Menuju konten utama

Pempek Kampung Kapitan Palembang: Rasa Mewah, Harga Murah Meriah

Yang menarik dari Kampung Kapitan adalah semua warung pempek di sini mematok harga seragam: Rp1.000 per biji.

Pempek Kampung Kapitan Palembang: Rasa Mewah, Harga Murah Meriah
Pusat jajanan pempek di Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Palembang, Selasa (22/9/2026). FOTO/Irwanto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pempek sebagai kuliner khas Palembang, Sumatra Selatan, telah terkenal seantero Nusantara. Tak heran, setiap sudut kota itu terdapat warung pempek.

Ada banyak pusat pempek di Palembang yang sangat mudah dikunjungi. Penyuka kuliner tentunya telah mengenal Kampung Pempek 26 Ilir yang telah eksis puluhan tahun.

Di sepanjang Jalan Mujahidin, Kelurahan Talang Semut itu, terdapat puluhan warung dan resto pempek. Setiap warung menyajikan beragam jenis pempek dengan harga merakyat, berkisar Rp1.200 hingga Rp2.000 per biji.

Ada juga Kampung Pempek Sentosa Plaju yang juga menawarkan kelezatan jajanan itu dengan harga bersahabat.

Tak lupa pempek tumpah yang berada di kawasan Pasar 16 Ilir. Tempat ini sempat viral setelah banyak artis dan tokoh penting datang berkunjung, termasuk Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada September 2025.

Di antara banyak pilihan sentra pempek itu, janganlah lupakan kawasan Kampung Kapitan di Kelurahan 7 Ulu. Di sini, pengunjung tak sekadar berburu pempek lezat, tapi juga dapat menjelajahi peninggalan sejarah Kampung Kapitan, menikmati Sungai Musi, dan bisa juga makan sambil berfoto berlatar Jembatan Ampera. Belasan warung pempek sederhana berjejer sejak masuk ke lorong sempit hingga ke bantaran Sungai Musi.

Yang menarik dari Kampung Kapitan adalah semua warung pempek di sini mematok harga seragam: Rp1.000 per biji. Ukuran pempeknya juga terbilang lebih besar dibanding pusat pempek lain.

Meski murah dan ukurannya besar, rasa pempek dan cukonya tak kalah enak dengan pempek yang dijual di resto mewah.

Pempek Kampung Kapitan

Pusat jajanan pempek di Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Palembang, Selasa (22/9/2026). FOTO/Irwanto

Muncul pada Masa Pandemi COVID-19

Pedagang di Kampung Kapitan awalnya merupakan pembuat pempek rumahan yang tinggal di Lorong Tanggo Rajo yang lokasinya persis bersebelahan. Mereka sudah puluhan tahun memproduksi pempek untuk dijajakan sendiri atau diambil pedagang keliling di Pasar 16 Ilir dan pempek tumpah.

Pedagang kemudian melihat cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke Kampung Kapitan, tetapi kawasan itu tidak punya warung kuliner atau oleh-oleh khas Palembang. Biasanya, wisatawan langsung pulang begitu selesai menjelajahi Kampung Kapitan.

Para pedagang pempek Tanggo Rajo melihat itu sebagai kesempatan. Akhirnya, mereka memberanikan diri membuka usaha kecil-kecilan di sekitar rumah-rumah peninggalan komunitas peranakan Cina tersebut.

Pada 2020—tepatnya masa Pandemi COVID-19, satu per satu pedagang menyewa lahan kosong yang berada di sepanjang lorong kecil itu sampai ke pinggiran Sungai Musi. Mereka membangun tempat sederhana dan mulai membuka usaha di sana.

Sejak itulah, Kampung Kapitan mulai dikenal sebagai pusat produksi pempek. Alhasil tempat itu didatangi pengunjung setiap hari, baik yang ingin mencicipi pempek atau menjadi pelanggan tetap.

Selain menawarkan cita rasa mewah dengan harga murah, para pedagang pempek Kampung Kapitan juga memiliki ide kreatif yang tak terpikirkan oleh pengusaha pempek lainnya. Di sini, pengunjung dapat melihat secara langsung proses produksi pempek, mulai dari membuat adonan, pencetakan, perebusan, penggorengan, hingga ditiriskan dan disajikan ke meja.

Tempat produksi ini berada persis di belakang meja kasir. Pengunjung juga bisa mengobrol langsung dengan pembuat pempek yang semuanya dari kalangan perempuan.

Kepulan asap dari panci penggorengan dan uap panas menambah penasaran pengunjung untuk mencicipi pempek yang selalu hangat. Suasana inilah membuat pengunjung merasa berada di rumah sendiri dan pasti bakal ketagihan jika pernah merasakannya.

Pempek Kampung Kapitan

Pusat jajanan pempek di Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Palembang, Selasa (22/9/2026). FOTO/Irwanto

Harga Seribuan Menggoyang Lidah

Harga pempek di belasan warung di Kampung Kapitan sama—ada Pempek Minah, Pempek Wakna, Pempek Koyek, Pempek Cek Ning, Pempek Yamai, Pempek Awel, dan lainnya. Semua jenis pempek pun tersedia, mulai dari lenjer, telur, kulit, adaan, keriting, dan tahu.

Meski begitu, pengunjung juga bisa memesan menu lain, seperti tekwan dan model dengan harga berkisar Rp6.000-Rp8.000 per porsi.

Penikmat kuliner akan dimanjakan bauran aroma cuko kental yang nikmat. Rasanya tidak terlalu pedas, tapi bikin nagih bila dipertemukan dengan pempek.

Cek Ning (65), salah satu pedagang, mengaku sengaja menyewa lahan kosong untuk membuka usaha pempek. Dia membangun warung sederhana yang berada di pinggiran Sungai Musi.

Pada 2010, Cek Ning membuka usaha pempek di tempat tinggalnya di Lorong Tanggo Rajo untuk dijual sendiri. Lama kelamaan, pempek buatannya dipesan pedagang keliling sehingga menambah jumlah produksi.

"Dulu itu, kerja di warung pempek. Karena sudah tahu cara bikinnya, saya keluar dan buat usaha sendiri. Alhamdulillah banyak orang yang pesan buat dijual lagi di Pasar 16 Ilir, sekalian saya juga jualan di pempek tumpah," ungkap Cek Ning kepada kontributor Tirto, Selasa (22/9/2026).

Beberapa tahun lalu, dia menjajal peruntungan dengan membuka warung di Kampung Kapitan. Ternyata usahanya makin lancar dan pelanggan puas dengan pempek buatannya.

Cek Ning membuka warungnya dari pukul 07.00 pagi sampai 21.00 malam setiap hari. Dalam sehari, paling sedikit dia menghabiskan 80 kilogram ikan giling dan 100 kilogram sagu sebagai salah satu bahan pembuatan pempek.

Di akhir pekan, Cek Ning menambah jumlah produksi karena pengunjung bakal berkali lipat meningkat, belum lagi permintaan dari pelanggan luar daerah. Saat ini, prodiksinya dibantu 12 pegawai, ditambah putra sulungnya, Lan (48), yang menemaninya duduk di meja kasir.

"Memang sekarang agak sepi karena musim asap, tapi Sabtu Minggu tepat ramai. Alhamdulillah masih cukuplah untuk gaji pegawai dan untung sedikit," kata Cek Ning.

Pempek Cek Ning berbahan ikan jenis kakap super. Ikan jenis ini dipilih karena harganya lebih ekonomis dibanding ikan gabus dan tenggiri. Ikan jenis ini juga bisa menghasilkan tekstur pempek yang lebih kenyal dan gurih sehingga sangat ideal untuk target pasar harga merakyat.

Selain itu, pasokan ikan kakap super giling tak pernah putus. Agen ikan selalu memasok sesuai kebutuhan sehari-hari.

"Ya namanya orang Palembang, mau enak, besar, dan murah. Makanya kami pakai kakap super, tapi rasanya tidak kalah enak dengan gabus atau tenggiri. Harga pempek akhirnya bisa ditekan, Rp1.000 per biji, mana besar pula ukurannya," kata Cek Ning.

Namun, Cek Ning kini mengeluhkan kenaikan harga bahan-bahan dalam dua tahun terakhir. Alhasil dia terpaksa mengurangi sedikit ukuran beberapa jenis pempek untuk mengimbangi biaya produksi.

Sekalipun demikian, dia menjamin tetap mengutamakan rasa dan kualitas pempek buatannya. Cek Ning tidak mau membuat pelanggan kecewa dan akhinya pindah ke warung lain.

Pempek Kampung Kapitan

Pusat jajanan pempek di Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Palembang, Selasa (22/9/2026). FOTO/Irwanto

"Semisal sagu tani, dari harganya Rp310 ribu sekarang sudah Rp425 ribu per karung. Gandum dari Rp180 ribu sekarung sekarang jadi Rp300 ribu. Itu bukan naik lagi, tapi berubah harga. Makanya kami coba siasati," kata Cek Ning.

Sementara itu, Pempek Minah mampu produksi pempek jauh lebih banyak. Dalam sehari, warung ini bisa memproduksi 40 ribu hingga 50 ribu biji dan menjadi 70 ribu biji di akhir pekan.

Besarnya jumlah produksi itu disebabkan makin meningkatnya permintaan, baik dalam maupun luar wilayah Sumsel. Setiap hari, Pempek Minah bisa mengirim 12.000 biji pempek ke Pulau Jawa saja.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, Pempek Minah mempekerjakan 50 orang pegawai dan memperbesar area produksi. Pekerjanya dibayar harian dan mayoritas dari kalangan wanita dan tinggal di daerah sekitar.

Pegawai Pempek Minah, Rudi (37), mengaku kuantitas produksi dan jumlah permintaan cenderung tak berimbang seiring semakin terkenalnya Kampung Kapitan. Meski demikian, pihaknya sama sekali tidak menaikkan harga atau mengurangi cita rasa dan kualitasnya.

"Kami berupaya tetap pasang harga Rp1.000, walapun bahan pada naik. Tapi, kami tetap jaga kualitas. Itu yang utama," kata Rudi.

Sama seperti warung lainnya, Pempek Minah juga berbahan utama ikan kakap super. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hingga 400 kilogram ikan kakap super giling.

"Harganya lebih murah, tapi cocok buat pempek. Rasanya tetap enak, tidak bau," kata Rudi.

Pempek yang murah, enak, dan besar, serta suasana Sungai Musi memang kombinasi yang membuat Kampung Kapitan tak pernah sepi. Pengunjung datang silih berganti dari pagi sampai malam hari.

Andio (40), warga Talang Keramat, Banyuasin, sengaja mengajak keluarganya datang ke Palembang hanya demi menikmati pempek di pinggir Sungai Musi. Bahkan, dia menjadi pelanggan tetap yang berkunjung setiap pekan.

"Rasanya enak, murah, dan tentunya besar-besar. Beda dari tempat-tempat lain yang sudah mahal ukurannya sekali telan," kata Andio.

Andio merekomendasikan agar penikmat kuliner mencicipi pempek di Kampung Kapitan. Nyaris tidak ada bedanya dari masing-masing warung yang tersedia, mulai rasa, bentuk, dan harga.

"Dari warung di depan sampai ke ujung sudah saya coba semua. Semuanya enak-enak, tidak ada beda. Tinggal selera kita saja," kata Andio.

Pengusaha Ikan Giling Ikut Kecipratan

Meningkatnya permintaan pempek di Kampung Kapitan—dan Palembang pada umumnya—otomatis berdampak langsung pada produksi ikan giling. Hal ini dirasakan seorang pengusaha ikan giling di Lorong Tanggo Rajo, Ari (30).

Ari setiap hari harus memasok ratusan kilogram ikan giling ke pelanggan yang mayoritas adalah pedagang pempek. Usahanya ini didukung dengan stok melimpah dari agen yang ada di Pasar Induk Jakabaring Palembang.

Ikan giling yang paling laris dan enak adalah jenis kakap super yang dibanderol Rp40 ribu per kg. Harganya jauh lebih murah dibanding ikan gabus dan tenggiri yang mencapai Rp70 ribu ke atas.

"Memang ikan kakap super lebih miring ketimbang gabus dan tenggiri, pasokannya juga banyak," kata Ari.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumsel, Mega Nugraha, mengakui pempek Kampung Kapitan menjadi destinasi wisata kuliner baru di Palembang. Lokasinya yang strategis dan nilai sejarahnya menambah kelebihan tersendiri.

"Kami selalu dorong pengusaha-pengusaha di sana untuk terus berkembang. Bila ada kegiatan tamu luar, kami arahkan berkunjung salah satunya ke sana," kata Mega.

Hanya saja, Mega mengakui penataan kampung pempek itu mesti lebih dijaga. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Palembang untuk membuat bagian depan lorong lebih berwarna dan bernuansa agar menambah daya tarik wisatawan.

"Petunjuk jalan sudah ada, tinggal dipoles sedikit dan dirawat saja," kata Mega.

Selain itu, pemerintah setempat juga melibatkan para pedagang menjadi bagian dari program mencetak 100 ribu sultan muda di Sumsel. Tujuannya adalah memperluas akses keuangan sekaligus mencetak generasi muda yang tangguh, berdaya saing, dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Pemerintah memberi dukungan berupa perluasan akses pembiayaan, hilirisasi, dan digitalisasi ekonomi.

"Kami dampingi pelaku usaha untuk semakin berkembang dengan masa kekinian, memanfaatkan aplikasi-aplikasi untuk promo produk secara gratis, business matching, coaching, dan lainnya," pungkas Mega.

Baca juga artikel terkait PEMPEK PALEMBANG atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Miroso
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi