Menuju konten utama

Pulau Palue NTT Terisolasi usai Gempa dan Terancam Krisis Pangan

Pulau Palue, Sikka, terisolasi setelah gempa M7,7. Listrik dan seluler lumpuh, akses jalan terputus, sementara pasokan pangan warga mulai menipis.

Pulau Palue NTT Terisolasi usai Gempa dan Terancam Krisis Pangan
Kondisi SDK Nitung yang rusak berat akibat gempa. Foto: istimewa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Warga korban gempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam kelaparan karena pasokan makanan makanan mulai menipis.

Camat Palue, Rudolfus Riba mengatakan, gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah itu, Sabtu (15/8/2026), menyebabkan akses transportasi dan komunikasi ke 7 wilayah desa putus total.

Akibatnya, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh makanan, air minum, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya.

"Seluruh ruas jalan yang menjadi akses masyarakat terputus total. Mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan menjadi sangat terbatas," ujar Rudolfus, saat dihubungi, Senin (17/8/2026).

Ia juga menyebut sejumlah rumah penduduk mengalami kerusakan berat. Pasokan listrik terganggu. Para pengungsi terpaksa harus bertahan di tengah kegelapan.

Rudolfus mengungkapkan, berdasarkan hasil pantauan Minggu (16/8/2026) malam, masyarakat mulai mengalami kekurangan pangan dan kelaparan.

Persediaan makanan semakin menipis. Kondisi ini diperparah karena distribusi bahan makanan dari luar Palue tidak dapat berjalan normal.

"Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah beras, makanan siap saji, air minum, makanan bayi/anak, tenda, terpal, serta kebutuhan dasar kelompok rentan," tandasnya.

Sementara itu, usai meninjau secara langsung kondisi warga Kecamatan Palue yang terdampak gempa, Minggu (16/8/2026), Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago menyebut Kecamatan Palue menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Sabtu (15/8/2026).

Pernyataan itu disampaikan Bupati Juventus setelah meninjau langsung kondisi masyarakat dan kerusakan akibat gempa di Pulau Palue. Dari hasil pemantauan di lapangan, sejumlah fasilitas dan infrastruktur mengalami kerusakan, sementara akses menuju sejumlah wilayah masih terkendala.

“Di sini listrik lumpuh, telekomunikasi lumpuh, akses jalan tertutup longsor, ratusan rumah rusak, puluhan korban luka-luka. Sehingga memang membutuhkan tenda, sembako, obat-obatan dan tenaga medis,” kata Bupati Juventus, Senin (17/8/2026) pagi.

Menurutnya, kondisi terparah ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Nitung, Rokirole, Lidi dan Tuanggeo. Akses menuju sejumlah lokasi terdampak juga menjadi persoalan serius.

Bupati bahkan bersama rombongan harus menempuh perjalanan sekitar empat kilometer dengan kondisi medan yang sulit dan berisiko untuk mencapai wilayah terdampak.

“Kami bermalam di Nitung. Jalan sekitar empat kilometer kami tempuh dengan melawan maut,” ujar Juventus.

Setelah melihat langsung kondisi di lapangan, Juventus mengaku segera berkoordinasi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Gubernur NTT untuk mempercepat penanganan dan pengiriman bantuan ke Palue.

“Saya sudah laporkan kepada Kepala BNPB. Hari ini BNPB akan drop bantuan ke Palue sesuai yang dibutuhkan,” katanya.

Bupati Juventus mengatakan, bantuan yang paling mendesak saat ini meliputi tenda pengungsian, sembako, obat-obatan dan tenaga medis. Selain itu, pembukaan akses jalan menjadi prioritas agar distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan dapat berjalan normal.

“Puji Tuhan, setelah kami datang dan lihat langsung, semua kondisi memprihatinkan dan kami bisa pastikan Palue adalah wilayah yang paling terpapar dengan gempa Sabtu lalu. Kami mohon atensi benar, minimal akses jalan dibuka dulu sehingga akses logistik bisa berjalan dengan normal,” tegasnya.

Dampak Gempa di NTT

Kondisi rumah warga di Pulau Palue yang rusak akibat gempa, Sabtu (15/8/2026). Foto: Mario Sina

Bupati dan Forkopimda Menginap di Palue

Bupati Sikka bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sikka memilih tetap berada di Palue hingga Minggu malam (16/8/2026) untuk memastikan kondisi masyarakat terdampak dapat dipantau secara langsung.

Sekitar pukul 23.30 WITA, Bupati bersama Danlanal Maumere, Wakapolres Sikka dan Kasdim 1603 Sikka melakukan penyisiran ke sejumlah lokasi terdampak gempa.

Rombongan memantau kondisi bangunan yang mengalami kerusakan sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan penguatan moril di tengah kekhawatiran terhadap gempa susulan.

Keterbatasan akses jalan, listrik dan jaringan komunikasi menjadi tantangan utama dalam penanganan bencana di Palue. Kondisi tersebut juga berpotensi menghambat distribusi bantuan ke sejumlah wilayah yang terdampak paling parah.

Bupati Juventus menegaskan pemerintah daerah bersama TNI dan Polri terus berkoordinasi untuk mempercepat penanganan, terutama membuka akses menuju wilayah yang terisolasi dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

Ia juga mengimbau masyarakat Palue untuk tetap tenang dan kuat menghadapi situasi pascagempa.

“Saya menguatkan masyarakat untuk tetap tenang, tetap kuat semua,” ujar Bupati Juventus.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - Flash News
Reporter: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Dipna Videlia Putsanra