Menuju konten utama
Edusains

Anak dengan IQ Tinggi Tak Selalu Berprestasi di Sekolah

IQ tinggi tidak selalu berbuah kemonceran di pelajaran sekolah. Tanpa dukungan dan pengertian dari lingkungan sekitar, IQ tinggi justru bisa jadi "kutukan".

Anak dengan IQ Tinggi Tak Selalu Berprestasi di Sekolah
Ilustrasi anak sekolah. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketika anaknya punya tingkat kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient/IQ) tinggi, banyak orang tua membayangkan nilai bagus akan bertebaran di rapor sekolah. Namun, kenyataannya, IQ tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi akademik.

Kondisi ketika anak dengan koefisien kecerdasan tinggi, tapi tidak meraih prestasi sepadan dengan potensinya, dikenal sebagai gifted underachievement. Sederhananya, prestasi yang diperoleh berada di bawah potensinya sebagai anak berbakat.

Dengan menukil catatan Del Siegle dalam Handbook of Giftedness in Children (2018), Leana-Tascilar melaporkan, sekitar 50 persen siswa berbakat dapat mengalami underachievement di berbagai aspek masa sekolah mereka. Data lain dari Komite Senat Australia mencatat rentang lebih tinggi, yakni antara 38 persen dan 75 persen. Dari rentang itu, 15 persen hingga 40 persen di antaranya berisiko putus sekolah, bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan menengah.

Beda data tersebut menunjukkan, angka underachievement dapat saja bervariasi, terutama karena perbedaan penelitian dalam mengategorisasikan gifted dan mengidentifikasi underachievement. Namun, itu tak menampik bahwa kesenjangan antara kemampuan kognitif tinggi dan pencapaian akademik merupakan persoalan nyata.

Di Balik Label "Anak Pintar" ada Hambatan Tersembunyi

Sally M. Reis dan D. Betsy McCoach, melalui artikel terbitan University of Connecticut, mengelompokkan tiga kemungkinan faktor terjadinya underachievement. Pertama, persoalan fisik, kognitif, atau emosional, yang tersembunyi. Kedua, ketidakcocokan antara kebutuhan anak dan lingkungan sekolah. Ketiga, masalah karakteristik personal (motivasi, kemampuan mengatur diri, dan keyakinan terhadap kemampuan sendiri). Ketiganya dapat muncul terpisah maupun bersamaan.

Sean, salah satu siswa yang dikisahkan oleh Reis dan McCoach, termasuk dalam kategori kedua. Dia merupakan siswa kelas tiga SD dengan kemampuan kognitif kategori persentil ke-99. Artinya, kecerdasannya berada di atas 99 persen anak lain sebayanya.

Meskipun demikian, Sean mudah bosan dan tidak tertarik pada kegiatan akademik di sekolah. Ia sering gelisah, dianggap off-task, melamun, dan jarang menyelesaikan tugas di kelas. Ia bahkan telah dirujuk untuk asesmen karena diduga mengalami Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).

Uniknya, perilaku Sean berubah ketika mengerjakan sesuatu yang menurutnya menantang dan ia pilih sendiri. Ia dapat duduk tenang berjam-jam ketika, misalnya, membuat model roket yang rumit bersama ayahnya.

Jika hanya melihat Sean saat melamun atau abai dengan tugas, orang mungkin akan mencapnya pemalas. Padahal, hal itu terjadi karena adanya ketidakcocokan antara kebutuhan belajar Sean dan kegiatan di kelas.

Ilustrasi Anak Sekolah

Ilustrasi anak sekolah. FOTO/iStockphoto

Underachievement dapat pula terjadi karena faktor personal. Dalam penelitian terbitan jurnal Issues in Educational Research (2016) diceritakan, ada siswa kelas 7 bernama Nathaniel yang punya skor IQ 150. Namun, potensi kecerdasan tersebut tidak membuatnya otomatis unggul dalam semua bidang.

Ketika dihadapkan dengan tugas dalam penulisan kreatif, Nathaniel butuh waktu lama hanya untuk mulai mengerjakan. Ia kesulitan menuangkan gagasan ke atas kertas dan dapat menghapus kembali sesuatu yang telah ditulisnya. Ia juga cenderung menghindari sesuatu yang belum dikuasai karena khawatir gagal.

Persoalan Nathaniel tidak hanya sebatas kemampuan menulis. Ia kesulitan mengatur diri. Itu meliputi soal cara menyelesaikan pekerjaan, bertahan ketika menghadapi kesulitan, juga menerima kemungkinan andai hasil tidak sempurna.

Di luar masalah akademik, Nathaniel juga terbentur soal hubungan sosial. Ia terasing dari teman-teman sebaya karena label "anak pintar" yang melekat padanya. Kemampuan intelektual tinggi justru membawanya pada pengalaman sosial yang kurang baik di sekolah.

Kasus Sean menunjukkan, ketidakcocokan kebutuhan anak dan lingkungan belajar dapat berkaitan dengan underachievement. Sementara itu, kasus Nathaniel memperlihatkan bahwa karakteristik personal juga berperan menciptakan kesenjangan itu.

Temuan yang lebih baru menunjukkan bahwa faktor yang berkaitan dengan gifted underachievement memang beragam. Menurut Raoof dkk. (2024), kesenjangan tersebut dapat dikaitkan dengan faktor internal dan eksternal. Faktor internal itu mencakup motivasi, aspek emosional-sosial, dan faktor demografis. Sementara itu, faktor eksternal meliputi persepsi terhadap lingkungan, keluarga, teman sebaya, serta kondisi sosial-ekonomi dan budaya.

