Menuju konten utama

Soal Upah Pengupas Bawang, Hasan Nasbi Tekankan Substansi

Hasan Nasbi meminta publik tak terjebak potongan pidato Prabowo soal gaji pengupas bawang Rp700 ribu dan mengajak masyarakat memahami substansi.

Soal Upah Pengupas Bawang, Hasan Nasbi Tekankan Substansi
Hasan Nasbi. youtube/ Sekretariat Presiden
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi meminta masyarakat untuk tidak terjebak pada potongan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang beredar dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Hal itu disampaikannya merespons polemik pernyataan Prabowo mengenai upah mengupas bawang sebesar Rp700 ribu.

Hasan mengatakan, masyarakat seharusnya dapat melihat substansi dan gagasan besar yang disampaikan Presiden dalam pidatonya secara utuh, bukan hanya berfokus pada satu atau dua kalimat yang kemudian menjadi bahan perbincangan di media sosial.

"Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng, saya rasa kita harus belajar untuk tidak terfokus," kata Hasan, kepada awak media saat menghadiri Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT RI Ke-81, di Halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).

Menurut Hasan, fenomena tersebut tidak terlepas dari cara kerja algoritma di media sosial. Algoritma, kata dia, dapat membuat masyarakat lebih mudah terfokus pada potongan informasi tertentu, terutama yang memicu emosi.

"Ya, satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato Presiden. Sebaiknya seperti itu," ujarnya.

Hasan sebelumnya juga menyinggung tantangan masyarakat di era digital dalam memaknai kemerdekaan. Menurut dia, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, masyarakat masih menghadapi tantangan baru, salah satunya adalah pengaruh algoritma terhadap cara berpikir dan emosi.

"Kita kayaknya harus belajar merdeka dari penjajahan algoritma ini," kata Hasan.

Dia menilai saat ini banyak emosi dan pikiran masyarakat yang dapat "disetir" oleh algoritma. Karena itu, diperlukan mekanisme, sistem, dan peradaban yang memungkinkan masyarakat terbebas dari pendiktean algoritma.

"Karena sekarang kebanyakan kita, emosi kita, pikiran kita disetir oleh algoritma. Mungkin kita harus punya sebuah mekanisme, sistem dan peradaban untuk bisa merdeka dari pendiktean oleh algoritma ini," tutupnya.

Baca juga artikel terkait PIDATO PRABOWO atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra