstinensia alkohol. Dari situlah "klub sepak bola pabrik" terbentuk, sebagaimana dicatat oleh Brian Belton dalam The Thames Iron Works: A History of East London Industrial and Sporting Heritage (2015: 60).
Sebagai klub bentukan pabrik, skuad Thames Ironworks tentu saja diisi sepenuhnya oleh para buruh galangan kapal, seperti boilermakers, clerk, and ship fireman (hlm. 7).
Sementara itu, rivalnya, Millwall Rovers, didirikan pada 1885 oleh para buruh migran asal Skotlandia yang bekerja di pabrik pengalengan makanan, J.T. Morton, terletak di West Fery Road, kawasan Isle of Dogs. Identitas klub tersebut dibangun oleh buruh pabrik selai dan marmelad, buruh galangan Millwall Ironworks, serta buruh harian lepas pelabuhan yang perekonomiannya rentan. Kerentanan hidup sebagai buruh harian inilah yang membentuk mentalitas underdog dan loyalitas mutlak, fondasi Millwall hingga hari ini.
Pemisahan demografis dan geografi sosial itu kian mengkristal ketika Millwall memindahkan markasnya menyeberangi sungai menuju Stadion The Den di selatan London pada 1910. Rivalitas kedua tim makin memanas akibat persaingan bisnis masing-masing perusahaan untuk memperebutkan kontrak kapal dan logistik di Sungai Thames.
Sejak itu, persaingan ekonomi tepian sungai itu merembet berpindah ke tribun stadion, menjelma menjadi panggung pelampiasan gengsi antar-suporter (Belton, hlm 20). Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk melimpahkan kemarahan yang telah lama terpendam ke lapangan hijau. Pada 1989, mereka berjumpa untuk kali perdana di kompetisi profesional, Piala FA, yang berakhir dengan skor 2-1 dimenangi oleh Millwall.
Titik Didih 1926, Lahirnya Dosa Sejarah “Scab”
Puncak dari rivalitas kedua pihak ini kerap dikaitkan dengan peristiwa General Strike Inggris pada Mei 1926, yang melibatkan lebih dari 1,5 juta pekerja.
Mitos urban yang beredar di kalangan suporter West Ham mengklaim, buruh galangan kapal mereka mogok total demi solidaritas buruh nasional, sedangkan buruh Millwall dituduh membelot (scabbing) demi mengamankan upah harian. Dari peristiwa tersebut muncul stigma hinaan "Scab" alias pengkhianat pemogokan yang ditujukan bagi kubu Millwall. Tapi, hal itu kemudian dibalas oleh suporter Millwall dengan slogan legendaris, “No one like us, we don’t care”.
Meski begitu, tuduhan yang melekat pada Millwall belakangan ini disebut-sebut hanya mitos. Secara kronologis, Millwall telah memindahkan basis utamanya dari Isle of Dogs ke New Cross di selatan sungai sejak 1910, 16 tahun sebelum General Strike meletus. Sejarawan terkemuka Millwall, Dave Sullivan, secara eksplisit menegaskan bahwa cerita perselisihan dermaga tersebut hanyalah mitos yang dibesar-besarkan seiring berjalannya waktu.
Lantas, mengapa mitos ini terus dipelihara oleh suporter kedua tim?
Dalam sudut pandang sosiologi, itu hal wajar. Menurut Eric Dunning dalam Sport Matters: Sociological Studies of Sport, Violence and Civilisation (1999: 4-5), persaingan olahraga memang membutuhkan memori kolektif dan narasi kualitatif untuk membentuk solidaritas kelompok internal sekaligus memagari batas sosial dari kelompok lawan. Mitos “Scab” dan stigma “supermasis” terus dirawat karena berfungsi sebagai instrumen psikologis untuk merawat identitas rivalitas serta memberikan legitimasi emosional pada perselisihan mereka.
Deindustrialisasi, Mutasi Dendam ke Tribun Stadion
Runtuhnya kejayaan industri maritim pasca-Perang Dunia II membawa gelombang deindustrialisasi masif yang menggusur galangan kapal milik kedua klub pabrik, baik Thames Ironworks (sudah berubah menjadi West Ham sejak 1900) maupun Millwall. Kawasan dermaga kumuh di sepanjang Sungai Thames bertransformasi menjadi Canary Wharf, pusat distrik finansial kapitalisme modern.
Meskipun tempat kerja fisik yang menjadi pemicu awal telah lenyap, memori kolektif dan kebencian masa lalu tetap bertahan, yang pada akhirnya menjadikan tribun stadion sebagai wadah permanen baru bagi manifestasi permusuhan antara Millwall dan West Ham.
Pada era 1970–1980-an, menurut Nick Lowles dan Andy Nicholls dalam Hooligans: The A-L of Britain's Football Hooligan Gangs (2005: 7), persaingan itu berubah menjadi bentrokan hooliganisme sengit antara InterCity Firm (West Ham) dan The Bushwacker (Millwall). Rekam jejak permusuhan itu diwarnai oleh insiden-insiden kekerasan mematikan yang berujung pada jatuhnya korban dari kedua pihak.
Pada tahun 1976, rivalitas mereka memakan korban jiwa dari pihak Millwall. Ian Pratt dikejar oleh suporter West Ham, lalu jatuh ke bawah kereta di Stasiun New Cross. Peristiwa kelam itu membuat rivalitas keduanya makin memanas.
Selang dua tahun tidak bertemu akibat perbedaan kasta liga, kebencian akibat kematian Ian Pratt masih memuncak. Menjelang pertemuan kedua klub pada Oktober 1978, suporter Millwall menyebarkan teror melalui selebaran pesan, “A West Ham fan must die to avenge him.” Mengetahui akan adanya kekerasan yang tidak terelakkan, pihak kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar guna mengamankan jalannya pertandingan. Meski demikian, hari itu tetap berakhir kacau, diwarnai oleh banyaknya penangkapan dan korban luka.
Meskipun penataan stadion dan pengawasan ketat kepolisian kini menekan kekerasan fisik, rivalitas Millwall vs West Ham sesekali melahirkan momen solidaritas kemanusiaan. Dikutip dari telegraph.co.uk, kedua kelompok pernah menanggalkan rivalitasnya untuk menggalang dana pengobatan kanker bagi balita suporter West Ham bernama Isla Canton pada 2018. Selang empat tahun, ketika sang balita meninggal, kedua kubu juga kompak melakukan penghormatan dan belasungkawa.
Pertandingan yang terjadi pada 19 September 2026 di The Den membuktikan bahwa sepak bola berfungsi sebagai kapsul sosial yang mengawetkan trauma sejarah industrialisasi dan segregasi kelas pekerja London. Skor imbang 2-2 di papan skor mungkin akan dilupakan seiring pergantian musim, tetapi hantu perselisihan buruh maritim abad ke-19 dan narasi mitos yang menyertainya akan selalu hidup dan bergentayangan setiap kali kedua klub dipertemukan.
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