Salah satu kondisi yang juga perlu diperhatikan adalah ketika kemampuan tinggi seorang anak hadir bersamaan dengan kondisi lain yang turut memengaruhi proses belajarnya. Kondisi semacam itu dikenal sebagai twice-exceptional atau 2e.

Situasi macam itulah yang dialami oleh Sara, salah satu siswa yang juga diceritakan dalam artikel tulisan Reis dan McCoach.

Sara, meski telah duduk di kelas 5 dan memiliki skor IQ 129, mengalami kesulitan membaca. Kemampuan decoding-nya berada di bawah tingkat kelas 2. Alhasil, ketika berhadapan dengan buku teks yang makin kompleks, prestasinya menurun. Asesmen lebih lanjut menunjukkan adanya hambatan signifikan dalam membaca, memproses informasi, dan mengolah rangsangan auditori.

Pengalaman Sean, Nathaniel, dan Sara, menunjukkan bahwa underachievement tidak datang dari satu penyebab. Oleh karenanya, mencari tahu akar di balik kesenjangan ini jadi hal penting.

Di Balik Kesenjangan Potensi dan Prestasi

Menurut kerangka teoretis Achievement Orientation Model (AOM) yang disusun Del Siegle (2018), motivasi dan prestasi siswa sangat dipengaruhi oleh interaksi tiga pilar persepsi diri, yaitu keyakinan diri (self-efficacy), penghargaan terhadap nilai tugas/tujuan (goal valuation), dan persepsi lingkungan (environmental perceptions). Jika salah satu dari ketiga elemen tersebut berada di bawah ambang batas, siswa tidak akan termotivasi dan berisiko mengalami underachievement, terlepas dari tingginya skor IQ mereka.

Temuan Kosar Raoof dan kolega (2024) juga menunjukkan pentingnya faktor internal. Para peneliti itu mencontohkan kasus sederhana: siswa dengan keyakinan diri rendah cenderung menghindari pekerjaan rumah, sedangkan mereka yang berkeyakinan diri tinggi lebih mungkin menyelesaikannya.

Selain keyakinan diri, aspek emosional juga memengaruhi keterlibatan anak dalam belajar. Anak berbakat yang underachieve sering mengalami kecemasan tinggi, emosi negatif, keraguan diri, serta learned helplessness (merasa tidak berdaya dan menyerah). Alih-alih terdorong untuk sukses, mereka takut gagal, dan karenanya memilih menghindari tantangan demi melindungi citranya sebagai "anak pintar".

Ilustrasi Anak Sekolah

Ilustrasi anak sekolah. FOTO/iStockphoto

Itu baru aspek internal dari diri siswa. Belum lagi faktor eksternal yang tidak kalah vital.

Kurikulum sekolah konvensional yang kurang menantang bagi siswa berbakat dapat memicu kebosanan akut, yang berujung pada penurunan motivasi dan prestasi.

Pola pengasuhan dan ekspektasi keluarga juga berperan. Jika orang tua cenderung terlalu longgar atau justru terlalu ketat terhadap anak, masalah berpotensi muncul. Namun, anak juga butuh bimbingan untuk memilih tujuan dan struktur. Ketika harapan keluarga tidak jelas, anak akan bingung.

Teman sebaya juga punya peranan. Ketakutan akan tekanan (dicap “terlalu pintar”) dapat membuat siswa berbakat sengaja menyembunyikan potensi mereka dengan tujuan diterima di kelompok sosialnya. Di sisi lain, interaksi positif dan dukungan teman sebaya dapat memulihkan motivasi belajar mereka.

Sebagaimana ditekankan oleh Raoof dan kolega, pemahaman menyeluruh soal faktor internal dan eksternal tersebut sangat penting, sebelum menentukan tindakan untuk anak underachiever.

Setiap Anak Punya Keunikannya Sendiri

Nilai rendah pada anak dengan tingkat kecerdasan intelektual tinggi tidak cukup dijelaskan dengan label “malas” atau “kurang motivasi”. Di balik pencapaian yang tidak sesuai harapan, bisa terdapat persoalan yang sangat berbeda.

IQ dapat memberikan gambaran tentang kemampuan kognitif tertentu, tetapi bukan acuan mutlak soal cara seorang anak menunjukkan kemampuannya di sekolah. Begitu pula nilai akademik, entah baik atau buruk, bukanlah cermin utuh dari kemampuan anak.

Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar mengapa anak pintar mendapat nilai rendah? Lebih jauh, kita perlu menelusuri apa yang membuat kemampuannya tidak muncul secara optimal?

Reis dan McCoach (2002) tidak menuliskan satu solusi tunggal untuk masalah tersebut. Namun yang jelas, pendekatan mesti disesuaikan dengan akar masalah spesifik yang dihadapi tiap-tiap anak.

Selaras dengan itu, Del Siegle (2018) melalui AOM menyatakan pentingnya pendekatan pada tiga pilar utama, yaitu meningkatkan keyakinan diri agar anak mampu menghadapi dan menyelesaikan tugas menantang tanpa takut gagal, meningkatkan goal valuation, dan memperbaiki persepsi lingkungan dengan memastikan lingkungan rumah dan sekolah mendukung mereka.

Nilai akademik tidak selalu mencerminkan kapasitas intelektual anak secara utuh. Pasalnya, prestasi adalah perpaduan banyak faktor, mulai dari karakteristik anak hingga dukungan lingkungan belajarnya.

Memahami bahwa setiap anak punya keunikan adalah langkah pertama untuk membantu “mengepakkan sayap” mereka sendiri.

Baca juga artikel terkait KECERDASAN ANAK atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Edusains
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Fadli Nasrudin