Menuju konten utama

Prabowo Soroti Rakyat Miskin: Luar Biasa Masih Bisa Tersenyum

Prabowo menilai Indonesia punya modal sumber daya alam yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Prabowo Soroti Rakyat Miskin: Luar Biasa Masih Bisa Tersenyum
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam acara pertemuan dengan periset dan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Presiden Prabowo Subianto mengundang lebih dari 150 periset dan peneliti dari berbagai daerah di Indonesia untuk memamerkan dan menjelaskan secara langsung hasil riset dan inovasi yang mendukung program-program prioritas pemerintahan seperti tanggul laut raksasa (giant sea wall), Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat (SR), Gentengisasi, pengolahan sampah, dan program-program lainnya seperti kemandirian energi, ketahanan pangan, pertahanan dan keamanan, serta program tiga juta rumah. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia terdiri atas banyak suku, agama, bahasa daerah, hingga adat istiadat. Namun, keberagaman tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk hidup berdampingan secara rukun.

Menurutnya, kemampuan masyarakat Indonesia menjaga kerukunan di tengah perbedaan bahkan membuat banyak bangsa lain merasa heran.

"Kita ditakdirkan lahir sebagai bangsa majemuk, banyak suku yang berbeda-beda, banyak agama yang berbeda-beda, banyak bahasa daerah, banyak adat daerah, tapi ternyata kita bisa rukun. Itu yang banyak bangsa merasa heran dengan kita," ujarnya saat meluncurkan Motor Listrik Nasional dan Ekosistem Pendukung di Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).

Meski begitu, Prabowo mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi Indonesia, terutama persoalan kemiskinan.

"Banyak tantangan banyak kesulitan. Rakyat kita masih banyak yang miskin," katanya.

Kendati menghadapi keterbatasan ekonomi dan kesulitan hidup, banyak rakyat Indonesia tetap mampu tersenyum dan menjalani kehidupan. Dia mencontohkan ada rakyat yang hanya memiliki satu setel pakaian dan tinggal di rumah sederhana berdinding anyaman bambu (gedek dalam bahasa Jawa), namun mereka masih dapat tersenyum di tengah keterbatasan.

"Yang luar biasa, rakyat kita yang paling miskin pun masih bisa tersenyum. Mungkin bajunya hanya satu, satu setel, rumahnya hanya gedek, makannya saya tidak mengerti, masih bisa tersenyum," tutur Prabowo.

Meski begitu, menurutnya pemerintah tetap berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memperkuat kemandirian ekonomi dan energi nasional. Prabowo menilai Indonesia memiliki modal sumber daya alam yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bahkan, menurutnya Indonesia tidak seharusnya terlalu bergantung pada negara lain, khususnya dalam memenuhi kebutuhan energi.

"Kita butuh untuk tidak tergantung kepada energi di luar negara kita. Kita terlalu besar untuk menggantungkan diri kepada pihak luar," tegasnya.

Menurut Prabowo, ketergantungan terhadap energi asing membuat masyarakat Indonesia ikut rentan terhadap berbagai gejolak global, termasuk perang dan perang dagang yang terjadi di negara lain.

Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri, termasuk melalui pengembangan energi terbarukan dan penggunaan kendaraan listrik. Dalam hal ini, pemerintah akan memperluas penggunaan kendaraan listrik, bus listrik, hingga traktor listrik.

"Dengan motor dan mobil listrik, dengan bus listrik, dengan traktor listrik, dengan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera," paparnya.

Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar impor sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Dia juga mengatakan Indonesia setiap tahun harus mengeluarkan sekitar US$28-30 miliar untuk mengimpor BBM.

Pemerintah, lanjut Prabowo, juga menargetkan peningkatan penggunaan biodiesel melalui program B50, penggantian LPG dengan CNG, hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt dalam empat tahun.

"Saya kira tidak terlalu lama 3, 4, 5 tahun kita akan bangkit bener-bener. Sekarang, kita sudah mulai bangkit," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KEMISKINAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi