Menuju konten utama

Sekolah Negeri Sepi Peminat, Apa yang Dicari Orang Tua?

Di tengah riuhnya orang tua berebut kelas untuk buah hati mereka, bangku-bangku di sekolah negeri justru sepi peminat.

Sekolah Negeri Sepi Peminat, Apa yang Dicari Orang Tua?
Ilustrasi bangku kosong sekolah. Foto/iStock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Debu tipis mulai hinggap di atas deretan bangku kosong yang kini menjadi pemandangan sunyi di sejumlah sekolah negeri. Di tengah hiruk-pikuk musim penerimaan murid baru, keberadaannya justru sepi peminat. Ruang-ruang kelas yang dulunya menjadi rebutan itu, kini perlahan kehilangan daya pikat.

Fenomena ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas laporan dinas pendidikan. Tapi, sebuah sinyal dari pergeseran hati para orang tua milenial yang kini tengah riuh memburu ruang kelas terbaik demi masa depan buah hatinya.

ANTARA memberitakan, fenomena bangku kosong di sekolah negeri bukan hanya terjadi satu daerah. Dinas Pendidikan Kota Sola mencatat ada delapan SD negeri yang kekurangan murid usai pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.

Pemerintah Kota Solo pun membuka peluang transformasi pendidikan negeri, mulai dari peningkatan kapasitas guru hingga pembenahan fasilitas, guna mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri. Wali Kota Solo, Respati Ardi, bahkan mengajak para orang tua kembali mempercayakan pendidikan anak mereka kepada sekolah negeri.

Situasi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Semarang. Sejumlah SD negeri hanya memperoleh kurang dari 10 pendaftar pada gelombang pertama SPMB.

Dinas Pendidikan Kota Semarang sampai membuka pendaftaran lanjutan bagi sekolah yang belum memenuhi kuota. Salah satu penyebab yang dipetakan pemerintah daerah adalah perubahan pola permukiman.

Banyak keluarga muda berpindah ke kawasan pinggiran kota, sehingga jumlah anak usia sekolah di wilayah pusat kota terus menyusut. Namun, Pemkot Semarang masih menahan opsi penutupan maupun wacana penggabungan (merger) sekolah sambil menunggu arahan pemerintah pusat.

Fenomena serupa juga muncul di jenjang pendidikan menengah atas. SMAN 7 Lubuklinggau di Sumatra Selatan mengalami krisis murid dengan hanya memperoleh belasan peserta didik baru.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan yang lebih luas: mengapa sekolah negeri di sejumlah daerah yang selama ini identik dengan biaya lebih terjangkau jadi pilihan utama masyarakat, kini mulai kehilangan peminat?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak sesederhana anggapan bahwa masyarakat berbondong-bondong beralih ke sekolah swasta. Di sisi lain, sejumlah orang tua mengaku kini semakin selektif memilih sekolah dengan mempertimbangkan kualitas pembelajaran, pembentukan karakter, pendidikan agama, hingga kedekatan komunikasi antara sekolah dan keluarga.

Pergeseran Haluan Orang Tua Milenial

Bagi Ana, warga Magelang yang memiliki dua anak di sekolah swasta, keputusan memilih sekolah tidak semata-mata didasarkan pada status negeri atau swasta. Sejak awal, ia dan suaminya mengarahkan anak-anak mereka ke sekolah berbasis agama karena menganggap pendidikan karakter dan pembiasaan ibadah menjadi kebutuhan penting dalam masa tumbuh kembang anak.

“Kami juga sejak awal concern terkait pondasi agama yang ‘mungkin’ tidak bisa didapatkan di sekolah negeri. Sehingga sejak awal memasukkan anak dari PAUD-SD selalu kami arahkan ke sekolah swasta yang berbasis agama,” kata Ana kepada Tirto, Selasa (7/7/2026).

Menurut Ana, daya tarik sekolah swasta tidak hanya terletak pada pendidikan agama, tetapi juga pada budaya sekolah yang diterapkan sehari-hari. Ia mencontohkan pembiasaan membaca istighfar bagi siswa yang terlambat, murojaah sebelum pembelajaran, hingga salat berjamaah saat adzan berkumandang.

Selain itu, ia menilai sekolah swasta menawarkan program yang lebih beragam. “Sekolah swasta menawarkan kurikulum yang berbeda seperti Cambridge, internasional, dan lain-lain sehingga critical thinking anak lebih terasah daripada metode konvensional yang ditawarkan sekolah negeri,” ujar Ana.

Ia bahkan mengaku mulai melihat fenomena berkurangnya murid di sejumlah sekolah negeri di wilayahnya. Bahkan, menurutnya, ada SD Negeri di Kecamatan Sawangan, Magelang, seperti SD Negeri Butuh dan SD Negeri Jati, yang jumlah siswanya sangat sedikit hingga harus menghadapi wacana merger. Ana menduga, kondisi ini dipengaruhi oleh dua faktor. Di satu sisi, semakin banyak orang tua dari generasi milenial dan Gen Z yang secara ekonomi mampu memilih sekolah swasta. Di sisi lain, ia menduga jumlah anak usia sekolah juga semakin berkurang.

Ada Karakter yang Diburu

Header Diajeng Berpelukan

Ilustrasi sekolah swasta. foto/istockphoto

Pengalaman berbeda dialami Dida Noor, warga Jakarta yang memiliki tiga anak. Dua anaknya masih bersekolah di SD swasta, sedangkan anak sulungnya kini duduk di kelas IX SMP Negeri 19 Jakarta.

Dida mengaku sejak awal memilih sekolah swasta karena latar belakang pendidikannya sendiri. Ia merupakan lulusan sekolah swasta sejak taman kanak-kanak (TK) hingga SMA dan menilai pembentukan karakter lebih banyak diperoleh dari lingkungan pendidikan tersebut.

“Kebetulan saya TK sampai SMA produk sekolah swasta. Jadi know exactly (tahu persis), pendidikan karakter berasal dari mana. Golden age mereka memang saya mau masukan swasta,” kata Dida saat bercerita kepada Tirto.

Keputusan menyekolahkan anak sulungnya ke SMP negeri bukan tanpa pertimbangan. Saat itu, ia melihat anaknya memiliki prestasi yang cukup baik di cabang olahraga basket, sementara sekolah swasta yang menjadi pilihannya belum banyak memiliki pembinaan basket yang kuat.

“Kalau anak pertama saya, pertimbangannya karena dia ikut lumayan bagus prestasinya di basket dan SMP swasta belum banyak yang basketnya kuat di Jakarta. Akhirnya saya putusin di SMP Negeri 19,” ujar Dida.

Namun, setelah anaknya bersekolah di SMP negeri, Dida mengaku menemukan sejumlah perbedaan dibanding pengalaman anak-anaknya di sekolah swasta. Menurutnya, metode pembelajaran di SMP negeri masih cenderung berfokus pada pencatatan dan hafalan.

Ia juga menyoroti kondisi buku pelajaran yang digunakan di sekolah, yakni adanya ketidaklayakan terhadap kualitas buku tersebut. Keadaan yang sangat berbeda dengan buku di sekolah swasta yang masih dalam keadaan baru. Meskipun, para wali murid harus membelinya.

Selain itu, jumlah siswa dalam satu kelas juga menjadi perhatian. Saat di SD swasta tempat anak-anaknya belajar, satu kelas rata-rata diisi 15 hingga 18 siswa. Sementara di SMP negeri, satu angkatan terdiri atas 10 kelas dengan jumlah sekitar 40 siswa per kelas.

“Di SMP swasta komposisinya lebih manusiawi dan mereka lebih taking care anak-anak ini in a person,” tuturnya.

Pengalaman tersebut membuat Dida mantap menentukan pilihan pendidikan bagi anak-anak berikutnya. Dengan demikian, Dida mengaku tetap memilih menyekolahkan anaknya di swasta untuk ke depannya.

Pragmatisme dan Evaluasi di Setiap Jenjang

Ilustrasi Beasiswa Kuliah.

Ilustrasi Beasiswa Kuliah. foto/istockphoto

Berbeda dengan Ana maupun Dida Noor, Amu, seorang ayah yang tinggal di Tangerang Selatan (Tangsel), melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih pragmatis. Bagi Amu, status sekolah bukanlah pertimbangan utama. Yang terpenting adalah apakah sekolah mampu menjawab kebutuhan anak sekaligus sejalan dengan nilai yang dibangun keluarga di rumah.

Ia mengatakan, keluarga selalu mengevaluasi pilihan sekolah di setiap jenjang pendidikan, mulai dari kelompok bermain hingga sekolah menengah. Faktor yang dipertimbangkan pun beragam, mulai dari lokasi, kualitas pembelajaran, hingga kesiapan sekolah mendukung perkembangan anak ke jenjang berikutnya.

“Kualitas = menyamakan goals kita di rumah dan di sekolah, traits apa saja yang ingin dicapai. Metode belajar, kurikulum, cara sekolah atasi masalah-masalah, misalnya bullying dan sebagainya, fasilitas pendukung, dan lain-lain,” kata Amu kepada Tirto.

Amu pun menilai lokasi sekolah turut menjadi pertimbangan penting. Di wilayah tempat tinggalnya, sekolah negeri yang sesuai dengan kriteria keluarga berada cukup jauh, dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit. Oleh itu, pilihan akhirnya jatuh kepada sekolah swasta yang dinilai lebih sesuai, meski membutuhkan biaya lebih besar.

Amu mengakui ekspektasinya terhadap sekolah swasta memang lebih tinggi karena sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

“Betul ekspektasi di swasta lebih tinggi karena biaya yg lebih besar, jadi penting sekali kriteria-kriteria bisa masuk or sejalan dengan kita. Alhamdulillah sekolah-sekolah pilihan kita sudah sesuai dan bahkan exceed our expectations,” ujarnya.

Menurut Amu, orang tua saat ini juga semakin selektif dalam menentukan sekolah bagi anak. Ia menilai fenomena sejumlah sekolah negeri yang kekurangan murid di berbagai daerah tidak lepas dari perubahan cara pandang orang tua dalam memilih layanan pendidikan.

Meski demikian, Amu menegaskan dirinya tidak memandang sekolah negeri lebih rendah dibanding sekolah swasta. Baginya, sekolah negeri tetap menjadi pilihan apabila mampu memenuhi harapan keluarga.

“Buat saya, iya. Misalnya lokasi tinggal saya dekat dengan sekolah negeri unggulan yang sesuai kriteria, saya utamakan itu dibanding swasta,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah terus meningkatkan kualitas sekolah negeri secara lebih merata, tidak hanya di sekolah-sekolah unggulan atau daerah tertentu.

“Yang bisa di improve mungkin kualitas tenaga pengajar yang rata di semua daerah, bukan cuma di tertentu saja kualitas pengajar, sistem, kesejahteraan ekonomi, dan lain-lain,” ucap Amu.

“Mungkin kalau hal-hal tersebut bisa ditingkatkan, bisa jadi pilihan orang tua. Masih banyak juga sekolah negeri yang memang jadi incaran orang tua karena prestasi sekolahnya kan. Nah sekolah yang seperti itu diperbanyak di daerah-daerah lain. Sebagai orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak. Sekolah sebagai tempat belajar selain rumah pasti sangat menentukan,” ujar Amu.

Tidak Lagi Kejar Gratis, Tapi Kualitas

Pengalaman Ana, Dida Noor, dan Amu menunjukkan bahwa biaya bukan lagi satu-satunya pertimbangan dalam memilih sekolah. Pertanyaannya kemudian, apakah perubahan preferensi itu memang sedang terjadi secara lebih luas?

Pengamat Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jejen Musfah, menilai fenomena sejumlah sekolah negeri yang mulai kehilangan murid tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara masyarakat memandang pendidikan. Menurutnya, orang tua kini tidak lagi sekadar mencari sekolah yang gratis, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pendidikan yang diterima anak.

“Masyarakat mulai melihat pendidikan tidak sekedar gratis, namun harus berkualitas. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk anak anak mereka,” kata Jejen kepada Tirto, Selasa.

Ia menjelaskan, sebagian sekolah swasta dinilai mampu menarik minat masyarakat karena menawarkan sejumlah keunggulan. Mulai dari jumlah siswa yang lebih sedikit dalam satu kelas sehingga proses belajar lebih fokus, kurikulum yang memberi ruang bagi pengembangan bakat, hingga pendidikan agama yang lebih intensif.

Dengan demikian, Jejen menilai pemerintah perlu menempatkan sekolah swasta sebagai mitra strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. Di saat yang sama, mutu sekolah negeri juga perlu dibenahi, mulai dari peningkatan kualitas guru hingga perbaikan sarana dan prasarana.

Selain itu, pemerintah didorong merekrut guru ASN sesuai kebutuhan, menetapkan standar gaji minimum bagi guru, serta memperjelas skema pendanaan gaji guru mengingat kemampuan fiskal sejumlah daerah masih terbatas.

“Jangan harap pendidikan maju kalau guru kurang dan gajinya kecil. Perjelas sumber dana gaji guru karena fiskal beberapa daerah tidak sanggup menggaji guru,” tuturnya.

Namun, Pengamat Pendidikan Darmaningtyas mengingatkan fenomena sekolah negeri yang kekurangan murid tidak bisa semata-mata dijelaskan sebagai pergeseran pilihan masyarakat dari sekolah negeri ke sekolah swasta. Menurutnya, persoalan tersebut lebih kompleks dan terutama terjadi pada jenjang sekolah dasar (SD).

Ia menjelaskan, terdapat sedikitnya tiga faktor yang menyebabkan banyak SD negeri kehilangan murid. Pertama, perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia sekolah dasar terus menurun, terutama di wilayah pedesaan.

Faktor kedua, perubahan preferensi sebagian orang tua, khususnya dari kalangan menengah ke atas, yang cenderung memilih sekolah swasta berbasis agama pada jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

“Tapi nanti ketika di SMP, SMA, mereka memilih di negeri,” katanya.

Faktor terakhir adalah regulasi. Darmaningtyas menilai aturan penerimaan murid baru yang mengutamakan usia turut memengaruhi pilihan orang tua. Aturan tersebut membuat sebagian orang tua memilih sekolah swasta agar anak dapat segera bersekolah tanpa harus menunggu usia yang dipersyaratkan.

SD Negeri Kekurangan Murid akan Ditata

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengakui fenomena sekolah dasar (SD) negeri yang kekurangan murid jadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Menurutnya, fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.

“Ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap sedikitnya murid di SD Negeri. Pertama, karena jumlah anak usia sekolah yang terbatas. Kedua, karena mutu pendidikan. Ketiga, jumlah sekolah negeri yang terlampau banyak,” kata Abdul Mu’ti saat dikonfirmasi Tirto, Selasa.

Menurut Mu’ti, Kemendikdasmen saat ini tengah memetakan sekolah-sekolah yang memiliki jumlah murid sangat sedikit sebagai dasar penyusunan kebijakan.

“Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sedang mendata sekolah yang jumlah muridnya kurang dari 60. Di seluruh Indonesia jumlahnya puluhan ribu. Banyak sekolah yang jumlah gurunya lebih banyak dari jumlah murid,” ujarnya.

Hasil pendataan tersebut akan dibahas bersama Kementerian Dalam Negeri serta kementerian terkait lainnya untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan ialah menggabungkan dua atau lebih sekolah negeri yang lokasinya berdekatan. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan model sekolah satu atap maupun multigrade teacher, yakni satu guru mengajar beberapa tingkat kelas sekaligus.

Di sisi lain, Kepala SDN Cimahpar 5, Iim Rohimah, merasakan dampak revitalisasi bangunan sekolah. kehadiran bangunan sekolah yang lebih layak, aman, dan nyaman tidak hanya mendukung proses pembelajaran, tetapi juga dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri.

Iim Rohimah, mengaku revitalisasi sekolah membawa dampak yang langsung dirasakan oleh sekolahnya, termasuk meningkatnya minat masyarakat saat SPMB.

“Alhamdulillah, dampaknya terasa pada minat masyarakat. Saat pelaksanaan SPMB, jumlah pendaftar meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya dalam keterangan resmi Kemendikdasmen.

Ia menuturkan, pada tahun-tahun sebelumnya sekolahnya cenderung sepi peminat pada hari-hari awal pendaftaran. Namun pada tahun ini, antusiasme masyarakat meningkat. Bahkan, sebelum pendaftaran dibuka, banyak orang tua datang untuk mencari informasi dan memastikan anak mereka dapat bersekolah di SDN Cimahpar 5.

Baca juga artikel terkait SEKOLAH NEGERI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - News Plus
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah