Menuju konten utama

Profil Capt. Sigit Hani Hadiyanto dan Kisahnya yang Inspiratif

Profil Capt. Sigit Hani Hadiyanto, Direktur Keamanan Penerbangan yang bangkit usai kecelakaan 1997. Simak kisah Capt. Sigit di sini.

Profil Capt. Sigit Hani Hadiyanto dan Kisahnya yang Inspiratif
Capt. Sigit Hani Hadiyanto. (FOTO/kemenhub.go.id)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kapten Sigit Hani Hadiyanto adalah sosok Direktur Keamanan Penerbangan Kementerian Perhubungan. Kisah kecelakaan yang mengubah kondisi fisiknya namun tak memudarkan semangatnya dalam berkarya menginspirasi banyak orang.

Sigit bukan sosok baru dalam industri penerbangan Indonesia. Ia mengawali karier sebagai penerbang dan instruktur, sebelum kemudian beralih ke bidang pengawasan serta manajemen penerbangan setelah mengalami kecelakaan pesawat pada 1997 yang menyebabkan luka bakar serius pada wajah, leher, dan kedua lengannya.

Perjalanan Sigit setelah kecelakaan menjadi bagian penting dari profilnya. Meski tidak lagi dapat menerbangkan pesawat karena faktor kesehatan, ia tetap bertahan di dunia penerbangan dan secara bertahap menduduki sejumlah posisi strategis di Kementerian Perhubungan.

Profil Capt. Sigit Hani Hadiyanto Direktur Keamanan Penerbangan

Kapten Sigit Hani Hadiyanto lahir di Cimahi pada 5 Agustus 1974 dan mulai meniti karier sebagai penerbang setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah penerbangan Curug. Sigit merupakan lulusan angkatan ke-52 sekolah penerbangan tersebut pada Maret 1996.

Setelah memperoleh izin terbang, ia melanjutkan pendidikan selama sekitar enam bulan untuk menjadi instruktur penerbang. Kariernya sebagai penerbang muda kemudian berubah drastis akibat kecelakaan pesawat yang terjadi pada 28 Januari 1997.

Saat itu, Sigit bertugas sebagai instruktur penerbangan dan terbang bersama seorang siswa bernama Dwi Krismawan menggunakan pesawat TB-10 Tobago. Pesawat tersebut mengalami kecelakaan setelah berada terlalu dekat dengan kawasan pegunungan dan menghantam medan di sekitar Gunung Gede.

Sigit menyebut kecelakaan tersebut sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yaitu kondisi ketika pesawat masih berada dalam kendali dan tidak mengalami kerusakan teknis, namun secara tidak sengaja menabrak permukaan bumi atau medan di depannya.

Kecelakaan tersebut kemudian menyebabkan pesawat terbakar ketika Sigit dan siswanya masih berada di dalam. Dalam kondisi tersebut, Sigit sempat kehilangan kesadaran. Ketika akhirnya siuman, hal pertama yang dilakukannya adalah mencari keberadaan siswanya yang duduk di sebelah kiri.

Ia sempat mengira siswanya masih berada di dalam pesawat, tetapi kemudian mendengar jawaban dari sang siswa yang ternyata sudah berhasil keluar. Keduanya selamat, tetapi mengalami luka bakar serius. Sigit mengalami luka bakar sekitar 27 persen pada tubuhnya, yang meliputi bagian wajah, leher, dan kedua lengannya.

Setelah dievakuasi menggunakan helikopter, ia menjalani perawatan panjang selama sekitar 15 bulan dan harus menjalani sedikitnya 21 kali operasi. Luka bakar berat tersebut terutama memengaruhi bagian wajahnya.

Dalam sebuah wawancara kanal Youtube Trans7 Official yang dikutip Grid (30/11/2018), Sigit pernah menceritakan bahwa kondisinya pada masa awal perawatan jauh lebih parah dibandingkan sekarang, termasuk hilangnya kelopak mata kanan serta perubahan pada bagian bibir dan mulut akibat jaringan kulit yang tertarik.

Perubahan fisik setelah kecelakaan tidak hanya menjadi persoalan medis bagi Sigit, tetapi juga menjadi tantangan psikologis yang harus ia hadapi. Selama menjalani perawatan, ia sempat mempertanyakan mengapa dirinya harus mengalami musibah tersebut. Perasaan itu kembali muncul ketika ia mulai menjalani rawat jalan dan kembali berinteraksi dengan masyarakat.

Sigit bahkan pernah berdiri cukup lama di depan pintu rumah sebelum kembali bekerja karena khawatir dengan reaksi orang-orang terhadap wajahnya yang telah berubah. Ia juga pernah mengalami momen ketika anak kecil takut melihat kondisi wajahnya.

Namun, perlahan Sigit mampu menerima keadaannya dengan dukungan keluarga, teman, dan keyakinannya kepada Tuhan. Ia memandang bahwa kecelakaan tersebut tidak semata-mata sebagai akhir dari kehidupannya, melainkan sebagai ujian yang tetap memungkinkan dirinya untuk menjalani kehidupan dan memberikan kontribusi di bidang yang selama ini ditekuninya.

Kecelakaan tersebut memang mengakhiri karier Sigit sebagai penerbang aktif karena setelah mengalami luka bakar berat ia tidak lagi memperoleh izin kesehatan untuk menerbangkan pesawat.

Namun, hal itu tidak membuatnya meninggalkan dunia penerbangan. Pada 2001, ia tercatat telah menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, khususnya di bidang sertifikasi kelaikan udara.

Ia kemudian tetap berkontribusi dalam pendidikan penerbangan dan mengajar materi kepada calon penerbang. Kariernya terus berkembang dari posisi teknis dan pengawasan hingga menduduki sejumlah jabatan strategis di Kementerian Perhubungan.

Berdasarkan profil resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Sigit pernah menjabat Direktur Navigasi Penerbangan pada September 2021 hingga Mei 2024, kemudian menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada Mei-Agustus 2024, sebelum dipercaya sebagai Direktur Keamanan Penerbangan sejak Agustus 2024.

Kehidupan pribadi Sigit juga tidak terlepas dari perjalanan panjang setelah kecelakaan tersebut. Dilaporkan laman Pikiran Rakyat (12/8/2026), Sigit menikah dengan Menuk Sudarwati pada September 2005. Dalam pemberitaan setelah pernikahan mereka, Menuk pernah menceritakan bahwa keluarganya pada awalnya sempat keberatan dengan hubungan tersebut.

Namun, kegigihan Sigit akhirnya membuat keluarga menerima dan memberikan restu. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai tiga orang putri. Sigit pernah menceritakan bagaimana dirinya dan sang istri berusaha menjelaskan kepada anak-anak mengenai kondisi fisiknya, terutama ketika mereka mulai bersekolah dan berinteraksi dengan masyarakat.

Ia menekankan kepada putrinya bahwa kondisi wajahnya bukan sesuatu yang memalukan karena luka tersebut merupakan akibat dari kecelakaan ketika dirinya sedang menjalankan tugas sebagai penerbang. Pada 2024 silam, Menuk Sudarwati meninggal dunia.

Sigit menyelesaikan Sarjana Manajemen di Universitas Terbuka pada 2003 dan kemudian meraih Magister Transportasi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran pada 2009.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra