Menuju konten utama
Byte

Anthropic vs. Washington dan Regulasi AI yang Perlu Dirombak

Anthropic dan pemerintah AS sudah berkali-kali berkonfrontasi, terutama soal kebijakan kontrol dan batas penggunaan. Tapi yang paling rentan? Pengguna.

Anthropic vs. Washington dan Regulasi AI yang Perlu Dirombak
Ilustrasi regulasi AI. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - 2026 bukan tahun yang mudah bagi Anthropic, setidaknya dalam hubungan mereka dengan pemerintah Amerika Serikat (AS). Dalam kurun kurang lebih setengah tahun, perusahaan pembuat model bahasa besar Claude tersebut sudah tiga kali bersitegang dengan Washington.

Pada Januari 2026, ada laporan media yang menduga teknologi Claude telah digunakan militer AS dalam operasi penangkapan mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Anthropic membantah tudingan itu dan mengklaim tidak menemukan pelanggaran kebijakan apa pun dalam operasi tersebut.

Namun setelah itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tetap memberi ultimatum kepada Anthropic. Dalam sebuah memo tertanggal 9 Januari 2026, Hegseth menegaskan bahwa "penggunaan yang sah secara hukum apa pun" harus menjadi standar penggunaan AI militer, tanpa embel-embel etika tambahan.

Anthropic diberi tenggat hingga 27 Februari 2026 untuk melonggarkan batasan etisnya, atau pemerintah akan menggunakan Undang-Undang Produksi Pertahanan tahun 1950 untuk mengambil alih penggunaan teknologi tersebut sesuka mereka.

Ketegangan akibat ultimatum itu belum reda, tetapi babak kedua sudah menyusul pada awal Maret. Anthropic menolak menandatangani kontrak Pentagon senilai 200 juta dolar, yang memberi militer AS "akses tanpa batas" terhadap teknologinya untuk "segala tujuan yang sah secara hukum." CEO Anthropic Dario Amodei bersikeras meminta dua pengecualian, yaitu larangan pengawasan massal terhadap warga AS dan larangan senjata otonom penuh tanpa pengawasan manusia.

Cawe-Cawe Pemerintah AS terhadap Anthropic

Penolakan itu berbuah mahal. Presiden Donald Trump memerintahkan seluruh lembaga pemerintah AS menghentikan penggunaan Claude. Hegseth pun meresmikan status yang sempat jadi ancaman kosong beberapa pekan sebelumnya dengan melabeli Anthropic sebagai "risiko rantai pasok". OpenAI, rival Anthropic, lantas bergerak cepat mengambil alih kontrak yang tak bertuan tersebut.

Pada Juni, Washington kembali “cari gara-gara” setelah Anthropic merilis dua model paling kapabel yang pernah mereka ciptakan: Mythos 5 dan Fable 5. Dua model tersebut masuk kelas kemampuan baru bernama Mythos, satu tingkat di atas kelas Opus yang sebelumnya jadi model tercanggih Anthropic.

Keduanya sebenarnya punya model dasar sama persis. Hanya saja, Fable 5 dilengkapi lapisan pengaman tambahan untuk publik umum, sementara Mythos 5 hanya tersedia bagi praktisi keamanan siber dan penyedia infrastruktur lewat program Project Glasswing.

Soal kemampuan, angka-angka yang ditunjukkan Fable 5 memang mencolok. Pada SWE-Bench Pro (tolok ukur untuk tugas pengodean agentik) Fable 5 mencatat skor 80,3 persen, jauh di atas Opus 4.8 yang hanya 69,2 persen. Artinya, Fable 5 jauh lebih pintar, mandiri, dan andal, menyelesaikan tugas-tugas pemrograman rumit.

Tak hanya itu, tim rekayasa dari perusahaan teknologi finansial Stripe mengklaim, Fable 5 mampu menyelesaikan migrasi besar-besaran pada basis kode Ruby sebanyak 50 juta baris hanya dalam sehari. Padahal, pekerjaan itu biasanya memerlukan waktu lebih dari dua bulan bagi satu tim penuh. Artinya, Fable 5 bukan lagi sekadar asisten koding biasa, melainkan sudah berfungsi seperti "tenaga kerja digital" yang bisa memangkas waktu kerja tim manusia secara signifikan.

Namun, kemampuan tinggi itu menyimpan risiko tinggi. Pada evaluasi keamanan siber ExploitBench, versi Mythos 5 tanpa pengaman tambahan mencetak skor 78 persen, atau hampir dua kali lipat skor Opus 4.8 yang 40 persen. Dengan kata lain, Fable 5 berkemampuan meretas dan menemukan celah siber yang sangat mengerikan. Karena itulah Fable 5 punya pengaman yang otomatis mengalihkan permintaan menyangkut keamanan siber, biologi, dan kimia, ke Opus 4.8.

Ilustrasi peretasan UMKM

Ilustrasi peretasan UMKM. FOTO/iStockphoto

Hanya tiga hari setelah Fable 5 dan Mythos 5 diluncurkan, pemerintah AS mengeluarkan larangan akses ke Fable 5 dan Mythos 5 bagi warga negara asing, termasuk karyawan Anthropic yang bukan warga negara AS. Pemerintah AS meyakini ada metode tertentu untuk membobol atau melakukan jailbreak terhadap sistem keamanan Fable 5.

Karena mustahil menerapkan pembatasan itu secara selektif, Anthropic terpaksa mematikan akses kedua model tersebut untuk semua pengguna di seluruh dunia.

Selain itu, Anthropic mulai menerapkan kebijakan baru soal penyimpanan data pengguna Fable 5 dan Mythos 5. Setiap permintaan yang dikirim pengguna dan jawaban yang dihasilkan kedua model tersebut akan disimpan oleh Anthropic selama 30 hari untuk keperluan keamanan, sebelum dihapus.

Kebijakan itu terutama berdampak pada organisasi atau perusahaan yang sebelumnya memilih opsi "tanpa penyimpanan data sama sekali" saat berlangganan Claude. Sebab, kini mereka wajib mengaktifkan penyimpanan 30 hari itu jika ingin memakai Fable 5 atau Mythos 5.

Alasan Anthropic menerapkan itu adalah karena sebagian pola penyalahgunaan hanya terlihat jika dianalisis melalui permintaan dalam jumlah besar sekaligus, bukan satu per satu. Contohnya upaya spionase yang disponsori negara, yang baru bisa terdeteksi setelah sistem membandingkan rangkaian permintaan dari waktu ke waktu.

Meski patuh, Anthropic tetap menilai langkah pemerintah AS berlebihan. Pasalnya, mereka sebelumnya sudah melakukan uji coba bersama pemerintah AS, UK AI Safety Institute, dan berbagai pihak ketiga. Dari situ mereka menemukan bahwa risiko terjadinya jailbreak amatlah kecil dan bisa ditemukan pada model milik perusahaan lain, termasuk GPT-5.5 milik OpenAI. Anthropic bahkan berani menyebut riset di balik larangan pemerintah itu berasal dari Amazon, yang merupakan rival sekaligus investor besar Anthropic.

Meralat Pembatasan sebab Tertekan

Larangan itu pun tak bertahan lama. Sejumlah perusahaan AI asal Asia, termasuk Fugu dan Tulongfeng, mulai merilis model dengan kemampuan mendekati level Mythos. AS pun berada di bawah tekanan untuk melonggarkan pembatasan terhadap Anthropic demi menjaga daya saing AI mereka di panggung global.

Pada akhir Juni, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengumumkan pencabutan kontrol ekspor tersebut. Syaratnya, Anthropic harus proaktif mendeteksi dan mengatasi risiko keamanan di modelnya, bekerja sama dengan pemerintah dalam standar dan rilis model mendatang, serta melaporkan aktivitas mencurigakan. Per 1 Juli 2026, Fable 5 dan Mythos 5 pun sudah bisa diakses.

Ilustrasi regulasi AI

Ilustrasi regulasi AI. FOTO/iStockphoto

Kisah di atas memang berakhir dengan happy ending, setidaknya untuk saat ini. Akan tetapi, bukan berarti masalah intinya sudah terselesaikan. Dalam esainya berjudul “Policy on the AI Exponential" yang terbit Juni 2026, Amodei mengatakan, dunia sudah memasuki fase ketika regulasi longgar ala masa awal AI tidak lagi memadai.

Amodei mengusulkan model regulasi yang mirip dengan Otoritas Penerbangan Federal AS, ketika model AI mutakhir di atas ambang batas komputasi tertentu wajib menjalani pengujian pihak ketiga untuk empat risiko utama, yaitu keamanan siber, senjata biologis, hilangnya kendali atas sistem AI, dan riset otomatis yang bisa mempercepat risiko-risiko lain tersebut.

Usulan tersebut pada dasarnya merupakan pengakuan bahwa cara kerja saat ini, ketika keputusan menghentikan atau melanjutkan peluncuran sebuah model AI bergantung pada negosiasi tertutup antara eksekutif perusahaan dan pejabat pemerintah, bukanlah solusi jangka panjang yang ideal.

Sepanjang 2026, Anthropic dan Washington sudah tiga kali bersitegang soal siapa yang berhak menentukan batas penggunaan Claude. Setiap kali itu pula, keputusan akhirnya lahir dari tarik-menarik kepentingan di balik pintu tertutup, bukan dari aturan yang jelas dan bisa diprediksi semua pihak.

Yang jelas, rangkaian drama tersebut menunjukkan betapa rapuhnya batas antara keamanan nasional yang sah dan kepentingan politik sesaat. Pada akhirnya, taruhannya bukan cuma ditanggung Anthropic sebagai perusahaan, melainkan jutaan pengguna biasa di seluruh dunia yang sebenarnya tidak terlibat sama sekali dalam pertarungan itu.

Baca juga artikel terkait KECERDASAN BUATAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin