tirto.id - Makan bergizi gratis (MBG) tersaji di ruang kelas 2B SD Negeri Pendrikan Lor 02 Kota Semarang, Selasa pagi, 28 Juli 2026. Anak-anak menyantapnya di bawah plafon yang sudah lama ambrol.
Pemandangan tersebut bukan hal baru. Sejak 2 Maret lalu, langit-langit ruang kelas itu bolong karena tertimpa atap yang ambrol akibat hujan deras disertai angin kencang.
Saat itu, sekolah hanya memperbaiki reng dan genteng yang rusak, agar air hujan tak lagi masuk. Sementara plafon dibiarkan menganga hingga kini, hampir lima bulan berlalu.
Namun persoalannya ternyata bukan sekadar plafon yang bolong. Bangunan sekolah yang berdiri sejak 1950 itu memang telah menua. Rangka atapnya berupa kayu yang sudah lapuk, dengan bekas tambal sulam di beberapa bagiannya.
Di ruangan berbeda, tempat anak-anak kelas 2A belajar, kondisi plafon masih utuh. Namun, meski ruangan itu tampak lebih baik dibanding kelas di sebelahnya, rasa khawatir yang dirasakan guru maupun siswa tidak jauh berbeda. Sebab mereka tahu, yang rapuh bukan hanya plafonnya, melainkan rangka bangunan di atasnya.
Setiap kali hujan turun atau angin bertiup lebih kencang, kekhawatiran itu datang lagi. Tak ada yang bisa memastikan apakah langit-langit yang hari ini masih utuh akan tetap bertahan esok hari.

Kusen Dimakan Rayap
Tak hanya pada atap, kerusakan juga terlihat di bagian lain. Bisa dikatakan, bangunan tua tersebut dipaksa bertahan dengan segala keterbatasannya. Kusen pintu dan jendela tampak keropos dimakan rayap. Beberapa kayunya sudah habis, menyisakan rongga-rongga yang mudah hancur jika tergesek atau terkena benturan.
Bahkan kusen pintu ruang kelas ada yang goyah saat tersentuh. Ada pula salah satu jendela rusak tanpa kaca dan sejumlah ventilasi bergaya boven yang rusak. Kondisi itu diakui Kepala SDN Pendrikan Lor 02 Semarang, Dwi Hartiningsih. Dia prihatin tetapi tak bisa berbuat banyak.
"Iya banyak sih kerusakannya," aku Dwi saat ditemui Selasa (28/7/2026).
Secara keseluruhan, sekolah yang berada di dekat Sungai Banjir Kanal Barat ini memiliki beberapa bangunan dengan struktur pondasi terpisah. Kondisi paling memprihatinkan berada pada gedung depan gerbang.
Bangunan sepanjang sekitar 20 meter itu terbagi menjadi tiga ruangan: ruang kelas 2A, ruang kelas 2B, dan ruang perpustakaan yang disekat bersama ruang unit kesehatan siswa (UKS).
"Itu bagian kayu-kayunya, terutama kusennya sudah habis dimakan rayap. Kemudian atap-atapnya itu juga itu sangat berbahaya bagi siswa-siswa," keluhnya.
Akibatnya, kegiatan belajar mengajar untuk kelas 2A dan 2B kadang terpaksa dipindahkan ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Pemindahan sifatnya hanya sementara dan tidak sampai digabungkan dengan kelas lain. Kadang siswa diajak belajar di musala atau luar ruangan yang masih area sekolah.
"Kalau memang membahayakan, anak-anak saya alihkan ke tempat yang lebih aman," ujar Dwi.
Dwi mengatakan, kekhawatiran akan atap ambrol sedikit mereda karena saat ini musim kemarau. Namun, ketakutan tetap menghantui jika hujan tiba-tiba datang, apalagi disertai angin kencang.
Belum lagi masalah rayap yang perlahan menggerogoti bangunan. "Saya waswas. Sekarang masih musim kemarau saja rayap terus berkembang," tuturnya.
Di sisi lain, fasilitas yang ada di bangunan tersebut juga perlu diganti. Seperti lemari rusak di Kelas 2B yang masih dimanfaatkan untuk menyimpan buku, hingga meja-kursi kayu yang masih model lama.
Di setiap kelas sudah ada layar proyektor, tetapi dalam satu sekolah hanya ada satu unit Smart TV atau perangkat layar sentuh canggih penunjang program digitalisasi belajar.

Berharap Segera Direnovasi
SDN Pendrikan Lor 02 sudah mengusulkan renovasi kepada Dinas Pendidikan Kota Semarang. Namun hingga kini, bangunan yang kondisinya rusak berat itu belum juga mendapat perbaikan menyeluruh. Padahal ada 298 siswa—setiap jejang terdiri atas dua rombongan belajar (rombel)—yang keselamatannya dipertaruhkan saat belajar.
"Harapannya semoga bisa membangunkan sekolah kami menjadi sekolah yang lebih bagus," kata Dwi yang mulai memimpin sekolah tersebut pada awal 2026.
Selama ini, sekolah hanya mampu melakukan perbaikan kecil dengan memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sebab dana BOS tidak diperuntukkan bagi renovasi struktur bangunan.
"Saat gentengnya melotrok, rengnya sempal, kami perbaiki sebagian pakai dana BOS. Alhamdulillah masih bisa, tapi kalau memperbaiki semuanya tentu dana BOS tidak bisa," ujarnya.
Ratna Arminingsih, guru senior yang telah mengabdi di sekolah itu sejak 1986 menjelaskan tentang perlunya meremajakan bangunan yang digunakan sebagai ruang kelas 2A, 2B, dan perpustakaan-UKS tersebut.
"Iya, sudah sekitar 15 tahun belum direnovasi," katanya.
Ratna ingin sekolahnya segera mendapat perhatian. Baginya, ruang belajar yang layak akan memberi rasa aman bagi anak-anak yang setiap hari datang untuk menimba ilmu.
"Harapannya segera mendapat perhatian, mendapatkan bangunan yang layak sehingga pembelajaran lebih baik lagi, anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman," tuturnya.
Dinas Sebut Akan Merenovasi
Terkait rusaknya bangunan SDN Pendrikan Lor 02, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan menegaskan renovasi telah direncanakan.
"Sudah masuk perencanaan untuk perbaikan, njih," jelas Ahsan saat dikonfirmasi Selasa (28/7/2026).
Meski begitu, Ahsan belum merinci kapan perbaikan akan dimulai maupun besaran anggaran yang disiapkan untuk membenahi bangunan sekolah tersebut.
Rencana renovasi itu sejalan dengan evaluasi Pemerintah Kota Semarang terhadap kondisi sekolah dasar negeri yang selama ini dinilai kalah bersaing dengan sekolah swasta, terutama dari sisi fasilitas.
Beberapa waktu lalu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengakui banyak SD negeri di Kota Semarang masih tertinggal dibanding sekolah swasta. Menurutnya, selama bertahun-tahun pembangunan lebih banyak difokuskan ke jenjang SMP sehingga banyak SD belum tersentuh pembaruan fasilitas.
"Kalau yang saya tanya, lah kok SMP tidak? Rupanya selama ini titik pembangunannya ada di SMP. Kalau SMP-nya bagus-bagus. SD-nya memang ya masih ketinggalan zaman semua," ujar Agustina.
Karena itu, Pemkot Semarang berencana mempercepat pembenahan sarana dan prasarana SD negeri. Agustina menyebut peningkatan fasilitas menjadi langkah utama agar sekolah negeri kembali diminati, mulai dari pembaruan ruang belajar, meja dan kursi, hingga sarana pendukung pembelajaran.
Menurutnya, fasilitas yang lebih layak akan membuat proses belajar menjadi lebih nyaman sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap SD negeri.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































