Menuju konten utama

Trump Sampaikan Belasungkawa Atas Kecelakaan Pesawat Air India

Donald Trump, menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan pesawat Air India yang menewaskan ratusan korban jiwa.

Trump Sampaikan Belasungkawa Atas Kecelakaan Pesawat Air India
Presiden AS Donald Trump mengangkat salinan Laporan Estimasi Perdagangan Nasional 2025 saat ia berpidato dalam acara pengumuman perdagangan “Make America Wealthy Again” di Rose Garden, Gedung Putih pada 2 April 2025 di Washington, DC. Trump yang menyebut acara tersebut sebagai “Hari Pembebasan” diperkirakan akan mengumumkan tarif tambahan yang menargetkan barang-barang yang diimpor ke AS. Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Foto oleh CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan pesawat Air India dengan nomor penerbangan AI171 rute Ahmedabad menuju London yang menewaskan ratusan korban jiwa. Trump juga memberikan sejumlah masukan terkait kemungkinan penyebab kecelakaan, hingga menawarkan bantuan kepada otoritas India.

“Saya memberi mereka beberapa masukan. Saya bilang, ‘Mungkin kalian bisa lihat bagian ini.’ Kami melihat pesawatnya, kelihatan terbang cukup baik. Tidak tampak ada ledakan, hanya sepertinya mesinnya kehilangan daya,” kata Trump dalam wawancara di Gedung Putih, dikutip Bloomberg News, Jumat (13/6/2025).

Trump menilai insiden tersebut merupakan kecelakaan penerbangan paling mengerikan dalam sejarah. Dia mengatakan AS siap memberikan bantuan apabila dibutuhkan.

“India adalah negara besar, negara kuat, dan mereka akan mengatasinya, saya yakin. Tetapi saya memberitahu mereka bahwa apapun yang dapat kita lakukan akan segera dilakukan di sana,” ucap Trump.

Pesawat Boeing jenis 787 Dreamliner itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad di India, dalam penerbangan menuju London. Adapun, pesawat itu membawa 242 penumpang dan awak, yang sebagian besar adalah warga negara India dan Inggris.

Lebih dari 200 jenazah telah ditemukan saat penyidik ​​setempat menyisir lokasi kecelakaan. Otoritas Penerbangan Federal AS (FAA) lada Kamis (12/6/2025), waktu setempat menyatakan bahwa pihaknya telah menghubungi Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS.

Melalui unggahan media sosial X, NTSB menyatakan pihaknya akan memimpin tim penyidik AS untuk berangkat ke India guna membantu proses investigasi.

Pejabat keselamatan udara AS biasanya membantu investigasi untuk menentukan penyebab kecelakaan yang melibatkan pesawat buatan Amerika, sebuah proses yang dapat memakan waktu berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Insiden itu menjadi kecelakaan fatal pertama yang melibatkan kerusakan masif pada Boeing 787 Dreamliner, sekaligus memperpanjang deretan kecelakaan serius dalam industri penerbangan sipil global tahun ini.

Boeing dalam pernyataannya mengatakan bahwa pihaknya telah mengetahui laporan awal dan sedang berupaya mengumpulkan lebih banyak informasi. Saham perusahaannya pun turun sekitar 6 persen dalam perdagangan awal AS pada hari Kamis.

Perusahaan tersebut telah terlibat dalam beberapa kecelakaan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dua kecelakaan fatal pada tahun 2018 dan 2019.

Awal tahun lalu, sebuah pesawat 737 Max yang masih baru mengalami insiden panel pintu terlepas saat mengudara. Namun, insiden itu tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. Meski demikian, kejadian itu memicu krisis kepercayaan terhadap Boeing.

Sementara itu, keselamatan udara dalam penerbangan di AS sedang menjadi perhatian. Pada Januari lalu, sebuah jet regional American Airlines bertabrakan dengan sebuah helikopter militer di dekat Washington. Kejadian itu menewaskan 60 penumpang dan 4 awak pesawat.

FAA juga berupaya untuk memperkuat wilayah udara di sekitar Bandara Internasional Newark Liberty, setelah gangguan radar yang menyebabkan gangguan besar.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN PESAWAT atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama