Menuju konten utama

Pedagang Bendera Mengerek Asa di Musim Pendek Sekitar Proklamasi

Para pedagang bendera sama-sama punya harapan sederhana: pemerintah mengerti kondisi rakyat kecil dari dekat.

Pedagang Bendera Mengerek Asa di Musim Pendek Sekitar Proklamasi
Pedagang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik kemerdekaan. FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kibaran kain merah putih di jalan-jalan adalah penanda paling akrab menjelang puncak peringatan Proklamasi 17 Agustus. Di trotoar, persimpangan jalan, emperan toko-toko yang tutup, orang-orang seperti Maulana, Asip, dan Tini kerap muncul dari lipatan tahun, menjalankan perniagaannya yang hanya tumbuh seumur jagung.

Bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik kemerdekaan yang hanya laku belasan hari dalam setahun adalah wujud harapan penghasilan bagi mereka.

Namun, tahun ini, kibarannya terasa lebih lesu. Mereka bertiga, dengan latar dan cara berjualan yang berbeda, mendapati kondisi yang serupa: penurunan minat beli.

Modal Kosong, Untung Musiman

Tak satu pun dari mereka memulai usaha ini dengan modal sendiri. Masa jualan mereka pun terbilang sangat singkat. Maulana (30), pedagang keliling asal Cirebon, menyusuri Depok hingga Pasar Rebo dengan gerobak untuk menjajakan bendera merah putih dagangannya.

Maulana bercerita bahwa serbaneka kain merah putih yang dia jual berasal dari pengusaha konveksi.

"Konveksi, Iya (tak perlu modal) ada bosnya,” katanya saat ditemui di tepi jalan persis di depan Kampus Politeknik Media Kreatif, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Si bos, kata Maulana, tidak mengharuskannya meraup untung besar. Berapa bendera yang terjual, sejumlah itu pulalah keuntungan yang harus dia setorkan.

“Kami mah tinggal ngambil, tinggal bawa gitu doang. Apa yang habis, itu yang bayar. Gitu saja," ungkapnya.

Asip (56) pun menjual bendera merah putih dengan sistem yang kurang lebih sama. Dia menggelar dagangannya di pinggir jalan Moh. Kahfi II. Di titik itu pulalah dia mangkal setiap tahun.

“Ada sih yang kirim barang. Istilahnya (bagi) komisilah," ujar Asip di lapaknya, Senin (10/8/2026).

Begitupun Tini (26) yang berjualan bendera merah putih di Jalan Antariksa Raya yang menghubungkan Kota Depok dan Jakarta.

"Kalau saya, sudah ada bosnya. Bosnya nyediain, kami tinggal jualin aja," kata Tini di lapaknya, Senin (10/8/2026).

Lantas, bagaimana dengan bendera yang tak laku setelah lewat perayaan 17 Agustus? Maulana, Asip, dan Tini punya jawaban yang sama: dikembalikan ke konveksi.

"Dibalikin lagi ke bos, disimpan buat tahun depan," kata Maulana.

Pedagang bendera musiman

Pedagang bendera musiman. tirto.id/Hanif Reyhan Ghifari

Musim jualan mereka pada dasarnya juga sama-sama pendek, meski masing-masing memulai berjualan di waktu yang berbeda. Maulana memulai berjualan sejak akhir Juli. Waktu itu dia pilih berdasarkan pengalaman kapan biasanya orang ramai-ramai mencari bendera merah putih.

"30 Juli, pas masuk awal (masa ramai orang mencari bendera merah putih),” katanya.

Sementara itu, Asip menghitung masa dagangnya hanya belasan hari.

"17 hari. 17 hari doang," akunya, Senin (10/8/2026).

Kini, Asip sedang gelisah karena barang dagangnya hingga hari itu masih menumpuk.

"Kalau hari ini ada gitu ya (yang beli), bendera kan ada suka pemesanan buat sekolahan, buat kantor. Ini sudah 10 hari dari tanggal 1, cuma sedikit (yang beli)," ujarnya.

Asip pun membandingkan dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya, saat stok jauh lebih cepat habis.

"Alhamdulillah lumayan (ramai tahun lalu). Istilahnya mah sudah habis, sekarang mah masih banyak,” kisahnya.

Pendapatan harian dari berjualan bendera dan pernak-pernik merah putih sangat bergantung dari cara berjualan. Maulana yang berjualan keliling dari pagi hingga sore mengaku omzet hariannya berkisar di angka ratusan ribu rupiah.

"Enggak tentu ya, banyakan paling 8 set atau 10 set (terjual dalam sehari). Ya kisaran paling Rp800 ribu-Rp900-an ribu,” katanya.

Maulana punya resep menyasar kawasan-kawasan tertentu yang potensial. Umumnya adalah daerah perkantoran atau di sekitar markas satuan TNI.

"Daerah perkantoran atau daerah tentaraanlah, pegawai negeri, semacam Perumnas (Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional) atau kompleks tentara," katanya.

Sementara itu, Asip yang berjualan secara menetap di satu titik mengaku pendapatannya tahun ini menyusut jauh dibandingkan tahun lalu.

“Ada pembeli ya paling satu, dualah, tiga. Kemarin saja tiga biji ini bendera," tuturnya.

Bagi Maulana, Asip, maupun Tini, berjualan bendera bukanlah mata pencaharian utama. Ini hanya pekerjaan musiman yang disisipkan di antara rutinitas lain.

"Iya lanjut kerja yang sebelumnya. Ini mah buat musiman saja," kata Maulana yang mengaku sudah menjajakan bendera selama 15 tahun secara rutin tiap Agustus.

Asip pun punya usaha lain sebagai penjual gorden.

"Ada jualan ini, freelance-lah. Jualan gorden gitu ya. Jualannya jalan kaki," katanya.

Dan, Tini sehari-hari berjualan bakso di Gandul, Kota Depok, Jawa Barat. Meski pendapatan dari jualan bakso diakuinya jauh lebih besar dibanding jualan bendera, Tini tetap menjajakan bendera tiap tahun karena menganggapnya sebagai peluang rezeki tambahan.

"Kalau ini kan bagi kami namanya rezeki. Maksudnya, kalau ada borongan kan kami bisa mencapai target dari si bakso ini. Ini (berjualan bendera merah putih) cuma 16 hari kan, siapa tahu ada rezeki gitu kan yang lebih gede,” ujar Tini dengan binar mata yang tak redup.

Merdeka dalam Penghasilan

Percakapan dengan Maulana, Asip, dan Tini lantas membawa saya pada satu pertanyaan soal apa sebenarnya arti kemerdekaan bagi mereka. Jawaban mereka tidak muluk-muluk. Ini bukan tentang kebebasan atau kemeriahan perayaan, melainkan soal berapa banyak uang yang bisa dibawa pulang.

Terlepas dari itu, bagi Maulana, kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan oleh semua orang.

"Kemerdekaan ya, susah ya soalnya kan yang merdeka yang di atas bukan yang di bawah soalnya," katanya sembari menatap nanar lurus ke jalan.

Meski telah merdeka puluhan tahun, kehidupan rakyat kecil nyatanya tak jua lepas dari kegetiran. Kehidupan sejahtera nyatanya masih serupa harapan.

"Rakyat kecil mah belum merdeka, masih sengsara, susah," ujarnya.

Ingatan Maulana kemudian berkelana pada masa ketika dagangannya ramai. Dia menyebut awal pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai salah satu periode ketika penjualan bendera menurutnya jauh lebih bergairah.

"Waktu pas eranya Jokowi baru jadi tuh, ramai," kenangnya.

OMSET PENJUALAN PERNAK PERNIK KEMERDEKAAN

pedagang pernak pernik kemerdekaan merapihkan barang daganganya sambil menunggu calon pembeli, di jalan khz mustofa, kota tasikmalaya, jawa barat, senin (1/8). menjelang peringatan hut-ri yang ke-71, omset penjualan bendera dan aksesoris lainnya selama satu setangah bulan bisa mencapai rp50 juta. antara foto/adeng bustomi/foc/16.

Kala itu, dia mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp2 juta-Rp3 juta dalam sehari. Angka itu kini tinggal kenangan.

"Sehari sampai Rp2 juta, Rp3 jutaan. Sekarang mah sepi," katanya.

Senada dengan Maulana, pandangan Asip tentang kemerdekaan juga sesederhana keinginan agar masyarakat kecil bisa hidup lebih sejahtera. Dia tidak banyak meminta.

"Harapannya buat kita masyarakat orang kecil, ya makmur. Masalah ekonomi kan gitu, istilahnya buat pedagang orang kecil," ujarnya.

Di tengah kesulitan hidup yang mereka jalani, ketiganya tetap menggantungkan harapan pada pemerintah, meski dengan kadar keyakinan yang berbeda. Maulana, misalnya, mengaku pesimistis keluhan pedagang kecil akan benar-benar sampai ke telinga pemerintah.

“Aduh bingung kalau ke pemerintah mah. Susah kita ngomongin juga enggak bakalan didengar, Mbak," katanya.

Meski begitu, dia masih berharap pemerintah setidaknya memberi kemudahan bagi pelaku usaha kecil, terutama dalam memperoleh modal.

"Harapannya mah ya majuin lagilah masa UMKM. Kasih buat modal atau apa. UMKM kan pengajuannya dikit," ujarnya.

Tini pun menyimpan harapan serupa, meski disampaikannya dengan nada yang lebih menggebu. Dia ingin kondisi ekonomi membaik sehingga masyarakat tidak semakin terbebani.

"Ya semoga Indonesia lebih baik daripada sekarang. Ekonomi turunin, enggak usah yang bikin rakyat Indonesia makin down gitu ya," katanya.

Pada akhirnya, harapannya bukan sesuatu yang muluk. Tini hanya ingin pemerintah melihat kehidupan pedagang kecil dari jarak yang lebih dekat.

"Minimal ya ngertilah posisi rakyat gimana gitu. Jangan seenaknya aja gitu kan. Kita yang pedagang kayak gini kan susah, ekonomi sulit dipersulit lagi Indonesia ini aduh," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PEDAGANG KECIL atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - News Plus
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Fadrik Aziz Firdausi