Menuju konten utama

Asa Tetap Menyala di Balik Sepinya Murid Baru SDN Tegalayu Solo

Masih ada 1.144 kursi kosong di sekolah dasar negeri yang ada di Kota Solo tahun ini.

Asa Tetap Menyala di Balik Sepinya Murid Baru SDN Tegalayu Solo
Lima siswa baru SD N Tegalayu Laweyan Solo saat mengikuti MPLS hari pertama, Senin (13/7/2026). Tirto.id/Romensy Augustino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Riuh rendah suara anak-anak menyambut tahun ajaran baru 2026/2027 bergema di berbagai penjuru Kota Surakarta, Jawa Tengah. Tahun ini, Dinas Pendidikan Kota Surakarta sebenarnya bisa sedikit bernapas lega karena tren jumlah pendaftar Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN) mengalami kenaikan dibanding tahun lalu.

Namun, di balik grafik yang merangkak naik itu, sebuah ironi nyata masih tersaji: ribuan bangku kosong tak bertuan bertebaran di sudut-sudut kelas.

Dari total daya tampung 117 SDN di Kota Solo yang mencapai 5.019 kursi, hingga saat ini baru 3.875 kursi yang terisi. Artinya, ada 1.144 kursi kosong yang masih menunggu murid datang.

"Kalau dihitung berdasarkan tren pendaftar dari tahun kemarin, angkanya naik. Tapi kalau perbandingan dengan daya tampungnya, itu memang kami masih menyisakan banyak, seribuan kursi," ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dwi Ariyatno, Selasa (14/7/2026).

Dinamika ini menyisakan cerita sunyi bagi sembilan sekolah di Solo yang terpaksa memulai tahun ajaran baru dengan jumlah siswa baru kurang dari 10 anak. Berikut datanya berdasarkan laporan yang didapat Dinas Pendidikan Kota Surakarta:

- SDN Tegalayu: 5 siswa;

- SDN Sawahan: 7 siswa;

- SDN Kauman: 8 siswa;

- SDN Kusuma Dilagan: 8 siswa;

- SDN Munggung 2: 8 siswa;

- SDN Tunggulsari 1: 9 siswa;

- SDN Sumber 1: 9 siswa;

- SDN Sumber 3: 9 siswa.

Di kasta terendah dalam daftar tersebut, berdirilah SDN Tegalayu yang berlokasi di Purwosari, Laweyan. Sekolah ini menjadi yang paling sepi di Kota Solo karena hanya berhasil menjaring 5 siswa baru.

Terkikis Beton Pertokoan

Berdiri di Kelurahan Purwosari, SDN Tegalayu kini seperti sebuah oase yang terhimpit. Kepala Sekolah SDN Tegalayu, Sutanto, membeberkan bahwa masalah utama sekolahnya adalah pergeseran demografi akibat tata kota. Kawasan di sekitar sekolah perlahan tapi pasti telah berubah wujud menjadi area pertokoan.

Rumah-rumah warga berkurang, dan secara otomatis berimbas pada jumlah anak usia sekolah di lingkungan tersebut.

"Kalau di sini itu memang daerah pertokoan. Kemudian, kemungkinan anak usia sekolah yang masuk ke sini kan sedikit jumlahnya. Untuk warga-warganya sudah sedikit, tinggal pertokoan semua. Tapi, sebenarnya yang paling utama sih untuk tren usia anak sekolahnya memang menurun," urai Sutanto.

Grafik pendaftar di SDN Tegalayu memang ibarat roller coaster yang fluktuatif. Dua tahun lalu, sekolah ini hanya mendapat 10 siswa. Setahun berikutnya, pada Tahun Ajaran 2025/2026, mereka sempat tersenyum lebar saat jumlah siswa melonjak menjadi 18 anak. Namun tahun ini, senyum itu berganti kecemasan saat angka pendaftar merosot tajam ke titik nadir: hanya 5 siswa baru.

SD N Tegalayu Laweyan Solo

Pintu masuk SD N Tegalayu, Laweyan, Solo, Selasa (14/6/2026). tirto.id/ Romensy Augustino

Strategi Bertahan di Tengah Keterbatasan Dana

Bagi sebuah sekolah, jumlah murid adalah urat nadi pendanaan. Minimnya siswa di SDN Tegalayu berimplikasi langsung pada tipisnya kucuran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) reguler yang mereka terima. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan dan menurunkan kualitas pelayanan, Sutanto dan jajarannya justru memutar otak.

Mereka bergerak gesit mencari sumber pendanaan lain. Berkat prestasi yang berhasil ditorehkan, SDN Tegalayu sukses menyabet dana BOS Kinerja (BOSkin) selama dua tahun berturut-turut. Suntikan dana ini kemudian diperkuat oleh sokongan dana BOS Daerah (BOSda) dari Pemkot Surakarta.

Dengan amunisi finansial alternatif ini, Sutanto optimistis mutu pembelajaran dan bakat siswa justru bisa digenjot lebih maksimal.

"Ya mudah-mudahan kualitasnya lebih bagus lagi. Untuk minat bakat anak itu akan lebih terlihat. Kemudian ending-nya nanti kan bisa membawa sekolahnya lebih maju, lebih banyak muridnya," harap Sutanto.

Berkah Terselubung di Mata Wali Murid

Saat sebagian orang tua mungkin ragu menyekolahkan anaknya di sekolah yang sepi, tidak demikian dengan Citra Anggraini. Baginya, hanya memiliki 5 teman sekelas bagi putranya bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah berkah.

"Saya enggak khawatir sih, malah menganggapnya ya anggap saja kayak bimbel ya, privat. Anaknya juga alhamdulillah bisa menyesuaikan. Yang penting kan anaknya sendiri mau," tutur Citra.

Bagi Citra, keputusan memilih SDN Tegalayu adalah langkah sadar yang penuh pertimbangan. Faktor jarak yang dekat dengan rumah menjadi alasan logis. Selain itu, ia menyukai kesederhanaan kurikulum dan atmosfer sekolah yang tidak menuntut anak dengan beban kegiatan yang terlampau berat di luar jam belajar formal.

Hubungan emosionalnya dengan sekolah ini pun sudah mendalam.

"Pengalaman dari kakak-kakaknya juga di sini semua," tambahnya.

Sebagai saksi hidup dari generasi ke generasi, Citra melihat SDN Tegalayu terus berbenah ke arah positif. Wajah sekolah kini jauh lebih dinamis dengan hadirnya berbagai variasi kegiatan ekstrakurikuler yang menarik minat anak-anak, seperti bola voli hingga BTA (Baca Tulis Al-Qur'an).

Bahkan, sekolah kecil ini sudah mulai menunjukkan taringnya lewat berbagai prestasi di bidang olahraga.

Di akhir obrolan, Citra menyelipkan asa. Ia tentu berharap suatu saat nanti jumlah murid di SDN Tegalayu bisa kembali ramai.

Namun untuk saat ini, di tengah sunyinya ruang kelas yang hanya diisi lima pasang mata, ia hanya menitipkan satu pesan penting kepada pihak sekolah: agar kualitas pengajaran, perhatian guru, serta kurikulum yang diberikan kepada kelima siswa tersebut tetap terjaga secara optimal tanpa terpengaruh oleh sepinya ruang kelas.

Melihat kondisi darurat ini, Dinas Pendidikan Kota Surakarta tidak tinggal diam. Kebijakan pendaftaran secara offline langsung dibuka demi memburu siswa tambahan, baik dari dalam maupun luar kota Solo.

"Intinya kami berikan kesempatan untuk yang offline, terutama untuk yang daya tampungnya masih belum maksimal. Setelah itu ternyata ada penambahan-penambahan," jelas Dwi Ariyatno.

Kendati demikian, Dwi tidak menampik bahwa masa depan sekolah-sekolah yang kekurangan murid ini sedang dipertaruhkan. Sinyal kebijakan penggabungan sekolah atau regrouping kini mulai menyala, menunggu hasil evaluasi total SPMB kelak.

"Ya nanti hasil evaluasi SPMB disampaikan. Kalau zonanya masih memungkinkan untuk digabung, jarak jangkauan lingkungan wilayah itu memungkinkan," tegas Dwi.

Fenomena sedikitnya siswa baru yang diterima SD Negeri tak hanya terjadi di Solo. Beberapa daerah juga mengalami fenomena serupa.

Di Boyolali, tepatnya di SDN Cepokosawit 2 Kecamatan Sawit hanya menerima 1 siswa. Sedangkan, di Kota Semarang, sejumlah SD negeri hanya memperoleh kurang dari 10 pendaftar pada gelombang pertama SPMB sehingga pemerintah membuka pendaftaran lanjutan bagi sekolah yang belum memenuhi kuota.

Potret paling mencolok terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Pendidikan setempat mencatat sebanyak 13 SD negeri dan swasta tidak memperoleh satu pun murid baru.

Di sisi lain 427 sekolah lainnya belum mampu memenuhi kuota penerimaan siswa pada pelaksanaan SPMB hingga Selasa (14/7/2026).

Baca juga artikel terkait TAHUN AJARAN BARU atau tulisan lainnya dari Romensy Augustino

tirto.id - News Plus
Kontributor: Romensy Augustino
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Bayu Septianto