tirto.id - Pemerintah Thailand tengah menangani secara serius penyebaran ikan nila dagu hitam atau Blackchin Tilapia. Spesies ikan invasif ini telah menyebar dengan cepat di perairan Thailand dan berdampak buruk pada usaha budi daya udang dan sektor akuakultur lainnya.
Nila blackchin, yang aslinya berasal dari Afrika Barat, dinilai merusak keanekaragaman hayati dan mengancam mata pencaharian masyarakat. Melihat kondisi tersebut, masyarakat Thailand menggelar unjuk rasa yang menuntut pemerintah untuk bertindak tegas.
Demo ini menuntut agar pemerintah membasmi spesies, memberikan kompensasi kepada petani yang terdampak, serta mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas wabah ini.

Menanggapi krisis lingkungan tersebut, Pengadilan Administrasi Pusat Thailand memutuskan agar Departemen Perikanan segera turun tangan membasmi ikan nila hitam dan bertanggungjawab untuk menghentikan penyebarannya.
Secara umum, kemampuan adaptasi Blackchin Tilapia dan kapasitasnya dapat mengungguli spesies asli maupun spesies yang dibudidayakan. Kawanan ikan dapat memangsa alga dan hewan pemakan plankton secara berlebihan. Padahal keduanya merupakan dasar rantai makanan akuatik yang menjaga ekosistem air tawar.
Mengenal Nila Dagu Hitam, Karakteristik, & Asal-usulnya
Nila dagu hitam atau nama latinnya Blackchin Tilapia merupakan salah satu spesies ikan yang berasal dari Afrika Barat. Di daerah asalnya, keberadaan Nila dagu hitam terbatas pada laguna payau dan estuari, serta melimpah di zona hutan bakau.
Ikan Nila dagu hitam dapat berkembang biak di berbagai wilayah karena habitatnya berada air tawar maupun air payau. Melansir laman resmi fishbase.se, ikan ini banyak hidup di kawasan hutan bakau dan juga menjelajah ke perairan tawar seperti hilir sungai. Tak hanya itu, Nila dagu hitam juga dapat menoleransi kadar garam tinggi. Dalam habitatnya, nila hitam hidup berkelompok dan bersifat nokturnal atau aktif di malam hari.
Spesies ini bisa hidup di perairan dangkal. Secara struktur, nila dagu hitam memiliki panjang kisaran 13-28 cm dengan sirip punggung yang keras. Terdapat bercak tidak beraturan dan asimetris pada sisi tubuh yang kemungkinan merupakan pita vertikal. Di bagian tengkuk, terdapat bercak atau pita melintang yang polanya cukup konsisten.
Sirip punggung memiliki 15–17 duri keras dan 10–12 jari-jari lunak, sirip dubur memiliki 3 duri keras dan 8–10 jari-jari lunak. Adapun panjang batang ekor setara dengan 0,6–0,9 kali tingginya.

Nila dagu hitam memiliki warna tubuh yang pucat dengan variasi corak warna seperti biru muda, oranye, dan kuning keemasan. Ikan ini memiliki mulut kecil yang dilengkapi dengan ratusan gigi halus yang tersusun dalam 3–6 baris, sebagaimana dikutip dari laman Animalia.
Inisiatif dalam perilaku meminang, penggalian lubang, dan aktivitas perkawinan dilakukan oleh ikan betina. Nila blackchin cenderung berkembang pesat di berbagai jenis habitat. Para ilmuwan meyakini bahwa kemampuan ikan Nila dagu hitam untuk berkembang biak dengan cepat dan bertahan dalam kondisi air yang berubah-ubah memungkinkan populasi pulih dengan cepat, bahkan setelah ribuan ekor ikan disingkirkan.
Laporan Bangkok Post pada 23 Maret 2026 menyebut ikan Nila dagu hitam pertama kali didatangkan untuk keperluan penelitian. Grup agribisnis Charoen Pokphand (CP) Foods sebagai pihak importir mengklaim bahwa nila hitam yang berada di Samut Songkhram mati dalam waktu tiga minggu.

CP Foods kemudian memusnahkan ikan menggunakan metode yang disetujui, dengan sampel serta dokumentasi yang dikirimkan ke Departemen Perikanan. Namun, nila hitam kemudian mulai muncul di perairan setempat, dengan laporan pertama tercatat pada tahun 2012.
Sejak saat itu, ikan ini berkembang biak secara masif dan telah menyebar ke setidaknya 19 provinsi. Umumnya tinggal dikanal air tawar, muara, dan perairan pesisir di wilayah tengah dan selatan Thailand.
Kenapa Nila Dagu Hitam Dianggap Ancaman di Thailand?
Bagi masyarakat lokal Thailand, nila dagu hitam dianggap menjadi bencana. Spesies ini memiliki karakteristik fisiologis sebagai spesies invasif yang tangguh. Ikan nila blackchin juga memiliki pola makan omnivora dengan memangsa spesies ikan asli, kerang-kerangan, dan invertebrata lainnya.
Seorang petambak udang bernama Wallop Khunjaen memaparkan bahwa hampir satu juta ekor benur (udang muda) telah lenyap dalam waktu dua bulan. Benur tersebut dimakan oleh nila blackchin yang menyerbu tambak.
"Mereka memakan segalanya. Mereka memakan udang, bahkan kepiting pun mereka makan," ujar Wallop, dikutip dari naturalwonrldfund.org.uk, Jumat (7/8).
Spesies ini juga memicu penurunan populasi ikan dan krustasea asli. Spesies seperti kepiting biola (fiddler crab) menjadi semakin langka. Hadirnya ikan nila blackchin juga menjadi pesaing ikan asli untuk mendapatkan makanan dan habitat, sekaligus mengubah lingkungan perairan.

Keberadaan nila blackchin dikhawatirkan bisa mengganggu ekosistem dasar sungai. Sebab, ikan ini akan membuat tempat untuk bertelur dengan menggali lubang. Pada titik tertentu, aktivitas ini dapat mengganggu Invertebrata yang hidup di dasar perairan.
"Ketika ribuan ikan betina menggali lubang, hal itu akan berdampak pada invertebrata bentik, atau bahkan ikan-ikan yang hidup di dasar perairan tersebut," ujar Thotsapol Chaianunporn, asisten profesor bidang ilmu lingkungan di Universitas Khon Kaen, dikutip dari naturalwonrldfund.org.uk, Jumat (7/8).
Keberadaan zooplankton di dasar perairan juga makin mengkhawatirkan. Sebab, organisme renik ini membantu mengendalikan pertumbuhan alga. Jika jumlah zooplankton menurun, maka dapat memicu ledakan populasi alga yang berbahaya dan menurunkan kualitas air.
Akibat sebaran nila blackchin, para petani budidaya perikanan mengklaim telah kehilangan akses ke sumber daya alam dan pendapatan penting dari bisnis yang hancur akibat penyebaran ikan invasif tersebut.
Situs web News Mongabay menyebut kerugian ekonomi akibat invasi ikan nila hitam adalah sekitar 132 juta Baht ($3,8 juta) pada tahun 2020. Para ahli memperkirakan wabah secara keseluruhan dapat merugikan negara setidaknya 10 miliar Baht ($293 juta).
Dalam hal ini, pemerintah Thailand dinilai lambat mengatasi wabah tersebut. Sebab, tindakan pengendalian baru dilaporkan 13 tahun setelah laporan pertama ditemukannya ikan nila hitam.
Guna mengatasi bencana senyap tersebut, pemerintah setempat per 20 Agustus 2024 yang menetapkan wabah ikan nila hitam sebagai agenda nasional. Berdasarkan laporan nationthailand.com, pemerintah juga telah meluncurkan Rencana Aksi Pengendalian Ikan Nila Hitam (2024–2027), yang terdiri dari tujuh langkah dan 15 kegiatan dengan total anggaran sebesar 450 juta baht. Upaya ini ditargetkan selesai dalam waktu empat tahun.
Pemerintah setempat juga menggelar kampanye penangkapan dan pemusnahan untuk mengurangi populasi ikan nila Blackchin di perairan Thailand. Setelah ditangkap, ikan diolah menjadi kompos hayati, pakan ternak, dan ikan fermentasi.
Selain itu, pemerintah juga melepaskan spesies ikan predator, seperti kakap putih (Asian seabass), untuk memangsa benih ikan nila Blackchin. Sebagaimana diberitakan thaipbsworld.com, masyarakat juga mendapat edukasi untuk memantau jumlah ikan di perairan sekitar tempat tinggal dan cara mencegah penyebarannya.
Dilema Ikan Nila: Hama Bergizi Tinggi
Apabila tidak dikendalikan secara cermat, invasi spesies asing berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya perairan di berbagai negara. Berdasarkan klasifikasi Biosecurity Queensland, ikan nila termasuk kelompok yang dianggap ikan invasif di Australia.
Di Australia, ikan nila (Oreochromis mossambicus and Tilapia mariae) tidak boleh dipelihara, diberi makan, diberikan kepada orang lain, dijual, atau dilepaskan ke lingkungan.
Jika tertangkap, ikan nila harus segera dimusnahkan dengan cara yang manusiawi dan dibuang sesegera mungkin dengan cara menguburnya pada jarak yang memadai dari perairan tempat ikan tersebut ditangkap atau membuangnya ke tempat sampah.
Di Indonesia misalnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan sekitar 50 jenis ikan asing telah tersebar di perairan Indonesia, dengan 18 di antaranya memiliki sifat invasif.

Berdasarkan kajian BRIN yang dimuat dalam Siaran Pers No : 46/SP/HM/BKPUK/IV/2026, perairan tropis Indonesia memiliki suhu relatif stabil sepanjang tahun. Hal ini dapat mempercepat produktivitas tinggi kolonisasi spesies asing.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa perlu dilakukan intervensi yang terencana dan berkelanjutan dalam menangani invasi spesies asing.
“Ini bukan sekadar isu keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut ketahanan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perairan,” sebut Triyanto.
Di sisi lain, spesies asing seperti ikan mas, mujair, nila, dan lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah dimanfaatkan secara luas di Indonesia. Sebab itu, diperlukan pengelolaan yang tepat agar dapat memaksimalkan manfaat tanpa mengabaikan risiko ekologis.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































